
" eng.. Arin kamu kenapa? " Tanya Roy sedikit heran dengan tingkah Arin yang kini mulai berubah.
" menjauh dariku " ucap Arin sembari memundurkan tubuhnya.
" Arin kamu kenapa? " tanya Roy, yang kebingungan.
" menjauh dariku!!" ucap Arin sedikit meninggikan nada bicarakan
" kenapa? Kenapa kau melakukan ini kepada ku Roy? " timpal Arin yang sudah menangis.
" apa? Apa yang ku lakukan kepadamu? " Tanya Roy yang masih tak mengerti.
" jangan pura pura seakan kau tidak mengerti, kenapa kau menjualku kepada pria itu Roy? " Sahut Arin yang sudah terlihat sangat marah.
Roy terdiam dengan perkataan Arin dan kini mencoba memegang tangan gadis itu, namun dengan cepat Arin menepis tangan tersebut dari tangannya.
" Arin dengarkan aku, aku hanya.." ucap Roy yang tiba tiba terpotong.
" sudahlah Roy, untuk apa kau menjelaskannya, aku sudah mendengar semuanya. " ucap Arin bersikukuh.
" dan satu hal lagi, jangan pernah kau menampakan wajahmu lagi, aku muak " timpal Arin yang sudah begitu marah.
"Rin.. tidak bisa, kita bicarakan ini baik baik " ucap Roy memohon.
" lepaskan, tidak perlu!! aku tidak mau lagi " ucap Arin yang kini berlalu meninggalkan Roy yang terdiam disana.
Roy berteriak kesal dan sembari melemparkan sesuatu ketanah.
"brengsek... " ucap Roy kesal.
***
di perjalanan terlihat Arin yang masih menangis sembari berjalan entah kemana, menatap kosong kepenjuruh arah.
" hiks.. hiks.. pecu**ng, kenapa kau melakukan itu kepadaku hiks hiks.." ucap Arin dengan arimata yang mengalir deras di pipihnya.
Arin terduduk di sana sembari meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan, dan bahakan tidak punya tujuan untuk hidup lagi.
" kau disini ternyata? " Ucap seseorang kepada Arin yang masih bersimpuh di sana,
Arin seketika mengalihkan pandangannya kearah orang itu yang baru saja tiba di sana.
Arin tersentak kaget melihat Ardan yang kini berada di hadapannya saat ini, Ardan menatap tajam kearah Arin dan beranjak menghampiri gadis itu.
Arin yang menyadari hal itu beranjak ingin kabur dari sana, namun terlambat, Ardan menahan tangannya, dan menarik paksa Arin untuk ikut dengannya.
" tidak.. lepaskan Aku " ucap Arin kepada pria itu.
Ardan tak menghiraukan perkataan Arin kepadanya, dan masih menarik paksa Arin untuk ikut bersamanya.
__ADS_1
" mas Ardan, Arin mohon lepaskan, Arin tidak mau ikut " timpal Arin lagi, Kini Ardan membawa Arin menuju ke Villa.
beberapa jam kemudian mereka telah tiba di Villa, Ardan menarik kasar tangan Arin dan membawanya ke suatu ruangan, dan di lemparnya tubuh itu kelantai.
PLAK...
satu tamparan tepat di wajah Arin, Ardan terlihat sangat marah.
" akh.. mas Ardan, salah Arin apa? " Tanya Arin dengan tangan memegang pipihnya yang terasa panas akibat tamparan itu.
" ck... gadis seperti mu apa patut untuk aku kasihani, sudah ku katakan kepadamu, jangan pernah bertemu dengan pria itu lagi " ucap Ardan dengan meninggikan nada suaranya.
" kenapa? kenapa kalian memperlakukan aku seperti ini? kenapa kalian menjadikan ku sebagai alat kalian, kalian tidak punya hati " ucap Arin kepada Ardan yang begitu tampak di penuhi amarah.
PLAK..
satu tamparan melayang tepat di wajah kiri Arin.
" Mas Ardan, kenapa selalu nyakitin Arin, jika mas tidak puas untuk menyakitin Arin, kenapa tidak mas bunuh saja, pukul saja Arin PUKUL.." Ucap Arin yang sudah kehilangan kesabaran.
Ardan seketika terdiam paku dengan membulatkan kedua matanya, mendengar perkataan gadis itu yang begitu sangat marah kepadanya.
Ardan segera pergi dari ruangan itu dan meninggalakan Arin sendirian disana yang masih dalam keadaan menangis.
***
Dikediaman keluarga Azhendra, terlihat dua orang yang tengah duduk di taman belakang dia adalah Nadia Adnan dan Aziah mamahnya Ardan.
" Nadia, apa kamu tidak marah soal Ardan memperlakukan kamu seperti itu kan? " Tanya tante Aziah kepada Nadia.
" hemm Nadia baik baik saja tante, lagian ini juga salah Nadia, yang sudah nayakitin Ardan " ucap Nadia sedikit merasa bersalah.
" tidak sayang, kau tidak perlu begitu.. tante yakin Ardan pasti akan membuka hatinya lagi untuk mu " ucap Aziah kepada Nadia sembari mengelus pundak gadis itu.
saat mereka tengah berbincang tiba tiba terdengar suara seseorang yang datang, Nadia dan Aziah segera beranjak keluar menemui orang tersebut.
saat mereka berdua telah berada disana terlihat Ardan yang baru tiba disana, Nadia tersenyum, melihat kedatangan Ardan di rumah itu dan kini beranjak menghampiri pria itu dan seketika memeluknya.
Nadia memeluk tubuh Ardan secara tiba tiba, Ardan yang melihat itu hanya terdiam dan tak membalas pelukan Nadia.
" Ardan.. aku merindukanmu!! " ucap Nadia kepada Ardan yang kini masih memeluk pria itu, Ardan melepaskan pelukan itu dan berlalu pergi meninggalkan Nadia yang terdiam menatapnya.
" ARDAN? " panggil Aziah kepada anaknya dengan sedikit berteriak, Ardan yan mendengar namanya di panggil seketika menghentikan langkahnya.
" kamu tau, Nadia datang jauh jauh kemari hanya untuk bertemu dengan kamu, tapi kamu...." ucap Aziah yang tiba tiba di sela begitu saja.
" lalu apa urusannya dengan ku, apa aku harus menyambutnya?, dia datang kemari atau tidak, itu bukan urusanku " ucap Ardan yang kini melanjutkan langkahnya menuju lantai atas.
" Ardan? " Panggil Aziah lagi kepada Ardan, namun tak ada jawaban dari Ardan.
__ADS_1
" tante, sudahlah aku baik baik saja, aku tau Ardan pasti sangat membenci diriku " ucap Nadia menenagkan Aziah yang sedikit terlihat kesal atas sikap anak kedua nya itu.
***
Tak.. tak...
di sebuah gedung Garden Filow, di sebuah ruang terlihat seseorang yang terlihat sangat marah kepada anak buahnya.
PRANK..
suara sesuatu yang dilempar ke lantai.
" ck.. bodoh, tidak bisa ku biarkan, dia harus menderita seumur hidupnya.. bagaimanapun caranya " ucap orang itu yang terlihat sangat kesal.
" kenapa? Rencana ku selalu saja gagal, untuk membuatnya jatuh begitu saja " Timpal orang itu lagi yang tampak berjalan mondar mandir di sana.
" hh baiklah, jika rencanaku saat ini masih gagal, mungkin suatu saat aku akan membuat rencana lainnya " ucap orang itu lagi dengan tangan menggenggam kuat sebuah gelas dan seketika membuatnya pecah berhamburan begitu saja.
pukul 17.00
Arin terbangun dari tidurnya, Arin segera neranjak turun dari tempat tidur dan membersihkan tubuhnya, saat beberapa menit Arin kini beranjak pergi kedapur untuk membuat makan malam.
dan mengambil bahan bahan yang ada di kulkas untuk dirinya memasak.
"huh.. tidak ada satupun yang bisa untuk ku masak!!" Ucap Arin seraya menatap kosong dalam kulkas yang berada di hadapannya saat ini.
" apa yang kau cari? " tanya seseorang kepada Arin yang tiba tiba berada di sana.
Arin seketika mengalihkan pandangannya kearah orang tersebut yang kini tengah bicara kepadanya.
" Mas Ardan? " gumam Arin yang kini melihat kearah Ardan yang ternyata baru saja tiba di sana.
" kau mencari apa? " Tanya Ardan yang kini beranjak menghampiri Arin yang masih terdiam menatapnya.
" eng... anu, itu.. Mas Arin mau masak, tapi bahan bahannya tidak ada! " Ucap Arin mejelaskan.
" ikut saya " sahut Ardan kepada gadis itu sembari berjalan terlebih dahulu.
" mau kemana mas? " Tanya Arin bingung dan kini mengikuti Ardan dari belakang.
" beli yang kamu butuh kan " sahut Ardan
" bisakah kamu berhenti bertanya? " timpal Ardan yang kini menuju keluar dan masuk kedalam mobil miliknya.
" ck iya iya " gerutu Arin.
" eng.. tapi kan ini sudah soreh mas, gak ada pasar yang buka " ucap Arin yang kini ikut masuk kedalam mobil.
" saya tidak mau kepasar, disana kotor " ucap Ardan lagi dan kini melajukan mobilnya menuju Market.
__ADS_1
...~~~~...