Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Kesalahan?


__ADS_3

Kamar yang Zain dan Yuna tempati semakin memanas, dua makhluk indah itu saling memberi dan menerima. Yuna menerima semua perlakuan Zain pada tubuhnya. Dia sudah memasrahkan segalanya. Apapun yang terjadi di masa mendatang dia akan menerimanya tanpa keluhan.


Sungguh, Zain tidak mengingat apapun. Ia masih sibuk menyusuri setiap inchi tubuh Yuna dengan bibirnya. Bahkan setiap sapuan lidahnya pada tubuh ramping istrinya ia artikan sebagai seni.


Bagai di sambar petir di siang bolong, tiba-tiba tubuh Zain melemas. Akhirnya setelah sekian menit berlalu, ia kembali pada akal sehatnya, ia menatap wajah cantik Yuna dengan deraian air mata. Dari ujung kaki hingga ujung rambut ia benar-benar di penuhi oleh penyesalan.


Tubuh mereka masih terbalut selimut, Yuna yang menyadari tidak ada pergerakan apapun dari Zain mulai membuka mata secara perlahan.

__ADS_1


"Kenapa berhenti?" Yuna bertanya dengan hati-hati, netra Zain yang tadinya tertutup oleh kabut gairah kini di penuhi oleh penyesalan.


"Apapun yang akan kau lakukan pada tubuhku, aku tidak akan mengeluh, apalagi sampai menyalahkanmu. Mata ini, hidung ini, bibir ini dan semua yang ada dalam dirimu adalah milikku." Ucap Yuna sambil menyentuh mata, hidung dan bibir Zain. Air mata Zain kembali menetes, ia terharu. Rasanya ia ingin melanjutkan aktivitas panasnya, namun ia sadar dengan apa yang ia bawa di dalam tubuhnya. Zain yang sempat merunduk kembali menatap wajah cantik Yuna, bibir itu mengukir senyuman menawan. Saat Zain akan beranjak untuk meninggalkan tubuh seksi istrinya yang belum sempat ia masuki, dengan kuat Yuna menahan tubuh Zain hingga tubuh kekar itu terjatuh membentur dadanya.


"Begitupun sebaliknya, semua yang ada dalam diriku adalah milikmu. Lakukan apa pun yang kau inginkan, jika kita tiada kita akan tiada bersama." Cicit Yuna tanpa penyesalan. Entah sebesar apa cinta di hatinya sampai ia begitu pasrah.


Berteriak?

__ADS_1


"Aku tahu apa yang kau rasakan, aku tidak akan mengatakan apapun di depanmu. Justru aku bangga padamu, walau kau berada di puncak syahwatmu, kau masih bisa menahan diri untuk itu. Kenapa? Dan aku sangat mengetahui jawabannya, cinta. Kau sangat mencintaiku hingga kau tidak ingin merusak hari depanku." Ujar Yuna sembari bangun dari ranjang, ia kembali memakai bajunya kemudian bersiap untuk pergi kedapur. Ia harus menyiapkan makan malam spesial di malam terakhir kakak dan kakak iparnya.


Sementara itu di kamar mandi, Zain duduk terpaku di bawah guyuran air. Sekujur tubuhnya bergetar. Ia menyesal, sangat menyesal. Bahkan berkali-kali ia sampai memukul dinding, tangannya berdarah dan ia merasakan perih. Namun hal itu sama sekali tak membuatnya kesakitan, perasaan benci pada dirinya sendiri karena hampir menularkan penyakitnya pada Yuna membuatnya hilang akal.


"Berani sekali kau melakukan itu padanya. Beraninya dirimu!" Zain meneriaki dirinya sendiri di bawah guyuran air yang masih mengalir deras.


"Bahkan jika kau menebus kesalahan tadi, menebus kesalahan yang hampir kau lakukan dengan nyawamu, itu tidak akan sepadan." Zain yang malang, sekuat apapun dirinya ingin mendekati Yuna, dinding besar yang sudah ada di antara mereka tidak akan pernah hilang walau seumur hidupnya ia berusaha.

__ADS_1


"Tuhan, kenapa kau tidak mengambil nyawaku saja jauh sebelum aku bertemu dengan Yuna!" Ucap Zain di sela-sela tangisnya, air matanya mengalir deras.


...***...


__ADS_2