Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part (94)


__ADS_3

"Tu-tuan, tollong maafkan aku. Aku bersumpah atas nama istrimu, aku tidak melakukannya karena keinginan ku. Nona itu menawarkan uang padaku." Celoteh wanita bergaun ungu itu, air matanya tak bisa berhenti menetes. Sejak Zain melepaskan satu peluru, sejak itu wanita itu terus saja merancau memohon pengampunan untuk hidupnya.


"Ben, bawa wanita ini pergi sebelum aku melewati batasan ku. Dan jika itu sampai terjadi, aku tidak akan tahu seburuk apa aku akan menyakitinya." Sarkas Zain sambil menendang meja kaca.


Ploy, wanita itu.


Dia terlihat shock sejak namanya di sangkut pautkan dalam masalah ini. Itu memang kebenarannya. Sayangnya, ia tidak punya tenaga untuk sekedar membantah. Menyaksikan kemarahan Zain membuat raganya seolah mati rasa. Tanpa menunggu perintah kedua, keempat detektif itu langsung menyeret wanita bergaun ungu itu.


Ben, pria dengan paras rupawan keturunan Turki dan Thailand itu lagi-lagi hanya bisa pasrah melihat perlakuan menakutkan tuannya. Satu hal yang ia syukuri, tuannya tidak melukai wanita itu walau ucapannya setajam belati.


Menangis tanpa suara, hanya itu yang bisa di lakukan Ploy Nan. Hanya dengan menatap mata Zain membuatnya ketakutan setengah mati. Ia ingin bangun, namun kedua kakinya seolah bukan miliknya lagi, tak bisa bergerak. Itulah yang Ploy rasakan.


"Untuk pertama kali dalam hidup ini aku merasa kecewa mengakuimu sebagai teman. Kau adalah noda. Kau adalah musibah. Kau adalah kutukan. Aku membencimu." Zain mencengkram kedua lengan Ploy cukup keras, wanita itu meringis.


"Tolong Zain, jangan katakan itu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Bagaimana kau bisa mengatakan cintaku sebagai noda?" Ploy menangkup wajah Zain dengan kedua jemarinya. Hatinya terasa sakit.


"Diam. Aku bilang diam." Zain melepas tangan Ploy dari wajahnya, ia bahkan mendorong wanita itu hingga membentur dinding.


"Tuan..."


"Jangan ikut campur Ben, atau kau akan menyesal. Tinggalkan kami berdua." Sentak Zain di tengah kemarahannya.

__ADS_1


Huaaa!


Zain berteriak, ia menghancur beberapa barang berharga yang ada di kantornya untuk mengekspresikan betapa besar kemarahan yang memenuhi rongga dadanya. Ia tidak bisa memukul Ploy, karena itu ia melampiaskan semuanya pada barang tak bersalah.


"Zain hentikan!" Ploy menarik lengan Zain, memeluk pria itu dengan isakan menyayat hati.


"Lepas." Zain melepaskan tangan Ploy yang melingkar di pinggangnya dengan paksa, ia mendorong wanita itu hingga terjatuh di bawah kakinya.


"Aku tidak sudi di sentuh oleh wanita sepertimu. Aku jijik dan aku merasa sesak berada di bawah atap yang sama dengan mu. Kau tidak layak menjadi teman siapa pun. Kau bilang apa tadi? Cinta? Cih." Sorot mata Zain menembus lubuk hati terdalam Ploy Nan. Mendengar ucapan menusuk Zain membuat tubuhnya seolah mati rasa.


Cinta!


Kenapa cinta sesulit ini? Kenapa Cinta semenyakitkan ini? Kenapa Tuhan menciptakan cinta jika cinta itu hanya akan menyakitkan bagi segelintir orang? Apa Tuhan benar-benar adil?


Hiks.Hiks.Hiks.


"Aku mencintaimu!"


"Aku menginginkanmu!"


"Haruskah aku menyerah pada wanita itu?"

__ADS_1


"Setelah menyingkirkan Angel, aku tidak bisa melepaskanmu untuk ja-lang seperti Yuna Dinata." Celoteh Ploy setelah ia bisa mengendalikan dirinya.


Darah Zain kembali mendidih mendengar pengakuan menyakitkan dari Ploy Nan. Ia marah, sangat marah sampai ingin menghajar wanita yang berstatus sebagai mantan sahabatnya itu.


"Tutup mulut mu." Zain kembali mencengkeram lengan Ploy, sangat keras sampai Zain bisa mendengar rintihan wanita itu.


"Sudah cukup aku menerima perbuatan buruk mu, sekarang tidak lagi. Jadi tutup mulut mu sebelum aku melewati batasan ku dan melupakan segalanya." Gigi Zain bergemeletuk, menandakan betapa besar amarah yang menguasai raganya. Mata birunya menyala.


"Kau melakukan segalanya untuk memisahkan ku dan istriku. Tapi sayangnya, itu tidak akan terjadi. Wanita sepertimu tidak pantas menjadi teman, jangankan menjadi teman, kau bahkan tidak layak menjadi pembantu di rumahku." Untuk kesekian kalinya Zain menghina Ploy dengan ucapan tajamnya. Sungguh, harga diri Ploy terkoyak. Wanita itu mulai menggila.


"Kau bilang kau sangat mencintai ku? Jangan pernah katakan itu lagi, karena bagiku itu penghinaan terbesar dalam hidupku. Kau terlalu buruk sebagai manusia." Untuk kesekian kalinya Zain menghancurkan hati Ploy. Wanita itu memang tidak pantas di berikan hati. Tali persahabatan telah membuatnya berani melewati batasan, dan kali ini Zain tidak akan memberikannya celah sekecil apa pun untuk memasuki hidupnya lagi dan lagi.


"Aku tidak bisa menghajarmu sampai tulang-tulang mu remuk. Aku juga tidak bisa mengingkari kalau selama ini kau menjadi teman terbaik sekaligus teman terburuk." Zain tidak ingin melihat wajah Ploy lagi, begitu besar amarahnya hingga membuat seluruh tubuhnya memanas.


"Mulai hari ini, kau bukan lagi teman ku. Dan jangan pernah tunjukkan wajah mu di depan ku. Bahkan jika kita berpapasan di jalan, jangan pernah menegurku. Itu hukuman untuk mu dari ku mantan sahabatmu.


Tinggalkan aku sendiri sebelum aku menyakitimu." Zain melempar senjata yang ada di tangannya. Untuk sesaat ia menatap Ploy dengan tatapan sedingin salju. Dan ini untuk pertama kalinya ia membenci seseorang dalam hidupnya.


"Aku bilang pergi." Zain berteriak karena Ploy tak kunjung pergi. Wanita itu hampir saja tersungkur mendengar teriakan keras Zain.


Tak ada lagi yang bisa Ploy lakukan, wanita itu berjalan pelan dengan sisa tenaga yang ia punya. Kejutan yang ia dapatkan hari ini sangat menyakitkan. Apa lagi yang lebih buruk dari ini? Ia Mencintai seorang pria seumur hidupnya, namun tak ada yang ia dapatkan selain penghinaan besar. Dunianya runtuh, hatinya menjerit. Entah kapan luka ini akan mengering, Ploy tidak tahu itu. Yang ia tahu ia sangat menderita seolah beban dunia hanya ada dalam hidupnya. Menyedihkan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2