Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 31


__ADS_3

"Wah, aku sangat kesal."


"Aku bilang aku ingin bekerja dia malah meninggalkan ku sendirian."


"Aku merasa di abaikan."


"Apa pun yang terjadi, aku tetap akan bekerja. Titik." Ucap Yuna sembari menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah. Ia menyandarkan kepala di sandaran sofa tanpa melepas tatapannya dari pintu kamar Zain yang berada di lantai dua. Dalam hati, Yuna berharap Zain akan keluar dan memberikan keputusan adil untuk dirinya yang merasakan kesepian, kesepian mendalam karena tidak ingin berada di rumah sendirian.


"Cihhh!" Yuna berdecih sembari mengepakkan kaki seperti anak yang tidak di turuti keinginannya.


"Arrggg!" Lagi-lagi Yuna mengeluarkan kekesalannya sembari menutup wajahnya dengan bantal kecil. Rasanya ia ingin menangis, sepertinya menangis akan membuatnya merasa tenang. Dan tanpa ia sadari sosok rupawan itu menatapnya dengan tatapan heran.


"Apa yang kau lakukan?"


"Kapan kau keluar?" Bukannya menjawab pertanyaan, Yuna malah balas bertanya tanpa menghiraukan Zain yang terlihat kebingungan.


"Aku bertanya apa yang kau lakukan?" Zain kembali mengulangi pertanyaan yang sama, berharap Yuna menjawab pertanyaannya dengan jawaban meyakinkan.


"A-aku... Aku hanya..."

__ADS_1


"Hanya apa?" Zain kembali bertanya, namun sambil menyodorkan tangannya pada Yuna. Berusaha membantu wanita itu untuk bangun agar ia bisa duduk di sebelahnya.


"Aku tidak suka penolakan."


"Maksudku, walau kau melarang, aku akan tetap bekerja. Mulai besok aku akan mengajukan lamaran pekerjaan pada beberapa perusahaan sehingga aku bisa segera memulai karir ku." Cicit Yuna sembari bangun dari sofa, berdiri menghadap Zain yang masih terlihat sedikit kesal.


Huh!


Zain membuang nafas kasar, ia duduk di sofa kemudian di susul oleh Yuna yang duduk di samping kirinya.


"Aku sudah memikirkannya!"


"Aku mengizinkan mu bekerja. Dengan satu syarat..." Zain menggantung kalimatnya, ia menatap Yuna dengan tatapan tak terbaca. Antara setuju dan tidak.


"Katakan apa syarat-nya! Aku sudah tidak sabar." Celoteh Yuna tak sabaran, ia memperbaiki posisi duduknya, meletakkan bantal kecil di pangkuannya.


"Jika kau ingin bekerja, kau harus menjadi Asisten pribadi ku." Ujar Zain tanpa ragu-ragu.


"What?"

__ADS_1


"Are you kidding Me?"


"Aku tidak mau!" Ketus Yuna, ia berdiri dari sofa, balas menatap Zain dengan wajah cemberutnya.


"Aku tidak bisa bekerja di bawah Mu! Aku bisa mencarinya di tempat berbeda. Kau tahu sendiri, kan? Aku seorang Desainer, aku ingin tangan ku menghasilkan keajaiban-keajaiban baru di tempat ini."


Zain tampak terdiam, ia mencerna ucapan Yuna dengan kepala tertunduk. Iya, Yuna-nya seorang Desainer, kebahagiaan Yuna-nya ada di saat wanita itu berkutik dengan kain, jarum dan benang. Rasanya terlalu egois jika ia sampai mencuri impian indah itu hanya karena egonya yang tidak ingin Yuna-nya di tatap oleh pria lain di luaran sana.


"Baiklah. Aku mengizinkan mu bekerja di tempat lain, tapi dengan satu syarat..." Lagi-lagi Zain ingin mengajukan syarat. Syarat yang akan membuat Yuna menyerah dalam hitungan detik, menit atau pun jam.


"Baiklah. Aku terima. Sekarang katakan, apa syarat-nya? Jangan berat-berat. Maksud ku, syaratnya jangan sampai merugikan ku." Yuna berusaha mengingatkan, atau tepatnya meminta kelonggaran.


"Aku memberimu waktu satu hari."


"Maksud-nya?" Yuna bertanya karena ia tidak mengerti dengan ucapan suami tampannya.


"Aku memberimu waktu satu hari untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang kau inginkan. Jika dalam satu hari kau tidak bisa mendapatkan pekerjaan itu, maka maafkan aku, kau tidak punya pilihan lain selain menjadi asisten pribadi ku." Setelah mengatakan apa yang dia inginkan, Zain langsung bangun dari sofa, menyembunyikan senyuman bahagianya.


Iya, Zain bahagia. Sangat bahagia karena dia yakin Yuna tidak akan mendapatkan pekerjaan lain dalam waktu satu hari. Membayangkan Yuna menjadi Asisten pribadinya membuat Zain ingin tertawa lepas, namun sebisa mungkin ia mengendalikan dirinya agar tidak terlihat seperti orang bodoh di depan Yuna Dinata, gadis cantik, periang dan juga cerdas miliknya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2