
"tuan.. orang yang anda minta sudah datang" Ardan melihat kearah Romi dan gadis itu.
"hemm baiklah!"
"Selamat siang Tn, Tn meminta saya datang kemari untuk membicarakan baju pernikahan anda Tn!" Ucap gadis itu kepada Ardan.
"baiklah... kamu tunjukan baju yang cocok untuk gadis yang di sebelah saya!" ucap Ardan seraya menunjuk kearah Arin, gadis itu tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
"baik Tn, mari Nona ikutlah dengan saya, anda bisa memilih gaun yang cocok untuk anda!" Ucap gadis itu kepada Arin yang masih diam mematung disana.
Arin menatap Ardan sekilas Ardan yang tau Arin menatapnya segera menyuruhnya ikut bersama orang itu
"kenapa masih diam, pergilah." ucap Ardan kepada Arin, Arin segera berlalu menuju ruangan untuk emncari gaun yang harus dia kenakan.
Sebelum Arin benar benar pergi Ardan berkata.
"saat kau sudah menentukan gaun yang mana cocok untuk mu, tunjukan kepadaku nanti!" Ucap Ardan yang kini kembali pokus menatap layar laptopnya.
Arin tidak menyahuti perkataan Ardan dan kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan dimana wanita penata busana itu berada.
***
"silahkan masuk Nona! Tn Ardan sudah menyiapkan beberapa gaun yang harus anda pilih nanti, yang cocok untuk anda Nona." ucap tata busana itu kepada Arin.
yang kini menatap ke tiga gaun yang sudah berada di hadapannya.
"apa aku harus mencoba ketiga tiganya?" Tanya kepada wanita itu.
"anda bisa mencobanya Nona." Ucap Wanita itu seraya memberikan gaun itu satu persatu kepada Arin
Arin menerima gaun gaun itu dan segera beranjak menuju ruang seraya mengganti pakaiannya menggunakan gaun yang pertama.
Deg...
Arin sektika membulatkan kedua matanya menatap apa yang kini dirinya lihat.
"apa ini tidak terlalu berlebihan?" gumam Arin yang kini menatap bagian dadanya yang terlalu terbuka.
"ahh tidak tidak.. mana mungkin aku menggunakan gaun ini!" Timpalnya lagi.
saat Arin ingin melepas kembali gaun itu, tiba tiba terdengan suara seseorang yang memanggilnya.
"Nona, apa kau sudah selesai? Tn memintamu untuk segera menunjukannya." ucap wanita itu kepada Arin yang masih berada di dalam kamar ganti.
"Eng... iya aku akan segera keluar" ucap Arin dari dalam sana, Arin menatap kemabali dirinya yang terpampang di cermin.
dan membuang napasnya dengan kasar, Arin segera keluar dari dalam sana dan menuju dimana Ardan berada.
__ADS_1
Cklek...
sret...
suara pintu terbuka Arin keluar dari dalam kamar tersebut dengan menggunakan gaun pertama.
Ardan yang mendengarkan suara langkah kaki kini mendongakan kepalanya dan menatap kearah suara tersebut.
Ardan menatap Arin dengan tatapan sedikit memicingkan matanya.
"eng.. ganti!" Ucap Ardan kepada Arin yang kini berada di hadapannya.
"eh?" Arin seketika membalas tatapan Ardan kepadanya mendengar apa perkataan dari peria itu.
"saya bilang ganti.. kamu mau pakaian begitu hh, itu terlalu terbuka ganti!!" Ucap Ardan kepada Arin seraya menatap gadis itu dari ujung kepala hingga kaki.
"Eng.. baiklah" Arin segera berlalu pergi menuju ruang ganti, tak lama Arin kini kembali keluar dengan gaun yang kedua.
Ardan yang masih setia menunggu Arin mengganti pakaian kini menatap kedatangan gadis itu untuk kedua kalinya.
Ardan menatap Arin yang baru saja keluar dari sana segera menyuruhnya untuk mengganti pakaiannya lagi.
Arin seketika megerutkan alisnya dan menatap peria itu dengan tatapan kesal.
"tapi mas belum lihat?" Ucap Arin yang masih berdiri di ambang pintu.
"saya bilang ganti ya ganti Arin" ucap Ardan lagi tidak peduli dengan Arin yang sudah mulai terlihat kesal.
Arin membanting sedikit pintu itu dan kembali masuk untuk mengganti gaun yang ketiga.
"ck.. jika dia menyuruh ku menganti pakaian lagi, sungguh aku tidak akan menurutinya" gerutu Arin dan kini kembali keluar dari sana.
tak.. tak..
suara langkah kaki, Ardan seketika mengalihkan pandangannya menatap Arin yang baru saja keluar dari dalam sana.
"eng...." belum sempat Ardan bersuara tiba tiba Arin menyela perkataan Ardan.
"kalau mas Ardan suruh Arin ganti lagi, mas Ardan aja kalau gitu yang pilih bajunya, ribet tau gak mas" ucap Arin yang sudah mulai kesal kepada Ardan.
"saya mau bilang, gaun itu cocok untuk kamu... sudah yang itu saja tidak terlalu terbuka dan tidak juga terlalu tertutup" ujar Ardan seraya beranjak dari tempat duduknya.
"eh.. mas mau ngapain?" Tanya Arin seketika memundurkan langkahnya seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"kenapa? Saya cuma mau ambil sesuatu di ruangan saya!" jawab Ardan seraya menatap Arin dengan tangan yang masih menyilang di depan dadanya.
"Oh.. baiklah" sahut Arin yang kini mengubah posisinya.
__ADS_1
"ini, saya ambil gaun yang ini saja!" ucap Ardan seraya mengeluarkan kartu pembayaran.
"baik Tn." sahut wanita itu seraya mengambil kartu itu dan segera melakukan transaksi pembayaran.
"Ini Tn kartunya, saya permisi dulu kalau begitu." Ucap wanita seraya berlalu.
Ardan menganggukan kepalanya dan kini beralih menatap Arin yang masih berada disana dengan gaun yang dia kenakan, Ardan beranjak menghampiri Arin dan menatap lekat gadis itu.
"mm mas Ardan kenapa?" Tanya Arin bingung dengan tatapan Ardan.
"bersiaplah, nanti sepulang saya dari kantor kita akan melakukan pernikahan." ucap Ardan yang kini beranjak keluar dari ruangannya.
"APA? menikah? Hari ini? Kok mendadak sih Mas?" Ucapa Arin dengan wajah kaget.
"Lebih cepat lebih baik!" Sahut Ardan sedikit berteriak dari luar ruangannya.
Arin menghentakan kakinya dan mendengus kesal dengan perkataan Ardan.
"ck" gumam Arin yang kini menatap jauh kepergian Ardan dari ruangannya.
***
pukul 11.00
kini Arin dan Ardan telah berangkat menuju sebuah gereja, di sepangjang perjalanan Arin hanya terlihat diam dan tidak berbicara sedikit pun, Ardan yang berada di samping Arin kini beralih menatap gadis itu.
Tak lama kini mereka telah tiba, Ardan beranjak keluar dari dalam mobil dan di ikuti Arin di belakangnya.
"kita masuk sekarang!" Ucap Ardan yang kini berjalan mendahului, Arin menatap kosong gereja tersebut dan seraya menarik napasnya berat.
Arin segera beranjak mengikuti Ardan yang kini sudah masuk terlebih dahulu, saat dirinya sudah berada di ambang pintu Arin seketika tersentak kaget.
disana sudah ada beberapa orang yang telah di siapkan Ardan, Arin segera menghampiri Ardan dan kini berdiri di sampingnya.
"mas? Mereka semua siapa?" Tanya Arin penasaran denga orang orang yang berada di sana.
"orang orang yang ku bayar untuk menjadi saksi kita" ucap Ardan. Arin yang mendengar perkataan Ardan seketika bergumam.
Tak lama kini pendeta memulai acara untuk pernikahan mereka, pendeta segera membacakan beberapa ikrar untuk mereka berdua, dan diikuti oleh mereka berdua.
saat ikrar itu telah selesai pendeta tersebut seketika berkata
"Baiklah kalian sekarang sudah resmi menjadi pasangan suami istri!"
untuk mereka berdua, tanpa sadar sesuatu mengalir di kedua bola mata Arin dan jatuh membasahi pipihnya.
Arin menangis dalam diam mendapati kini dirinya telah resmi menjadi istri dari peria yang ia benci.
__ADS_1
Ardan yang mengetahui Arin menangis hanya menatapnya tanpa bersuara.