
"Aku tinggal bersama dengan suami ku!" Yuna menegaskan dengan wajah serius.
"Puh! Puh! Panas!" Aroon menyemburkan kopi yang memenuhi mulutnya. Ia terlalu terkejut sampai tidak menyadari lidahnya terbakar.
"Apa Bos baik-baik saja?" Alex menyodorkan tisu pada Aroon dengan wajah menahan kepanikan. Hal yang sama juga berlaku bagi Yuna, ia panik melihat Aroon kepanasan sambil mengipas lidah dengan tangan. Karisma seorang Aroon Maurer akhirnya luntur juga.
"Apa anda baik-baik saja?" Yuna bertanya, ia menyodorkan segelas air.
Tadinya Aroon ingin memaki Alex karena tidak memberi tahukan kopinya masih panas. Aroon yang bodoh, siapa yang ingin ia maki? Jelas-jelas semua ini karena kecerobohannya sendiri, dan ia pantas mendapatkannya. Atasan memang selalu merasa benar, dan itu memang kebenaran yang pahit. Untung saja Yuna masih ada di depannya sehingga amarah itu masih bisa di kendalikan.
"Ma-maaf. Ahh, iya." Jawab Aroon gugup. Ia menerima air dari tangan Yuna kemudian menenggaknya hingga tandas.
__ADS_1
"Lain kali anda harus berhati-hati. Minum kopi bisa saja jadi masalah besar, tapi untungnya itu tidak terjadi." Yuna berusaha mengingatkan. Walau belum tentu di terima bekerja di perusahaan Maurer group, setidaknya sebagai seorang Manusia sudah semestinya ia saling mengingatkan.
"Iya, terima kasih." Ujar Aroon untuk kesekian kalinya. Mencoba meyakinkan Yuna kalau dirinya baik-baik saja.
Kecewa!
Satu kata itu kini memenuhi rongga dada seorang Aroon Maurer. Bagaimana tidak? Untuk pertama kalinya ia memikirkan seorang wanita selama dua pekan lamanya, berharap wanita itu akan menjadi pelabuhan terakhir hatinya. Dan lihatkah kenyataannya, Aroon bahkan tidak bisa mendekat karena jaraknya terlalu jauh dari wanita incarannya. Menikah? Bisanya Aroon membenci kata itu. Kini ia semakin membenci satu kata itu karena ia ingin protes pada Tuhan, kenapa bukan dia saja yang menikahi wanita yang ada di depannya saat ini, Yuna Dinata.
Wah... Ini masalah besar! Sepertinya Bos menyukai Nona Yuna. Sayang sekali, kisahnya berakhir sebelum kisah itu di mulai! Aku dalam masalah besar! Aku harus kabur!" Gumam Alex di dalam hatinya. Ia mudur dua langkah. Mundur perlahan, kemudian keluar dari kantor Aroon tanpa berucap sepatah kata pun. Alex sengaja membiarkan pintu kantor Aroon terbuka setengahnya, jika ada masalah, Yuna bisa berlari meminta pertolongan padanya yang kantornya berada di samping kantor Aroon.
"Ku tebak, Nona Yuna berasal dari keluarga berada. Lalu, untuk apa Nona Yuna bekerja? Jika wanita lain, dia pasti lebih senang duduk di rumah dan menghabiskan uang suaminya." Cicit Aroon berusaha menyamarkan perihnya cinta yang gagal sebelum berkembang.
__ADS_1
"Aku yakin Nona Yuna desainer yang handal, dan aku juga yakin suami Nona Yuna tidak akan setuju jika Nona Yuna bekerja di sini." Sambung Aroon dengan nada suara datar. Ingin hatinya untuk terus menatap Yuna, namun mau bagaimana lagi, ia sudah kalah sebelum berperang dan tidak ada pilihan lain untuknya selain melepaskan.
"Iya, Tuan Aroon benar. Dia memang tidak memberikan izinnya untuk ku. Hanya saja, aku ingin memulai karir ku di tempat ini."
"Apa suami Nona Yuna berasal dari kota ini?"
Yuna mengangguk, menjawab pertanyaan Aroon tanpa melepas senyuman tipis dari wajah cantiknya.
"Sahabat Ku juga. Maksudku, dia menikah dengan gadis Indonesia. Sayangnya, hingga saat ini aku masih belum bisa bertemu dengan istrinya. Aku berharap, saat hari itu tiba Nona Yuna ada bersama ku sehingga aku bisa mengenalkan kalian berdua." Ucap Aroon penuh penekanan.
...***...
__ADS_1