
Yuhhu...!
Yuna nampak antusias, ia bahkan tidak sadar sedang berjoget ria untuk mengekspresikan bahagianya. Maklum saja, jika dirinya di terima di perusahaan Maurer Group, itu artinya ia tidak perlu mengikuti Zain. Dan itu bentuk usahanya untuk meyakinkan diri kalau ia bisa berdiri sendiri di mana pun ia berada.
Huh!
Karena merasa lelah, Yuna kembali menghempaskan tubuh letihnya di ranjang yang besar. Ia harus istirahat dan menyiapkan diri untuk pertemuan besok pagi.
Baru saja Yuna ingin memejamkan mata, netranya membulat sempurna saat melihat cahaya Rembulan masuk dari jendela kamarnya. Cahayanya terang benderang, mengisyaratkan hidup itu tidak selamanya gelap. Dan sesulit apa pun hari yang akan kau lalui, akan selalu ada jalan keluar dari masalah itu. Jadi, jangan pernah berputus asa terhadap Rahmat Tuhan Mu.
"Waw... Menakjubkan." Ujar Yuna sembari berjalan ke arah balkon. Wajah cantiknya mengukir senyuman, dan ini lah yang selalu di cari oleh semua orang, ketenangan!
Cukup lama Yuna duduk di balkon, menikmati angin sepoi-sepoi dan di mandikan cahaya Rembulan, ia tidak menyadari sejak tadi ada sosok indah yang menatapnya dari balik daun pintu yang sedikit terbuka. Sosok itu tersenyum menandakan betapa polos sosok wanitanya. Sayangnya, ia tidak bisa merapat dan mendekatkan diri walau untuk sejenak. Ia tidak berani mendekat karena khawatir tidak akan bisa mengendalikan diri seperti pasangan pada umumnya.
"Yuna ku terlihat cantik saat tertidur." Ujar Zain sambil menyelipkan rambut yang menutupi sebagian wajah Yuna.
"Kenapa kau tidur di sini? Apa kau tidak merasakan, angin malam ini sangat dingin?" Zain bertanya dengan wajah merona, ia tersentak saat menyadari tubuh Yuna hampir terjatuh. Dengan cepat Zain menangkap tubuh ramping itu dan melilitnya dengan kedua lengan kekarnya.
Dag.Dig.Dug.
Hati Zain berdebar tak karuan, berada sedekat ini dengan Yuna selalu saja membuatnya bahagia sekaligus merasa takut. Rasanya ia ingin meraup bibir tipis selembut kapas itu sama seperti yang sering ia lakukan di Indonesia dulu, saat dirinya belum mengetahui kebenaran pahit yang meliputi kehidupan indahnya.
Tak terasa, dan tanpa di duga air mata Zain menetes deras. Membasahi wajah tampannya kemudian air mata itu mendarat tepat di pipi mulus milik seorang Yuna Dinata.
Yuna mengerjap, sedetik kemudian netranya membulat sempurna. Ia tersadar, ia berada dalam lilitan lengan kekar suami tampan dan luar biasa miliknya, Zain De Lucca.
"Air mata?"
"Apa Zain ku menangis?"
"Apa aku membuatnya sedih?"
__ADS_1
"Dasar nakal!" Gerutu Yuna pada dirinya sendiri, sebenarnya ia hanya ingin menghibur Zain. Dan benar saja, Zain tersenyum dan melupakan beban yang menyelimuti hatinya.
Yuna memang nakal, tanpa berpikir panjang ia langsung mendaratkan kecupan hangatnya di bibir indah milik suaminya. Zain mengejapkan mata, ia terkejut, ia ingin marah, namun sekuat tenaga ia menahan amarah itu. Perlahan, ia melepaskan pangutan Yuna dari bibirnya, berharap wanitanya tidak akan tersinggung. Karena mereka benar-benar tidak boleh melakukan hal itu, saling bertukar saliva dalam ciuman panas hanya akan menambah masalah bagi keduanya, terutama wanitanya.
"A-apa yang kau lakukan?" Seperti orang bodoh, Zain bertanya tanpa menghiraukan wajah heran Yuna.
"Apa yang ku lakukan?" Yuna berusaha menggoda Zain dengan sikap sok manjanya, ia bahkan tak segan menyandarkan kepalanya di dada bidang Zain. Lagi-lagi Zain di buat tak bisa berkutik dengan sikap manis seorang Yuna Dinata, gadis Indonesia dengan berjuta-juta pesona indahnya.
"Aku sedang memeluk suamiku! Apa ada yang marah?"
"Jika ada yang marah, katakan padaku! Aku akan menghadapinya tanpa rasa takut sedikit pun." Celoteh Yuna masih dalam keadaan mengeratkan pelukannya.
Jangan tanya lagi bagaimana perasaan Zain setelahnya, pria dengan iris biru itu tersenyum bahagia. Tentunya senyum yang coba ia sembunyikan dari wanitanya. Senyum yang menandakan betapa besar nilai dirinya di dalam hati seorang Yuna Dinata.
"Atau... Wanita seksi yang selalu berkeliaran di dekatmu itu yang marah! Aku lupa, siapa namanya?" Yuna bertanya dengan wajah kesal. Menggambarkan kekesalan seorang istri terhadap wanita yang selalu berusaha menggoda suami tampannya.
"Aku tidak akan tergoda! Maksudku, pada wanita mana pun selain Yuna ku." Ucap Zain menjelaskan. Ia bersungguh-sungguh saat mengatakannya karena itu memang kebenarannya.
"Kau bisa memegang janji ku."
Satu pintaku, jika kau merasa bosan dengan hubungan ini, katakan di depanku, aku janji, aku akan melepasmu dengan bahagia walau hatiku tidak menginginkannya. Aku berkata seperti ini karena aku benci penghianatan, aku tidak akan bisa bertahan jika melihatmu pergi dengan pria lain sebelum aku melepasmu dengan baik." Celoteh Zain sembari menempelkan keningnya di kening mulus milik wanitanya, Yuna Dinata.
"Haha! Kau membuatku tertawa. Tapi aku suka ini."
"Dan satu lagi, Zain ku bisa memegang janji ku. Aku tidak akan pernah meninggalkan Zain ku sendirian, sampai kapan pun. Sampai kapan pun." Tegas Yuna. Ia memeluk Zain untuk meyakinkan pria-nya kalau dirinya akan selalu setia.
Malam terasa berjalan sangat cepat, memutus percakapan antara Yuna dan Zain. Mereka harus berpisah, karena pria pemilik iris biru itu harus kembali ke kamarnya, hanya cara ini yang ia punya agar Yuna-nya tetap aman dari musibah yang bisa saja datang tanpa di undang.
...***...
Jam 10:30. Maurer Group.
__ADS_1
Satu hari yang di berikan Zain akhirnya berguna juga untuk seorang Yuna Dinata. Saat ini, Yuna berada tepat di depan Resepsionis muda dengan rambut sebahu. Kulitnya putih, wajahnya cantik dengan senyuman menawan.
"Permisi, nama ku Yuna. Yuna Dinata. Aku sudah membuat janji dengan Tuan Aroon Maurer, di mana aku bisa menemuinya?" Yuna bertanya pada wanita muda yang ada di depannya. Yuna menebak, mereka hanya selisih satu atau dua tahun saja.
"Yuna Dinata?" Wanita muda itu bertanya sambil menunjuk, yang kemudian di balas dengan anggukan kepala dari Yuna.
"Tuan Aroon memerintahkan kami untuk menjaga tamu istimewa-nya. Sebentar lagi, Asisten beliau akan datang menjemput Nona." Ucap Resepsionis itu dengan ramah. Lagi-lagi Yuna hanya bisa membalas dengan anggukan kepala pelan.
Lima menit kemudian, seorang pria ber wajah oriental berjalan mendekati Yuna yang saat ini duduk di sofa ruang tunggu. Wajahnya terlihat segar, di banding dengan status sebagai Asisten pribadi, ia lebih tepatnya terlihat seperti model yang sedang melakukan peragaan busana. Wajahnya lumayan tampan, di lihat dari dekat atau pun dari jauh, ia tetap memiliki nilai yang sama, dari angka satu sampai sepuluh, nilai ketampanannya berada di angka depan. Apa semua pria Thailand sungguh setampan itu? Tak henti-hentinya Yuna mengagumi keindahan makhluk ciptahanTuhan yang ada di Negri Gajah Putih itu.
Di antar semuanya, Zain ku yang paling sempurna. Batin Yuna sambil tersenyum tipis. Ia berdiri kemudian menghadap pria rupawan yang ada di depannya.
"Nona Yuna, nama saya Alex. Saya Asisten pribadi Tuan Aroon." Sapa Alex begitu ia berdiri di depan Yuna.
"Aahh, iya." Yuna buru-buru menangkupkan kedua tangan di depan dada saat Alex merentangkan tangan ingin menyalaminya. Alex terlihat kikuk, untuk pertama kali dalam hidupnya ada wanita yang berani menolak uluran tangannya. Untuk sesaat, ia mengingat Tuannya, akan seperti apa tanggapan Aroon jika wanita di depannya ini sampai melakukn hal yang sama.
Amazing! Gumam Alex sambil menarik tangannya. Ia kemudian menunjuk kedepan, memberikan isyarat agar Yuna mengambil jalan yang ia tunjuk.
"Nona Yuna sudah lama tinggal di kota ini? Menurut ku, Nona Yuna bukan orang sini." Tebak Alek sambil berjalan di samping kiri Yuna.
"Tuan Alex benar, saya berasal dari Indonesia. Saya datang kemari karena..." Ucapan Yuna tertahan di tenggorokannya. Tidak mungkin Yuna menceritakan ia tinggal di Thailand bersama dengan suaminya, mereka tidak sedekat itu untuk saling berbagi cerita tentang kehidupan pribadinya.
"Anda benar. Saya orang baru di tempat ini. Tapi, anda jangan khawatir. Untuk urusan mode dan desain, saya bisa jamin tidak akan mengecewakan." Sanjung Yuna untuk dirinya sendiri.
"Saya percaya pada Nona Yuna. Semoga kita bisa bekerja sama." Ucap Alex sambil tersenyum, kali ini dengan kesadarannya sendiri Alex menangkupkan kedua tangan di depan dada. Ia tidak ingin kejadian saat Yuna menolak uluran tangannya terjadi lagi.
"Ini kantor Tuan Aroon. Nona masuk saja, karena Tuan sudah menantikan kedatangan Nona sejak semalam." Ujar Alex pelan. Ia membukakan pintu untuk Yuna kemudian pergi entah kemana.
Nampak jelas sosok Aroon sedang berkutat dengan laptop yang ada di depannya. Ia terlalu serius sampai tidak menyadari siapa yang memasuki kantornya.
"Ambilkan air yang ada di atas meja." Aroon memerintahkan seseorang yang masuk ke dalam kantornya tanpa mengalihkan tatapannya dari benda segi empat itu.
__ADS_1
"Apa kau ingin di pecat! Dasar tidak berguna!" Gerutu Aroon lagi, masih dalam keadaan fokus pada satu titik yang bernama laptop. Tanpa berucap sepatah kata, Yuna langsung menyodorkan gelas yang berisi air yang ada di tangannya.
...***...