Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (84)


__ADS_3

Langit semakin gelap, seolah mengekspresikan hati Zain De Lucca malam ini. Tadinya, ia ingin memberikan kejutan untuk wanitanya, Yuna Dinata. Namun lihat lah sekarang, ia sendiri yang terkejut, dunianya terasa runtuh, impian yang ia bangun musnah dalam hitungan bulan. Bagaimana tidak, berita yang ia dapatkan sesaat setelah ia tiba di mansion Lucca menghancurkan ketenangannya, ia bahkan duduk dalam kegelapan dengan air mata berlinang.


Tidak ada cahaya di mansion Lucca, sama seperti Zain yang berpikir sinar harapan dalam hubungannya dengan wanita yang sangat ia cintai, Yuna Dinata telah meredup untuk selamanya, begitu mudahnya ia meyakini berita yang melemahkan keyakinannya. Padahal dalam hubungan cinta di butuhkan kepercayaan sebagai dasarnya, kepercayaan yang mencerminkan cinta luar biasa.


"Aku mencintai mu Zain, sangat mencintaimu. Apa kau tidak bisa melihat betapa besar cinta yang ku miliki untuk mu?" Ploy bertanya sambil memeluk Zain, pelukan itu sangat erat sampai-sampai Zain tidak bisa melepaskan diri dari Ploy Nan, sosok anggun yang menjadi teman baiknya sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar.


"Ploy. You are my best friend." Zain melepas pelukan Ploy secara paksa, membuat gadis itu merasa seperti barang yang tak di butuhkan. Ploy kecewa, sangat kecewa sampai membuatnya ingin menghancurkan Yuna Dinata yang menjadi sumber masalahnya. Ternyata cinta tidak semudah itu untuknya, semuanya semakin rumit setelah Zain memilih wanita lain selain dirinya.


"Aku tidak mau menjadi sahabatmu, aku hanya ingin menjadi wanita mu. Apa kau tidak melihat ku? Apa bagusnya wanita itu di bandingkan dengan diriku?" Ploy meraih jemari Zain, ia menggenggam jemari Zain sangat erat, berharap pria itu akan menatapnya dengan tatapan cinta walau hanya untuk sekejab saja. Ia ingin memiliki Zain seutuhnya.


"Hentikan Ploy, hentikan. Apa kau hilang akal? Aku pria yang sudah menikah. Sampai kapan pun kau akan selalu menjadi teman ku, tinggalkan aku sendiri dan jangan pernah katakan itu lagi. Untuk sekarang, aku akan melupakan segalanya." Ucap Zain dengan suara datar, ia berbalik, kemudian berjalan menuju tangga.


"Apa yang kau pikirkan? Apa kau pikir aku akan menyerah begitu saja? Tidak. Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan pernah kalah dari wanita murahan itu."


Deg!

__ADS_1


Zain menghentikan langkah kakinya, teriakan Ploy memancing emosinya. Murahan! Satu kata itu terus bergema di indra pendengarannya, bagaimana tidak? Ploy, wanita itu telah menghina wanita yang paling ia cintai di dunia, Yuna Dinata.


"Enough is enough." Zain mendekati Ploy Nan, mencengkram lengan wanita itu cukup kuat, saat ini ia di penuhi amarah. Seandainya Ploy menghinanya, Zain tidak akan semarah ini. Namun Ploy menghina wanitanya dan hal itu mulai memantik emosinya.


"Kau teman ku, dan aku tidak memberimu izin untuk menghina istriku. Aku tidak akan segan-segan untuk mematahkan lengan mu walau kau seorang wanita. Yuna ku sebening embun di pagi hari, cintanya semanis madu, sikapnya selembut sutra, dan caranya memperlakukanku tidak akan ada yang bisa menyamainya.


Kau memanggilnya apa tadi? Ahh, iya. Murahan! Yuna ku tidak seperti itu!" Zain berteriak tepat di depan wajah Ploy Nan, wanita itu ketakutan, untuk pertama kali dalam hidupnya ia melihat kemaran Zain.


"Enyah dari hadapanku, dan jangan pernah tunjukkan wajah ini lagi. Bahkan jika kita berpapasan, jangan pernah menegur ku. Apa kau paham?" Zain berucap masih dalam kemarahan. Ia melepaskan lengan Ploy, wanita itu terlihat pucat, sepertinya ia sangat terkejut, sikap Zain yang berubah seratus delapan puluh derjat membuatnya shock.


"Apa bagusnya wanita itu? Dia bahkan hamil anak pria lain!" Ploy yang terlanjur putus asa melakukan usaha terakhirnya. Ia bicara dengan lembut, namun bagi Zain, ucapannya terasa bagai petir yang menyambar jiwa pria pemilik iris biru itu.


Ha-hamil. Bagaimana bisa? Aku tidak pernah melakukan apa pun! Zain bergumam di dalam hatinya, mengingat perdebatannya dengan Ploy lima jam yang lalu membuat amarahnya tak bisa di kontrol.


Lima jam berlalu namun Zain masih betah duduk dalam kegelapan, ucapan Ploy masih mempengaruhinya. Bagaimana tidak, mengetahui Yuna hamil membuatnya panas dingin, ia menderita dan ingin segera bertemu dengan wanitanya, meminta penjelasan menjadi salah satu tujuannya.

__ADS_1


"Zain, kau sudah pulang? Di mana semua orang, kenapa lampunya tidak menyala!" Yuna berucap sambil berjalan pelan, ia berpegangan pada dinding.


Akhirnya yang Zain tunggu tiba juga, setengah dari ketakutannya seolah menguap ke angkasa.


"Aku di sini." Balas Zain, dan di detik selanjutnya lampu pun menyala. Tanpa berucap sepatah kata, Yuna berhambur ke dalam pelukan Zain De Lucca untuk mengekspresikan bahagianya.


"Apa kau bahagia?" Zain bertanya, namun hatinya sangat sakit.


"Sangat! Aku sangat bahagia sampai tidak bisa berkata-kata. Bahkan jika aku tiada saat ini juga, sungguh, aku tidak akan menyesalinya. Karena Tuhan telah mendengar doa-doa ku." Ucap Yuna dengan suara pelan, ia mengeratkan pelukannya berharap Zain tidak akan pernah jauh darinya walau untuk sekejap mata.


"Aku punya berita baik untuk mu, kau akan bahagia. Dan setelah ini rumah tangga kita akan selalu di penuhi dengan ke bahagiaan." Yuna menatap netra Zain, netra biru itu memerah, ia menyadari Zain-nya sedang marah.


"Apa menurutmu aku bahagia mendengar berita kehamilan mu? Aku tidak bisa." Zain mencengkram kedua lengan Yuna, ucapannya penuh dengan penekanan, ia marah, sangat marah sampai ingin menghancutkan semua hal yang ada di dekatnya. Untuk pertama kali dalam hidup ini Zain merasa di hianati, ia murka.


...***...

__ADS_1


__ADS_2