
Namun saat mereka berdua tengah asik berbicara tiba tiba jesika datang menghampiri keberadaan keduanya itu.
Brak..
suara meja yang di pukul dengan keras begitu saja, Arin dan Fina seketika menatap kearah Jesika yang datang tiba tiba.
Arin mengerutkan keningnya, tak mengerti apa yang di pikirkan gadis sombong itu.
" heh.. ganti handphone gue cepetan!! " ucap Jesika kepada Arin sembari mengulurkan tangannya.
" ganti? Handphone lo? Hah " ucap Arin sembari tersenyum smrik.
" handphone gue aja lo rusak, sekarang lo minta gue ganti handphone lo? " ujar Arin tak percaya dengan apa yang firinya dengar.
" ck.. dasar gadis miskin, sok belagu " tukas Jesika kesal kepada Arin.
" bukannya lo anak pengusaha, kenapa harus di ganti hh? " ujar Arin sembari mengambil tas nya dan menarik Fina keluar dari dalam kelas mereka dan meninggalkan Jesika dan teman temannya disana.
" Aarggh!! dasar gadis miskin, lihat saja pembalasanku " ucap Jesika sembari berlalu pergi meninggalkan ruang kelas itu demgan penuh amarah.
***
Di lain sisi, Ardan yang baru saja tiba di rumah keluarga besar Azhendra, namun tampak dari jauh, di sebuah ruang tengah kini dirinya yang masih duduk di antara kedua orangtuanya itu.
Namun di lain hal Tn Hendrik yang sedari tadi duduk di salah satu sopa, dengan mata menatap dingin putranya keduanya itu, ntah apa yang tengah di pikirkan mereka saat ini.
" Ardan, katakan apa yang terjadi? " Tanya Papa kepada Ardan yang kini mulai bersuara.
" tidak ada Pah! " sahut Ardan seperti biasanya.
" lalu siapa yang kau sembunyikan, Mamah mendengar suara teriakan gadis kemarin lalu, dan sekarang kau bilang tidak ada apa apa? " tanya Aziah kepada anaknya itu.
" Ardan sudah bilang, tidak ada apa apa, sudahlah.. mau sampai kapan kita akan membahas soal ini terus terusan, Ardan pamit pulang kalau begitu " ucap Ardan sembari beranjak dari tempat duduknya.
" malam, ini kau tau tuan Abraham, mengadakan acara penyambutan pewaris baru dari group N.C, jangan lupa kau harus hadir malam ini! " timpal Tn Hendrik kepada Ardan.
" iya " sahut Ardan singkat
Sembari berlalu pergi meninggalakan kediaman keluarga Azhendra dan pergi menuju perusahaannya.
Namun saat dirinya hendak pergi tiba tiba Ardan melihat seseorang datang menghampirinya.
" Ardan? " Panggil orang itu yang tak lain Nadia.
Ardan menatap diam keberadaan gadis itu, yang kini berada tak jauh dari hadapannya, melainkan beranjak masuk kedalam mobil miliknya.
Nadia tertegun dan kini menatap kepergian Ardan yang begitu saja, dengan rasa sakit di hatinya.
" Nadia? " Panggil seseorang kepada gadis itu, Nadia seketika mengalihkan pandangannya, dengan cepat menyeka airmatanya yang jatuh.
" Nadia.. kamu kenapa sayang, kamu menangis hh? " Tanya seorang wanita setengah baya kepada Nadia, yang tak lain Aziah yang baru saja tiba di luar rumah itu.
__ADS_1
" tidak kok Tan, tadi hanya kelilipan saja " ucap Nadia berbohong.
" sungguh?, kau tidak bohongkan? " tanya Aziah lagi, Nadia menggelengkan kepalanya dan kini mereka berdua beranjak masuk kedalam rumah.
Sin berpindah, kini memperlihatkan Arin dan Fina yang kini tengah berada di sbuah cafe berencana untuk makan siang mereka, yang berjarak tak jauh dari arah kampus mereka.
" ck.. kenapa sih tu orang selalu cari masalah " ucap Fina kesal mengingat tinggah gadis itu.
" sudahlah Fin, begitulah orang seperti mereka, jika punya kekuasaan mereka bisa bertindak sesuka hati mereka " ucap Arin mencoba menenangkan Fina.
" ya kau benar sekali " ucap Fina yang kini sedikit tenang.
Namun saat mereka tengah asik berbincang bincang tiba tiba suara deringan handphone terdengar, Arin yang menyadari suara tersebut dan kini meraih handphone nya yang berada di dalam tas, Arin menatap bingung layar handphone nya yang terlihat nomor asing disana.
" nomor siapa ini? " gumam Arin dengan mata menatap nomor asing itu.
Arin segera menganggkat panggilan tersebut dan terdengar suara seseorang dari sebrang panggilan itu.
" apa kau sudah pulang? " Tanya seseorang kepada Arin dari sebrang panggilan.
" kau siapa? " tanya Arin balik.
Tanpa memperdulikan pertanyaan dari orang itu kepadanya.
" ini saya...!! " sahut orang tersebut.
" kau..? eng.. maksudku mas Ardan? " tukas Arin yang tak percaya.
" eng ak..." belum sempat Arin melanjutkan perkataanya, tiba tiba pria itu segera memutus panggilan tersebut.
" ishh dia mematikan telponnya begitu saja, menyebalkan " gerutu Arin kesal yang kini menatap layar handphonenya.
" Siapa? " Tanya Fina penasaran.
" salah sambung " jawab Arin dengan wajah yang terlihat jengkel.
" sudahlah, kita pulang sekarang " ucap Arin kepada Fina.
mereka berdua segera keluar dari cafe tersebut dan beranjak pulang kerumah mereka masing masing, sesaat mereka telah tiba di luar cafe itu namun alih alih tampak dari kejauhan sebuah mobil mewah terpakir rapi disana
Arin yang melihat keberadaam mobil tersebut dengan mata menatap lekat seseorang dalam mobil itu yang tak asing dipikirannya.
" Huh.. " dengus Arin.
Arin yang menyadari sosok Romi di dalam mobil tersebut dan kini beranjak menghampiri pria itu sembari berpamitan kepada Fina sahabatnya itu.
" Fin, gue duluan ya, sory kita nggak bisa pulang bareng gak papa kan gue tinggal? " Ujar Arin kepada Fina.
" tidak masalah kok Rin, bye gue duluan kalau begitu " ucap Fina yang kini berlalu menuju Halte bus.
Arin kembali melangkah kan kakinya menuju mobil itu berada.
__ADS_1
" Nona sudah pulang? mari saya antar, tuan Ardan sudah menunggu Nona di Villa saat ini! " ucap Romi sembari membuka kan pintu mobil untuk Arin.
Arin beranjak masuk kedalam mobil tersebut, dan diikuti Romi yang kini duduk di bangku pengemudi dan segera melajukan mobil itu menuju Villa.
***
Namun di lain sisi Ardan yang kini sudah berada di Villa nya, sembari duduk di salah satu sopa dengan di temani segelas wine di tanggan pria itu.
trak... suara hentakan gelas.
" tuan? " Ucap Romi kepada Ardan yang ternyata sudah berada di Villa.
" mmh, apa gadis itu sudah bersiap siap? " Tanya Ardan yang kini meminum Wine nya.
"csudah tuan, dia sudah bersiap siap " jawab Romi kepada Ardan. Ardan kini meletakkan gelasnya di atas meja dan sembari beranjak dari tempat duduknya.
dan bergegas menujuh keluar ruang, namun saat dirinya tiba di ruang tamu tampak terlihat Arin yang baru saja tiba di sana yang kini tengah menunggu seseorang.
tap.. tap..
terdengar suara langkah kaki yang berjalan menuju ruangan itu, Arin segera mengalihkan pandangannya kearah datanganya seseorang, Ardan seketika menatap keberadaan Arin, dengan menggunakan gaun putih yang sedikit terbuka tak bergeming sedikitpun.
" eng... apa ini tidak terlalu berlebihan? " Tanya Arin yang sedikit tidak enak saat menggunakan gaun tersebut.
Ardan tersadar dari lamunannya dan kini beranjak menghampiri keberadaan gadis itu yang masih berdiri di sana.
" tidak.. pakai yang itu saja!! " sahut Ardan yang kini sudah berdiri di hadapan gadis itu.
" mmm.. baiklah " gumam Arin sedikit tidak enak.
" sudah kita berangkat sekarang " ujar Ardan yang kini berlalu pergi meninggalakan Arin yang masih berdiri disana.
Arin bergegas mengikuti Ardan dan berjalan di belakang pria itu. dan bergegas menuju sebuah mobil dan beranjak masuk kedalam mobil itu dan membawa mereka berdua menuju ke suatu acara.
Pukul 19.00 di Hotel Garden
Ardan dan Arin kini mereka berdua telah tiba disana, Romi segera beranjak membukakan pintu mobil untuk Ardan dan diikuti oleh Arin, namun saat dirinya sudah berada di luar mobil seketika pandanganya terpaku melihat betapa mewahnya Hotel yang terpampang jelas di hadapannya.
Ardan seketika membuyarkan lamunan Arin sembari berkata kepada gadis itu kesekian kalinya.
" mau sampai kapan kau akan terusan diam disana? " Tanya Ardan yang kini berdiri jauh dari sana.
Arin seketika membuyarkan lamunannya dan kinu beranjak menghampiri Ardan, tang dimana pria itu tengah berada saat ini.
" maaf mas.. "ucap Arin sedikit canggung, Ardan tak mengubris perkataan Arin, melainkan pria itu malah mengulurkan tangannya kearah gadis itu.
Arin menatap bingung uluran itu, dan kini kembali menatap wajah pria itu dengan bingung.
" kenapa, malah menatap tangan saya? " Tanya Ardan kepada Arin.
" eng..." Arin masih terdiam bingung.
__ADS_1
...***...