
Kebiasaan lama terkadang tidak mudah untuk di hilangkan, selalu saja manusia memiliki alasan untuk kembali dan kembali melakukan ke salahan. Seperti malam ini, Zain. Pria pemilik iris biru itu sangat kesal, ia kecewa, dan ia marah pada Yuna. Wanita yang sangat ia cintai itu telah mempermainkan dirinya, dan hal itu membuat Zain menumpahkan rasa prustasi dengan berlari sejauh mungkin, sejauh-jauhnya Zain berlari, akhirnya ia kembali pada kebiasaan lamanya, duduk di bar dan di temani wanita cantik yang siap untuk menghiburnya.
Huh!
Ben, asisten Zain membuang nafas kasar melihat tuannya menenggak minuman beralkohol yang ada di gelasnya hingga tandas. Ia kasihan melihat tuannya, namun mau bagaimana lagi, tuannya itu pintar dan terkadang bertindak bodoh. Seperti malam ini tuannya bertindak bodoh, karena kemarahan ia rela meninggalkan wanitanya dan duduk bersama wanita penghibur.
"Kalian, keluar." Sentak Ben pada empat wanita yang duduk di dekat Zain.
"Aku bilang, keluar." Ben berteriak karena ke empat wanita itu tidak merespon ucapannya. Melihat kemarahan Ben membuat keempat wanita itu segera pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Tuan, ada apa dengan mu? Anda memiliki istri yang sangat cantik, namun anda meninggalkannya demi minuman dan keempat wanita tidak berguna itu? Aku kasihan pada anda Tuan." Ben berucap dengan nada suara tinggi, ia melakukan itu agar Zain kembali fokus.
Gdebuk!
__ADS_1
Bukannya bersyukur mendapat nasihat, Zain malah melayangkan tinjunya di wajah tampan Ben. Pria itu tersungkur, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Pukul lagi, tuan. Pukul, agar hati anda puas." Sentak Ben tanpa rasa takut. Bertahun-tahun melayani Zain membuatnya memahami seluk-beluk tuannya.
"Kenapa anda berhenti? Apa anda tahu anda salah dan saya yang benar?" Ben bertanya, untuk pertama kalinya ia berani meninggikan nada suaranya.
"Nyonya Yuna, benar. Dan tuan yang salah. Seharusnya tuan mendengar penjelasan nyonya, bukan meninggalkannya dalam kesedihan. Bagaimana jika nyonya pergi, apa yang akan tuan lakukan?" Ben bertanya seolah dirinya penasihat cinta yang mendapatkan julukan sempurna.
Zain tersadar, ia tidak pernah memikirkan hal itu. Yang ia tahu, ia akan tiada jika Yuna sampai meninggalkannya. Untuk sesaat, Zain berusaha memejamkan mata, membayangkan saat Yuna-nya meneskan air mata. Sebelumnya ia tidak bisa merasakan kesedihan wanitanya, namun sekarang, kesedihan itu seolah menggerogoti jiwanya. Zain mengusap wajahnya dengan kasar, ia menyadari kebodohannya.
"Tuan, nyonya Yuna wanita yang baik. Walau aku jarang bicara dengannya, aku tahu dengan pasti kalau nyonya Yuna tidak akan pernah berkhianat. Bahkan jika nyonya harus tiada, dia tidak akan pernah memikirkan hal untuk membuat tuan menderita.
Aku mohon, tuan. Kembalilah pada nyonya Yuna, kalian harus bicara. Tapi kali ini bukan dengan kemarahan agar masalahnya tidak memburuk." Ben kembali menasihati tuannya, Zain yang di nasihati terlihat diam, entah ia sedang mendengarkan atau berusaha untuk mengabaikan, yang jelas Zain merasa tidak tenang. Dan di detik selanjutnya...
__ADS_1
"Ben, bawa aku pulang. Aku merasa tidak tenang. Aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi." Ujar Zain dengan wajah memucat. Dadanya berdebar sangat cepat, seolah bagian dari dirinya telah menghilang. Zain yang sedikit mabuk berusaha untuk berdiri, namun ia terjatuh karena kakinya tidak bisa menopang berat badannya. Entah kenapa Zain mulai meneteskan air mata.
"Tidak, Yuna. Jangan." Ucap Zain lirih, ia kembali berusaha untuk bangun, kemudian berjalan perlahan. Ben yang melihat kondisi tak biasa tuannya terlihat panik. Ia segera menuntun tuannya berjalan menuju mobil kemudian meninggalkan bar dan meluncur menuju mansion Lucca.
Butuh waktu dua jam agar Zain bisa tiba di mansion Lucca, kondisi mansion Lucca masih gelap seperti saat ia meninggalkannya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, Zain menyalakan lampu dan mendapati mansion-nya terlihat bersih. Sebelumnya ia meninggalkan mansion dalam keadaan berantakan, tapi kini semuanya bersih seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Zain tersenyum, ia segera berlari ke arah tangga. Ia ingin menemui Yuna dan meminta maaf padanya. Melihat kondisi tuannya yang terlihat bersemangat membuat Ben ikut tersenyum. Ia bahagia. Dan di detik selanjutnya.
Huaaa!
Ben terkejut, mendengar teriakan Zain membuat jantungnya seolah lompat keluar. Dengan sekuat tenaga Ben berlari menaiki anak tangga, menghampiri tuannya untuk mencari tahu kebenaran di balik teriakkan memilukan seorang Zain De Lucca.
...***...
__ADS_1