
Satu bulan, berlalu dengan cepat. Zain yang mengetahui Yuna mengurung diri sejak semalaman mulai terlihat khawatir.
Iya, Zain khawatir. Sangat khawatir sampai ia tidak bisa meneguk seteguk air. Pikirannya berkelana, ia ingin bicara namun Yuna telah menutup akses untuknya. Sejujurnya, kemarahan Yuna di mulai sehari setelah ia dan Zain melakukan penyatuan mereka. Namun buruknya, pria pemilik iris biru itu tidak mengingat apa pun, Yuna merasa seolah dirinya wanita tidak tahu malu karena mengambil keuntungan saat Zain tidak sepenuhnya sadar. Haruskah Yuna di salahkan atas kesalahan pagi itu? Jawabannya tentu saja tidak karena Yuna sudah berusaha mencegah Zain, namun pria itu telah di butakan oleh hasratnya sehingga pagi yang indah itu terjadi atas izin Yuna Dinata.
Eits, tunggu dulu! Bagi Yuna kejadian itu bukanlah kesalahan, baginya itu cinta. Terlepas seperti apa keadaan mereka saat melakukannya, semuanya telah di takdirkan!
Tok.Tok.Tok
Zain mengetuk pintu kamar Yuna, wajahnya mencerminkan betapa besar ketakutan di hatinya. Ia takut wanitanya terluka, ia juga takut wanitanya menderita, jelas-jelas setiap hal yang ia lakukan membuat Yuna bersedih. Namun mau bagaimana lagi, semua yang telah terjadi berada di luar kendalinya.
"Honey, buka pintunya." Zain berucap dengan nada suara tinggi, ia mengetuk pintu kamar Yuna seolah pintu itu adalah musuhnya.
"Yuna, buka pintunya."
"Ini perintah."
"Aku akan hitung sampai tiga."
__ADS_1
"Jika kau tetap tidak mau membukanya, aku akan menghancurkan pintu ini dalam hitungan ketiga!" Ujar Zain ketus, ia mulai kesal. Jangan tanya lagi bagaimana kondisinya, netra birunya mulai memerah. Di abaikan oleh Yuna setelah sekian lama membuatnya naik pitam.
"Aku bilang..." Ucapan Zain tertahan di tenggorokan saat ART paruh baya mendekatinya.
"Tuan, nyonya bilang beliau tidak ingin di ganggu. Jika tuan ingin bicara, tuan bisa menemuinya dalam lima belas menit ke depan." Ucap ART paruh baya dengan kepala tertunduk.
"Kamu hanya pembantu di rumah ini, berani sekali kamu bicara padaku! Bahkan jika aku meledakkan kepala mu, tidak ada yang boleh melawan ku." Bentak Zain dengan amarah membuncah. Seharusnya wanita paruh baya itu tidak perlu mendekati Zain, namun mau bagaimana lagi, dia hanya seorang ART, jika ia tidak menyampaikan pesan nyonya-nya maka ia akan merasa bersalah.
"Pergi dari hadapan ku." Bentak Zain kasar. Di hatinya, wanita paruh baya itu menangis pilu. Walau sebesar itu kesedihannya, ia tetap menghormati Zain sebagai tuannya.
Astagfirullahaladzim... Zain bergumam di dalam hatinya sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh, ia merasakan penyesalan mendalam sampai ingin menyembunyikan wajahnya di dasar lautan. Setelah ia bisa mengontrol hatinya, perlahan Zain berjalan menuju ranjang Yuna Dinata, ia mengelus bantal yang biasa Yuna gunakan untuk mengganjal kepalanya, seolah ia sedang mengelus kepala Yuna. Hal yang ingin ia lakukan di setiap malamnya, sayangnya ia tidak bisa melakukan itu.
Assalamu'alaikum Warahmatullah.
Assalamu'alaikum Warahmatullah.
Yuna menoleh ke kanan dan ke kiri, menandakan sholatnya telah usai. Ia mengangkat tangannya, berdoa dengan sepenuh hati, berharap bahagia datang menyapa dalam kehidupan rumah tangganya yang kurang bahagia.
__ADS_1
Di ranjang, Zain tampak tenang menunggu Yuna mengakhiri kegiatan rohaninya. Begitu wanitanya membuka mukena, dengan langkah secepat kilat Zain langsung berhambur ke dalam pelukan istrinya. Untuk sesaat, Yuna melupakan kemarahannya. Ia mematung, menanti ucapan apa yang akan keluar dari bibir Zain.
Pelukan hangat yang Zain berikan berhasil membuat Yuna meneteskan air mata. Apakah itu air mata bahagia seorang istri? Atau justru air mata kekecewaan? Hanya Yuna sendiri yang tahu perasaannya.
"Aku tidak akan bertanya kenapa kau melakukannya." Yuna berucap sembari menatap pintu kamarnya yang tergeletak di lantai. Ia menatap Zain dengan tatapan tajam, seolah tatapan itu mengisyaratkan betapa ia ingin menjitak kepala Zain De Lucca.
"Kau tahu, jantung ku hampir saja loncat keluar. Tapi, untuk kali ini aku akan memaafkan mu."
"Sekarang, katakan. Kenapa kau membuat kekacauan sebesar ini?" Yuna bertanya, Zain yang di tanya kembali mematung. Ia tidak tahu harus memulai dari mana, namun di detik selanjutnya amarahnya kembali berkobar, di abaikan oleh Yuna membuatnya kesal sekaligus ketakutan.
"Aku marah padamu. Sangat marah sampai ingin menghancurkan semua hal yang ada di hadapan ku." Cicit Zain tanpa rasa bersalah.
Deg.
Mendengar ucapan Zain, dada Yuna seolah menyempit. Seharusnya ia yang mengucapkan kata-kata itu, namun berani sekali pria itu mendahuluinya. Tanpa berucap sepatah kata, Yuna melipat kedua tangan di depan dada, tatapannya sangat tajam, siapa pun yang melihatnya pasti tahu kalau Yuna saat ini sedang marah. Semoga saja pertengkaran besar tidak terjadi dalam hubungan mereka sehingga cinta yang sudah ada tidak akan sirna di makan oleh amarah yang hanya sesaat.
...***...
__ADS_1