Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 23


__ADS_3

"Aku tidak bermaksud membuat mu kesal. Terkadang kebenaran itu memang pahit. Dan buruknya, kau harus menerimanya tanpa keluhan." Timpal Aroon dengan tatapan heran.


Aroon, dia heran melihat kekonyolan Ploy. Bagaimana tidak, jelas-jelas wanita itu tahu pria incarannya sudah memiliki kehidupan baru dan menikah dengan wanita yang di cintainya, lalu kenapa dia masih nekat juga? Terkadang orang begitu buta pada cinta, mereka menganggap api itu seperti air. Dan memilih terbakar dalam cinta yang menyesakkan.


"Aku tidak tahu seberapa besar cintamu untuk Zain. Yang jelas, kau tidak boleh mengganggu kehidupannya. Dia bahagia dengan wanitanya.


Bukankah selama ini Zain menganggap mu sebagai sahabat? Tetap bersikap seperti sahabat yang baik jika kau tidak ingin Zain membencimu." Aroon berkewajiban memperingati Ploy karena mereka berteman sejak kecil, entah Ploy mengikuti sarannya atau tidak, ia tidak perduli lagi.


"Kau berkata seperti itu seolah aku adalah seorang penjahat! Asal kau tahu saja, aku tidak rela melihat Zain ku bersanding dengan wanita itu. Dia terlalu buruk di sebut sebagai seorang wanita. Entah di mana Zain memungutnya.


Dan kau menganggap dirimu sahabatnya? Nyatanya kau sama sekali tidak berguna. Kenapa kau tidak memperingatkannya agar tidak menikahi wanita itu?" Celoteh Ploy dengan wajah di penuhi amarah.

__ADS_1


"Kenapa kau marah pada ku? Lagi pula, dengan siapa pun Zain menikah, itu benar-benar di luar kendali ku. Aku tidak bisa melarangnya jatuh cinta pada wanita yang di inginkan hatinya." Balas Aroon tak kalah kesal. Rasanya ia ingin menyentil jidat wanita yang duduk di depannya, sayang sekali ia tidak bisa melakukan itu, dan hanya satu alasan yang membuat Aroon menghentikan aksi nekatnya, teman. Iya, mereka berteman. Dan itu kebenaran pahit yang tidak bisa di hindari.


Sementara itu di tempat berbeda, Zain dan Yuna sedang menikmati kopi-nya. Zain menikmati kopi panas tanpa gula. Sementara Yuna, jus Jambu dengan rasa manis alami.


"Jadi, Zain ku bekerja di sini?" Yuna mulai mengurai tanyanya, karena banyak hal yang belum ia ketahui tentang Zain-nya.


Tidak ada balasan dari Zain selain anggukan kepala pelan. Mengisyaratkan kalau semua yang ada di hadapan Yuna saat ini adalah miliknya.


"Iya, aku bekerja disini. Bukan sekedar bekerja. Tapi, seluruh tempat ini adalah milikku. Milikku!" Ucap Zain menegaskan.


"Aku tidak heran." Yuna kembali angkat bicara, sontak hal itu membuat Zain mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Maksudku, aku tidak heran semua ini milikmu, karena sesaat setelah aku tiba disini aku bisa melihat gaya seorang Zain berubah seratus delapan puluh derajat di bandingkan saat ia tinggal di Indonesia. Yang jadi masalahnya, kenapa kau tidak mengatakan segalanya di depan Mama dan Papa dulu."


"Papa mertua dan kak Shawn, tahu segalanya. Karena mereka menyelidiki latar belakang keluargaku." Balas Zain penuh percaya diri. Ia tidak ingin Yuna menilainya sebagai pembohong.


"Melihat ekspresi yang kau tunjukkan, aku yakin kau belum tahu semua tentangku. Aku pemilik gedung sekaligus CEO di perusahaan Lucca Entertainment. Selain itu, ada tiga Hotel bintang lima yang terletak di tempat berbeda, tepatnya di Singapura dan juga China."


"Sejujurnya, aku mendedikasikan seluruh hidupku hanya untuk pekerjaan. Sampai akhirnya aku bertemu dengan sosok Angel Sasmita."


Angel Sasmita! Mendengar nama itu di sebut membuat Yuna menelan saliva. Masih nampak dalam memorinya betapa menakutkannya wanita itu. Dan tak bisa di pungkiri, Yuna merasa kesal sekaligus terbakar mendengar nama Angel di sebut oleh prianya. Dan kekesalan ini sepertinya akan bertahan lama.


...***...

__ADS_1


__ADS_2