Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Part 17


__ADS_3

Dua wanita cantik duduk di meja yang sama, yang satunya menatap kesal karena wanita yang duduk di depannya berusaha keras untuk merebut prianya. Dialah Yuna Dinata, dengan sikap percaya diri yang ada dalam dirinya sanggup menghalau badai yang akan datang dalam hubungan barunya.


Sementara wanita yang satunya lagi, menatap dengan intens wanita di depannya, wanita yang ia anggap buruk rupa dan menyebalkan. Sejujurnya, di bandingkan dengan duduk di meja yang sama, wanita itu ingin sekali menjambak wanita menyebalkan dan tidak tahu malu menurutnya. Dialah Ploy Nan, dengan sikap arogan dan dengan pesona yang ia punya, ia rela melakukan apa saja untuk mendapatkan tubuh pria yang selama ini mengisi relung jiwanya.


"Katakan, apa yang kau inginkan?" Yuna membuka percakapan tanpa melepas tatapan penuh selidik. Jiwa detektifnya muncul, dan mengingatkannya kalau wanita yang duduk di depannya hanya ratu drama tidak berguna. Dan buruknya, Yuna harus berpura-pura tersenyum di depan wanita itu karena semua mata sedang menatapnya.


"Aku tidak menyangka di dunia ini ada wanita sepertimu!"

__ADS_1


"What?" Yuna bertanya dengan sorot mata yang tajam. Perlahan ia mulai membuang nafas kasar.


"Kau benar-benar tidak tahu malu. Wanita sepertimu pantasnya ada di musium, entah kenapa kau berkeliaran di tempat ini, padahal tempat ini tidak sesuai dengan kelas atau standar-Mu."


"What?" Lagi-lagi Yuna hanya bisa menunjukkan kekesalannya dengan sorot mata yang tajam. Rasanya ia kehabisan kata-kata di depan wanita menyebalkan itu, karena sejatinya ia bukan wanita yang kasar apa lagi sampai bertindak gegabah hanya karena amarah.


"Kau tidak perlu bertele-tele, katakan apa yang kau inginkan. Jika mengatakan kata-kata kasar adalah hobi-Mu, maka aku adalah ahlinya." Celoteh Yuna sembari mengepalkan tangannya, saat ini ia bicara seperti orang yang sedang berbisik karena ia tidak ingin membuat keributan di tempat yang tidak semestinya.

__ADS_1


"Aku memang cerdas, dan akan selalu cerdas. Karena itulah Zain memilihku." Celetuk Yuna dengan senyum meremehkan. Ia bersorak gembira di dalam hatinya karena berhasil membuat wanita di depannya terlihat terbakar dalam kemarahan. Sejatinya, tidak perlu membalas orang yang bicara buruk tentang dirimu dengan kata-kata kasar, cukup balas ia dengan ucapan sederhana namun mengena di hatinya, contohnya seperti yang di lakukan Yuna saat ini.


"Aku tahu kau mengincar suamiku. Tapi maaf, kau bukan seleranya. Kau bisa mencari pria lain yang sama seperti standarmu. Sama-sama tidak tahu malu karena mengincar milik orang lain." Kali ini Yuna bicara cukup ketus, ia sengaja melakukan itu bukan karena dendam ataupun amarah semata. Ia melakukannya agar wanita di depannya tahu posisinya dan tak perlu memaksakan diri mengincar hal yang tidak bisa ia jangkau, karena bisa saja hal itu akan menyakiti hati dan pikirannya.


"Kau terlalu banyak bicara, tapi sayangnya aku tidak seperti itu."


"Asal kau tahu saja, aku selalu mendapatkan apa pun yang ku inginkan, karena itulah aku di panggil Ploy Nan Ratunya Thailand."

__ADS_1


"Karena kau sudah tahu, maka akan ku katakan secara gamblang. Aku mencintai Lucca. Dan akan selalu mencintainya, tak perduli seribu wanita sepertimu yang datang dan mengaku sebagai istrinya, aku pasti akan mendapatkannya kembali." Ujar Ploy Nan percaya diri.


...***...


__ADS_2