Terlanjur, Mengikat Janji

Terlanjur, Mengikat Janji
Antara pria (Shawn&Zain)


__ADS_3

"Anda bisa bekerja dengan nyaman dan aman selama anda mengikuti aturan di tempat ini. Ingat ucapanku tadi, apa yang anda dengar dan anda lihat pastikan tidak sampai keluar dari dinding rumah ini. Suamiku bilang, dia tidak suka penggosip, aku pun demikian." Ucap Yuna menegaskan. Art separuh baya itu hanya bisa manut tanpa ada bantahan.


Sementara itu di taman belakang duduk Shawn sendirian sambil menonton berita dari ponselnya. Wajah tampannya tampak mengukir senyuman menawan. Ia bangga, dan ia merasa bahagia.


"Assalamu'alaikum kak..." Zain berucap sembari duduk menghadap Shawn. Mereka saling menatap.


"Wa'alaikumsalam." Balas Shawn sambil meletakkan ponselnya di atas meja.


"Apa ada kabar baik? Kelihatannya kakak sangat bahagia, apa kedatangan ku mengganggu kakak?" Zain bertanya, namun ia sudah menyiapkan diri untuk pergi jika Shawn berkata iya.

__ADS_1


"Tidak. Kau tidak menggangguku." Jawab Shawn singkat sembari tersenyum tipis.


"Kau ingat Robin?"


Zain menjawab pertanyaan Shawn dengan anggukan kepala pelan. Bagaimana ia bisa melupan Robin, sosok menyenangkan yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.


"Robin mengundurkan diri dari perusahaanku dan fokus pada bisnis kulinernya. Aku merasa bahagia untuknya karena dia berhasil membuka cabang di enam kota berbeda." Shawn menjelaskan tanpa bisa melepas senyuman dari bibirnya.


Bahagia!

__ADS_1


Zain merasa sesak mendengar satu kata itu, ia juga menginginkan bahagia. Namun masa lalunya telah menodai masa depannya. Sungguh, menyesal kemudian benar-benar tidak berguna. Rasanya Zain ingin berteriak sekencang-kencangnya, sayangnya ia tidak bisa melakukan itu mengingat kakak ipar yang sangat ia hormati sedang menatapnya dalam keadaan terbaiknya.


"Apa kalian tidak punya keinginan untuk berkunjung ke Indonesia? Jika kau punya waktu luang, kunjungilah Mama dan Papa. Sejak Yuna pergi, Mama terlihat murung, sepertinya beliau belum terbiasa jauh dari putrinya. Syukurlah ada Hasan yang selalu mengisi kekosongannya. Aku juga berharap, semoga kalian segera memberi kabar baik untuk kami semua, aku ingin menimang anak mu dengan Yuna." Tutur Shawn dengan tulus.


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari lisan Zain De Lucca, mendengar ucapan Shawn membuatnya merasakan kesedihan mendalam. Ia juga menginginkan keturunan, namun mau bagaimana lagi, tidak mungkin ia melampiaskan syahwatnya pada istrinya saat ia menyadari penyakit sialan yang bersemayam di tubuhnya sanggup menyakiti wanitanya. Lebih baik Zain tiada dalam keputusasaan dari pada membuat Yuna merasakan kesedihan mendalam.


"Ku perhatikan, Yuna sangat mencintaimu. Walau ia tidak pernah mengatakannya, aku bisa melihat itu dari tatapan matanya. Kau pun demikian, jadi saranku untukmu. Tetaplah mencintainya seperti yang kau lakukan sekarang. Jangan pernah menyakitinya walau seujung kuku, karena jika kau berani melakukan itu, aku akan menjadi orang pertama yang akan menghajarmu. Kau masih ingatkan, kalau aku dulu menentang hubungan kalian?" Shawn bicara tanpa melepas tatapan selidiknya dari seorang Zain De lucca, ia mencoba mencari celah pada lawan bicaranya. Jika terdapat kesalahan dari Zain, Shawn sudah siap untuk membawa Yuna pulang bersamanya.


"Aku tidak akan mengecewakan kakak, aku akan menjaga Yuna dan berusaha untuk selalu membahagiakannya." Zain berucap dari hatinya, namun otak cerdasnya berfikir keras bagaimana ia akan membahagiakan Yuna saat dirinya saja tidak bisa bahagia.

__ADS_1


Tuhan... Kenapa kau mengujiku seperti ini? Apa kau marah padaku karena aku tidak pernah bersujut padamu?Jika itu jawabannya, maka aku bermohon dari lubuk hati terdalamku, jangan buat Yuna ku menderita untuk kesalahan ku di masa lalu. Batin Zain sambil pura-pura tersenyum di depan kakak ipar yang sangat ia hormati, Shawn Praja Dinata.


...***...


__ADS_2