
Malam semakin larut namun tak ada tanda-tanda Zain akan meninggalkan kantornya. Ia terlalu hancur sampai tidak bisa mengendalikan dirinya.
Yuna... Kau ada di mana, sayang. Aku merindukan mu. Sangat merindukan mu sampai aku pikir aku akan tiada. Pulanglah, sayang. Batin Zain dengan lelehan air mata.
Sungguh, ia sangat mencintai istrinya. Ia sangat merindukan Yuna-nya. Detektif yang ia sewa benar-benar tidak berguna. Tak ada kabar dari Yuna seolah wanita itu di telan bumi. Kemana lagi Zain akan mencari Yuna-nya? Ia tidak bisa berpikir, ia terlalu takut kehilangan. Jauh dari wanitanya membuat Zain tak berdaya, ia bernafas namun seolah tiada.
Ceklek!
Pintu di buka dari luar, membuat Zain mengangkat kepalanya. Ia merasa kesal seolah seseorang sedang melempar wajahnya dengan sandal.
"Tinggalkan aku sendiri, Ben."
"Aku tidak ingin di ganggu." Zain berucap dengan nada suara datar. Kepalanya kembali tertunduk, ia duduk dalam kegelapan sehingga tidak tahu siapa yang datang. Sejak Ploy meninggalkannya sendirian, Zain mulai mengurung diri, hidupnya sudah gelap tanpa kehadiran Yuna, jadi lampu yang tidak di nyalakan bukan masalah besar.
"Aku bilang tinggalkan aku sendiri!" Zain berteriak mengetahui sosok yang ia ajak bicara mengabaikan ucapannya.
"Apa kau tuli, Ben?"
"Bukan Ben, tapi Aroon." Balas Aroon dengan santai.
"Apa kau tidak melihat wajahmu di cermin? Kau terlihat menyedihkan. Untuk pertama kali dalam hidup ini aku malu mengakuimu sebagai sahabatku." Ucap Aroon serius.
Aroon menyalakan lampu. Netranya membulat sempurna menyaksikan kantor Zain terlihat seperti tumpukan sampah. Aroon kembali terkejut saat melihat penampilan berantakan Zain De Lucca, pria yang biasanya terlihat selalu rapi dan menyukai kebersihan itu terlihat seperti gembel, bahkan lebih buruk dari itu. Bulu-bulu halus yang tumbuh di wajah tampan Zain membuat penampilan pria pemilik iris biru itu semakin buruk.
"Hhm." Aroon menghela nafas kasar. Menandakan ia merasa asing dengan sosok yang duduk di lantai.
"Apa kau sungguh Zain yang ku kenal?"
"Ada apa dengan mu?"
__ADS_1
"Kau terlihat buruk, sangat buruk sampai aku tidak bisa mengenalimu!" Aroon mulai mencecar Zain dengan ucapan menyebalkannya. Ia tahu Zain tidak akan mendengarkan ucapannya, karena itu ia ingin menghajar pria di depannya dengan tinju kerasnya.
"Kau masih punya kesempatan untuk meminta maaf pada nona Yuna, jadi tidak perlu bertingkah seolah kau yang paling menderita."
"Dari pada merusak barang, atau menakuti orang, sebaiknya kau mengerahkan semua tenaga untuk kembali mencari nona Yuna!" Celoteh Aroon dengan raut wajah menahan kesal. Ia mendorong beberapa barang yang ada di lantai dengan tangan kirinya kemudian ia duduk di samping kanan Zain.
"Ploy menemuiku dan mengatakan segalanya, aku tidak mengerti dengan kalian berdua."
"Jangan sebut nama wanita itu di depanku. Darahku terasa mendidih saat memikirkannya." Zain menegaskan, ia mengangkat kepala dan menatap Aroon dengan sorot tak terbaca.
"Ok, fine. Aku tidak akan mengatakan apa pun jika kau tidak menginginkannya. Tapi, kau harus mendengarku, semua ini murni bukan kesalahan Ploy saja. Kau juga ikut andil di dalamnya." Celoteh Aroon tanpa beban. Ia tidak takut jika Zain sampai memutuskan persahabatan dengannya. Yang Aroon tahu, ia harus meluruskan sumber masalahnya hingga semuanya bisa terkendali seperti sebelumnya.
"Bukankah aku pernah mengatakan padamu kalau Ploy menyukaimu? Kenapa kau tidak mau mendengarku dan memberikan wanita itu kesempatan untuk berkeliaran di dekatmu? Gara-gara kecerobohan mu Ploy sampai memiliki kesempatan untuk mendepak istrimu. Kasihan nona Yuna." Celoteh Aroon dengan kesedihan mendalam. Pria itu terlihat sedih seolah ia sendiri yang mengalami peristiwa besar itu.
"Tolong, jangan salahkan aku." Zain berucap dengan nada suara nyaris tak terdengar. Ia terlalu sedih sampai tidak bisa mengangkat kepalanya.
"Meragukan Yuna adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Apa yang akan kau dapatkan dengan menyalahkan ku lagi? Jadi, aku mohon, jangan katakan apa-apa lagi, semua ini terlalu menyakitkan untuk ku yang di penuhi dengan penyesalan." Zain berdiri, ia membelakangi Aroon yang saat ini menyalahkannya.
Cukup lama Zain terdiam, ia terlalu menyedihkan. Tidak ada yang bisa menghilangkan kesedihan hatinya sebelum ia berjumpa dengan wanitanya, Yuna Dinata.
"Apa kau benar-benar menyesal?" Aroon bertanya dengan nada suara datar. Tanpa bertanya pun Aroon tahu jawabannya, hanya saja ia ingin mendengar langsung dari bibir Zain.
"Untuk apa bertanya jika kau tahu jawabannya." Jawab Zain tanpa menghiraukan Aroon yang terus saja menatapnya dengan tatapan tajam.
"Nona Yuna, aku tahu dia ada di mana!"
Zain menelan saliva, netranya membulat sempurna. Ia tidak percaya dengan berita yang barusan di dengarnya. Setelah sekian hari terlewatkan dengan kesedihan akhirnya ia bisa mendengar berita bahagia, seharusnya Zain memeluk Aroon dan berterima kasih padanya, namun kali ini berbeda, pria pemilik iris biru itu justru mengepalkan tinjunya, dan di detik selanjutnya.
Gdebuk.
__ADS_1
Zain melayangkan tinjunya di wajah tampan Aroon. Pria itu tersungkur. Belum puas, Zain kembali mengarahkan tinjunya. Namun kali ini berbeda, Aroon mendapat kesempatan untuk membalasnya. Ia memukul Zain di bagian perut kemudian berakhir di wajah tampan pria itu.
Lima menit berlalu di habiskan untuk mengadu otot antara Zain dan Aroon, sekarang kedua makhluk indah itu sedang terlentang sembari menatap langit-langit kantor Zain. Mereka sama-sama terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.
"Di mana istriku?" Zain mulai membuka suara di antara senyapnya udara. Kantornya yang berantakan membuatnya merasa tidak tahan berlama-lama. Ia ingin segera menemui Yuna.
"Dia ada di villa yang kita kunjungi tahun lalu." Jawab Aroon pelan, deru nafasnya menandakan ia sedikit kelelahan berduel dengan Zain.
Tanpa berpikir panjang, Zain langsung mengambil kunci mobil di atas meja kerjanya, kemudian meninggalkan Aroon sendirian dengan wajah lebam.
"Hay kau mau kemana?"
"Kau tidak boleh meninggalkan ku, jika kau pergi aku bersama siapa?" Aroon berucap dengan nada suara tinggi, Zain hanya menanggapinya dengan melambaikan tangan tak perduli.
"Dua puluh delapan tahun aku hidup di dunia, untuk pertama kalinya aku merasa menyedihkan menjadi seorang jomblo." Ucap Aroon lirih, ia menatap punggung Zain yang semakin menjauh darinya.
...***...
Sembari menunggu Update kisah Zain De Lucca dan Yuna Dinata. Jangan lupa Mampir di karya author ini yaaa...
Salam ramadan...
Cansu adalah gadis periang yang penuh dengan energi positif, profesi yang ia geluti membawanya pada seorang pria dingin yang bahkan tidak ingin menatapnya. Akan seperti apa kisah mereka setelah menghabiskan banyak waktu bersama? Akankah mereka di persatukan dalam cinta? Atau justru sebaliknya, Cansu akan kembali pada masa lalunya? Temukan Jawabannya dalam Novel yang berjudul Cansu.
Dukung karya ini dengan cara, like, komen, Vote, hadiah dan koinnya.
Selamat mebaca. Follow IG Author: @Hasma_Mahmud
__ADS_1