
Wow!
Satu kata itu keluar dari lisan Yuna begitu ia memasuki Mansion yang belum ia ketahui siapa pemiliknya. Tatapannya menerawang kesegala arah, dan mendapati tempat yang ia datangi saat ini sebagai tempat terbaik yang pernah ia lihat selama tinggal di Thailand,
Satu bulan?
Satu bulan telah berlalu sejak Yuna memutuskan untuk menetap di Negeri Gajah Putih, mengikuti suaminya yang sebelumnya ia kenal sebagai seorang Profesor, kejutan demi kejutan besar Yuna ketahui sehari setelah ia menginjakkan kakinya di Thailand, Ia mengetahui suaminya itu seorang pengusaha ternama dengan kekayaan fantastis.
Suatu hari, Yuna pernah bertanya kenapa Zain tidak pernah menceritakan tentang keluarganya yang memiliki pengaruh besar. Pria tampan dengan iris biru itu hanya menjawab, 'Tidak ada yang perlu di banggakan. Dan di lain waktu, Yuna juga pernah bertanya kenapa Zain menjadi seorang Profesor saat pria itu berada di Indonesia. Lagi-lagi Yuna hanya mendengar jawaban yang membuatnya tercengang. Pria tampan yang berstatus sebagai suaminya itu hanya menjawab, 'Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Dosen. Jawabannya memang terdengar konyol, karena itulah Yuna tidak pernah bertanya apa pun lagi selama hal itu tidak terlalu mendesak.
"Wow. Tempat ini sangat indah?"
"Kalau boleh tahu, ini Mansion siapa?"
__ADS_1
"Apa pemilik tempat ini akan memarahi kita yang masuk tanpa izin?"
"Ayo, kita harus pergi sebelum pemilik tempat ini datang!" Yuna meraih pergelangan tangan Zain dan mencoba menariknya untuk keluar.
Zain yang di tarik tidak bergerak walau seinchi sekuat apa pun Yuna menariknya. Justru sebaliknya, Yuna lah yang di tarik hingga tubuh ramping itu membentur dada bidang Zain cukup keras. Zain tersenyum, ia merasa bahagia bisa sedekat ini dengan wanitanya. Hanya ia sendiri yang tahu betapa bahagia hatinya, bahkan sapuan hangat nafas seorang Yuna Dinata di wajah tampannya terasa sangat mendebarkan.
"A-apa yang kau lakukan?"
"Kita harus pergi!" Ujar Yuna dengan gugup. Sorot mata Zain yang menatapnya dengan tatapan cinta membuat hati Yuna menghangat.
"Tidak ada yang akan berani memarahi kita."
"Tidak ada yang akan melihat kita."
__ADS_1
"Dan tidak ada yang akan datang ketempat ini!"
"Mulai hari ini kita akan tinggal di sini." Ujar Zain tanpa beban. Ia memberikan kabar besar hanya dalam satu tarikan nafas.
"What?" Yuna bertanya dengan kening berkerut. Bukannya senang, ia malah terlihat kesal, padahal yang Zain lakukan hanya berusaha memberikannya kejutan.
Bukankah setiap wanita sangat suka saat pasangannya menempatkannya di rumah megah? Iya, itu mungkin saja, namun tidak dengan Yuna. Kali ini ia tidak setuju dengan suaminya itu. Bagaimana tidak? Dalam sebulan, mereka pindah rumah sudah tiga kali. Pertama di rumah Mommy, kedua di apartemen, dan sekarang disini. Di Mansion megah yang luas di dalamnya bisa di gunakan untuk bersepada.
"Aku merasa seperti seorang tamu, kau selalu saja mengajak ku tinggal di tempat berbeda. Apa aku memiliki arti dalam hidupmu? Aku juga tidak tahu apa pun tentang dirimu. Lalu, pada siapa aku akan mengeluh?" Yuna meluapkan beban di hatinya, beban yang ia simpan sejak Zain mengajaknya pindah ke-apartemen.
"Terlanjur. Aku terlanjur mengikat janji dengan Mu. Dan aku sendiri tidak tahu sampai kapan aku sanggup memegang janjiku untuk selalu bersamamu. Semakin hari aku semakin tidak memahami jalan pikiranmu." Celoteh Yuna dengan suara lirih, rasanya ia ingin meneteskan air mata, namun ia tidak ingin terlihat lemah. Sejatinya, berpura-pura kuat saat sedang rapuh benar-benar melelahkan.
...***...
__ADS_1