Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Rencana liburan


__ADS_3

Selang beberapa lama, mereka kini telah tiba di perkarangan rumah, Ardan melajukan mobilnya memasuki perkarangan rumah itu dan seraya memakirkan mobilnya di bagasi.


cklek..


Bamm...


Arin yang sudah berada di luar mobil dan diikuti Ardan yang kini juga berada di sana, mereka berdua bergegas masuk kedalam rumah mereka, dan diikuti oleh Yeni yang masih menggendong Arka yang ternyata anak kecil itu terlihat tengah tertidur.


trak.. trak..


Di dalam rumah Arin bergegs menuju lantai atas yang dimana kamarnya berada.


Sesaat dirinya sudah tiba di dalam kamar, Arin meminta Yeni untuk meletakan Arka di tas tempat tidurnya dan minta gadis itu untuk mengganti pakaian Arka.


Namun di lain sisi, di sebuah ruang kerja pribadi, Ardan yang tengah menelpon seseorang entah apa yang pria itu bicarakan saat ini.


"mmh baiklah.. temui aku besok! Aku matikan dulu telponnya." ucap Ardan mengakhiri panggilan.


trak.. suara handphone yang di letakan di atas meja kerja.


Namun saat dirinya sudah selesai menerima panggilan telpon, Ardan beranjak menuju kamarnya, seraya mengganti pakaiannya.


tap.. tap..


didalam kamar Ardan yang kini berada di sana, dengan mata menatap kearah seorang gadis yang tengah tertidur di atas sana.


Srek..


bruk..


Ardan merebahkan tubuhnya yang kini berbaring tepat di sebelah Arka, yang dimana anak kecil itu tertidur.


cuph.. satu kecupan kini mendarat di pipih anak kecil itu, Ardan bergegas memejamkan matanya untuk lekas tidur.


dret... dret...


Malam telah berganti pagi, terdengar dari luar rumah suara burung yang bersautan menyambutnya pagi hari. Namun terlihat Arin yang kini masih tertidur di atas tempat tidurnya, begitu juga dengan Ardan yang ternyata pria itu tengah asik melihat sesuatu di layar ponselnya.


Ardan yang sedari tadi sibuk menatap layar ponselnya kini pria itu mengalihkan pandangannya menatap kearah gadis yang masih tertidur di balik selimutnya.


Ardan tersenyum dan seraya membuka selimut yang menutupi tubuh gadis itu.


srek..


"mau sampai kapan kamu tidur Arin?" panggil Ardan kepada gadis itu yang masih memejamkan matanya.


"Arin masih ngantuk Mas, nanti saja 5 menit lagi." Sahut Arin dengan mata yang masih terpejam.


"5 menit mu, sama dengan 1 jam Arin, bagaimana jika kita telat ke bandara!" ujar Ardan kepada Arin.


"hoamm..!' suara ngatuk.

__ADS_1


Arin membuka matanya dan kini menatap kearah seorang pria yang masih duduk di atas tempat tidurnya.


"Mas, Mamah sama Papah udah Mas Ardan kasih tau?" tanya Arin tiba tiba.


"eng.. sudah!" jawab Ardan.


srek...


"kamu mandi gih, ini sudah siang.. nanti telat, Mas akan bilang sama bibik untuk sarapan di kamar aja!" ujar Ardan yang kini beranjak dari atas kasur, menuju ke ruang kerjanya.


"mmh!" Sahut Arin, seraya bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Selang beberapa jam Arin yang sudah selesai bersiap siap, tampak terlihat gadis itu tengah menatap bingung 4 koper yang sudah berada di hadapannya.


"Banyak sekali kopernya, kaya mau pindahan aja!"gumam Arin yang masih menatap koper koper itu.


Namun secara bersamaan terlihat Ardan yang ternyata juga sudah bersiap siap, tampak pria itu menggunakan style casual.


Arin yang baru pertama kali melihat Ardan menggunakan baju seperti itu, tampak begitu berbeda.


"usia 25 tahun, seperti usia 23 tahun!"gumam Arin menatap Ardan dari ujung kepala hingga kaki.


"penampilan ternyata bisa mengubah sesuatu ternyata." Timpal Arin lagi yang kini berjalan menghampiri pria itu.


"Mas?" panggil Arin kepada Ardan.


"mmh?" sahut Ardan dengan wajah menatap kearah Arin.


"kok kopernya ada 4 sih, kan perasaan kita gak bawa banyak pakaian loh Mas!" ucap Arin kepada Ardan.


"iya apanya?" tanya Arin lagi.


"itu.. Mas eng.. ada bawa sesuatu yang lainnya, jadi Mas butuh koper lagi buat naruhnya!" jawab Ardan bingung mau menjawab apa.


"oh.. gitu, mmh yasudah Arin kebawah dulu ya Mas." ujar Arin seraya berlalu menuju lantai bawah.


di lantai bawah, Arin yang sudah berada di sana, kini menatap ke arah Yeni dan Arka yang masih asik bermain di sana.


"Yen? kamu udah bawa keperluan Arka kan?" tanya Arin kepada Yeni.


"udah kok Nya!" jawab Yeni.


"Mamah?" panggil Arka kepada Arin dengan aksen anak kecil.


Arka beranjak menghampiri dimana Arin berada, dan kini anak kecil itu mengacungkan tangannya meminta sang Mamah untuk menggendong dirinya.


Srek..


Arin beranjak menggendong Arka dan membawa anak kecil itu menuju luar rumah dan diikuti Yeni yang berjalan di belakangnya.


di luar, terlihat Romi yang sudah menyiapkan mobil yang akan mereka gunakan untuk membawa mereka menuju kebandara.

__ADS_1


"Selamat pagi Nya?" ucap Romi kepada Arin.


"pagi!" jawab Arin dengan senyuman.


selang beberapa menit, tampak Ardan yang baru saja keluar dari dalam rumah, dan bergegas menuju ke mobil yang dimana sudah ada Arin dan Arka menunggu nya.


terlihat pria itu tengah menelpon seseorang, entah siapa yang selalu Ardan hubungi saat ini.


cklek..


Bamm.. suara pintu di tutup.


"Apa masih ada yang tertinggal?" tanya Ardan kepada Arin yang sudah berada di dalam mobil mereka.


"mmh nggak ada kayak nya!" jawab Arin.


"okeh.. Rom, kita berangkat saja." pinta Ardan keoada Romi.


"baik Tuan!" sahut Romi yang kini melajukan mobil itu, meninggalkan perkarangan rumah, menuju bandara.


Di dalam perjalanan tampak Arka yang selalu sibuk bermain dengan Ardan, yang kini anak kecil itu duduk di pangkuan sang Papah.


"apa dia tidak lelah?" tanya Arin yang masih menatap Arka.


"nanti juga dia akan lelah sendirinya, biar dia main dulu!" jawab Ardan yang masih ikut menemani Arka bermain.


Beberapa menit, Arka yang tampak sudah terlihat mengantuk, dan kini anak kecil itu bersandar di tubuh sang Papah seraya meminum susu.


Arin yang melihat kearah Arka, seketika dirinya tersenyum menatap lucu tingkah anak kecil itu saat ingin tidur.


pukul 11.00


Bandara internasional.


Mereka yang sudah tiba di sana, Arin yang kini berada di dalam mobil beranjak keluar dari sana dan diikuti Ardan seraya menggendong tubuh Arka yang masih tertidur di pelukannya.


trak..


Bamm...


trak..trak.. suara langkah kaki berjalan memasuki bandara tersebut.


di dalam bandara, yang begitu banyak para calon penumpang pesawat, tampak satu persatu dari mereka menatap kehadiran Arin begitu juga yang lainnya di sana.


Arin yang sudah mulai terbiasa akan tatapan banyak orang kepadanya, kini tak menghiraukan tatapan tatapan tersebut.


"sayang?" panggil Ardan kepada Arin.


"iya Mas." sahut Arin.


"Mas mau kesana sebentar, kamu gak papa kan Mas tinggal dulu sama Yeni berdua, Mas mau kesan sama Romi!" ucap Ardan kepada Arin.

__ADS_1


"iya Mas gak papa kok, Arka biar sama Arin aja Mas!" Ujar Arin kepada Ardan.



__ADS_2