Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Ulang Tahun Arin


__ADS_3

"sebentar lagi, saya belum ngantuk" jawab Ardan tanpa memalingkan wajahnya.


yang masih pokus memainkan handphone nya, Arin mendengus kesal melihat Ardan yang begitu pokus memainkan handphone nya.


Srak....


Arin seketika mengambil ponsel itu dan membawanya tidur bersamanya.


Ardan tersentak kaget dan kini menatap Arin diam tak berani berbicara.


Arin kini merebahkan tubuhnya dan membelakangi Ardan yang masih menatapnya.


"Arin..handphone saya? Kamu bawa tidur!" Ucap Ardan yang kini menyentuh Arin.


Arin tak menghiraukan perkataan Ardan melainkan hanya tersenyum mendengar ocehan Ardan yang memintanya untuk mengembalikan ponselnya.


Ardan yang merasa dirinya tak dihiraukan, seketika menggelitik tubuh Arin.


Arin seketika tertawa dan kini mengubah posisinya menghadap Ardan yang masih menggelitik tubuh nya.


"akh.." pekik Arin, yang merasa perutnya tiba tiba sakit,.


"Arin..kamu kenapa?" Tanya Ardan seketika panik.


"perut Arin sakit mas" sahut Arin yang kini berhenti tertawa.


"eng... apa masih sakit?" Tanya Ardan seraya mengelus perut Arin yang sudah terlihat membesar.


Deg...


Ardan seketika kaget merasakan sesuatu menendang tangannya.


Kini Ardan hanya diam terpaku menatap kearah Arin yang masih melihatnya seraya menahan tawanya.


"mas Ardan kenapa?" Tanya Arin yang kini membuyarkan lamunan Ardan.


"apa ini tidak sakit" tanyanya merasakan tendangan kecil di perut Arin.


Arin menggelengkan kepalanya dan kini beranjak bangun dan duduk di kasur, Ardan kini kembali menatap Arin yang duduk di hadapannya.


Arin seketika beranjak turun dari tempat tidurnya, seraya mengambil ponsel miliknya di meja ujung, Arin kini beralih menatap ponselnya dan tersenyum, ntah apa yang sedang dipikirkannya.


Ardan yang dari tadi menatap Arin yang kini menuju meja ujung seraya menghampirinya.


"apa yang kamu lihat?" Tanya Ardan seraya menatap kearah ponsel Arin.


"hemm tidak ada mas" jawab Arin yang kini menuju tempat tidurnya lagi seraya meletakan ponselnya di meja.


Ardan mengerutkan alisnya menatap heran kearah Arin, Ardan kini beranjak mendekati Arin dan ikut berbaring di sana.


Bruk..


satu pelukan kini mendarat ditubuh kecil Arin, Ardan menatap wajah Arin dengan sangat lama.


seraya menyelipkan sisian rambut ditelinganya, beberapa menit kini Arin telah tertidur pulas.


Ardan yang dari tadi bingung dengan apa yang Arin sembunyikan, seketika kini dirinya beralih mengambil ponsel itu seraya membukanya.

__ADS_1


Cklek..


suara handphone terbuka.


Ardan mencari cari sesuatu disana, namun seketika Ardan menemukan sesatu dan segera membukanya.


Ardan menatap layar itu cukup lama, kini tampak diwajahnya senyuman penuh arti, ntah apa yang Ardan pikirkan saat ini.


Ardan kini kembali meletakan ponsel itu di meja tempat tidur.


"selamat malam sayang" ucap Ardan seraya mencium pucuk kening Arin lembut dan kini merebahkan tubuhnya di samping tubuh Arin dan bergegas untuk tidur.


***


Kini malam telah berganti pagi, suara burung yang begitu tampak jelas didengar mambangun kan Arin dari tidurnya.


Arin mengerjapkan kedua matanya menatap seluruh penjuru kamar itu, Arin kini beralih menatap Ardan.


namun tidak ada sosok itu di tempat tidur, Arin segera beranjak turun menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


beberapa jam kini Arin tampak sudah selesai dengan menggunakan baju yang sedikit terbuka.


trak.. trak..


suara langkah kaki.


Arin beranjak turun menuju lantai bawah, seraya menatap seluruh isi rumah itu.


namun tidak tampak satu pun orang disana, Arin menatap heran apa yang terjadi.


"mas Ardan kemana?"


"Mah.. ?Pah...?" gumam Arin yang kini meneriaki nama penghuni rumah itu, namun tak ada jawaban dari sana.


Arin kini terlihat murung seraya duduk di sofa.


"bi Yan?, Mas Ardan sama yang lainnya kemana?" Tanya Arin yang kini melihat salah satu asisten rumah tangga.


"eh.. Nyonya, eng... bibi gak lihat Nya, kemana Tn dan Ny besar pergi, begitu juga Tn muda yang lainnya" jawab Bi Yan kepada Arin.


Arin hanya terdiam memikirkan kemana mereka semua pagi pagi begini.


meninggalkannya sendirian disana, Arin kini terlihat kesal dan berencana untuk keluar.


Arin membuka ponselnya seraya mencari nomor seseorang.


trut.... trut...


"hallo?" Ucap Arin kepada seseorang dari sebrang telepon.


"Hallo Arin? Kenapa? Apa kau perlu sesuatu?" Tanya orang itu kepada Arin.


"Fina!.. apa hari ini kau sibuk?" Tanya Arin kepada orang itu yang ternyata Fina.


"tidak..! kau ingin apa?" tanya Fina balik.


"aku ingin mengajak mu keluar" ucap Arin yang masih duduk di sofa.

__ADS_1


"hemm baiklah" jawab Fina.


"hemm nanti kita ketemu di tempat biasa" sahut Arin seraya mengakhiri panggilan.


Arin kini beranjak bangkit dari tempat duduknya dan menuju keluar rumah.


Arin berjalan menuju jalan tol seraya menunggu taxi, tak lama sebuah taxi tiba.


Arin kini beranjak masuk kedalam taxi tersebut dan membawanya menelusuri pusat perkotaan.


Di cafe Arin kini telah tiba disana, "Arin?" Panggil seseorang yang ternyata Fina telah tiba duluan disana, Arin menghampiri sahabatnya itu yang sudah lama ia rindukan.


"apa yang kau bawa?" Tanya Arin bingung kepada Fina dengan tangan yang membawa paperbag.


Fina teesenyum seraya mengulurkan paperbag itu kepada Arin, "eng..." gumam Arin bingung.


"hh.. kau ini, ini hadiah untuk bumil.


selamat ulang tahun Arin" ucap Fina seraya memeluk tubuh Arin, "jadi ini hadiah untuk ku? Makasih Fina" jawab Arin dengan mata yang ingin menangis.


"ey kau menangis... cup.. cup.. sudah sudah, kau ini tidak perlu seperti itu, sudah kita masuk sekarang" ujar Fina seraya menarik tangan Arin menuju dalam cafe.


***


saat mereka telah berada disana, Arin seketika mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya.


dan memberikannya kepada Fina, Fina menatap heran kota itu dan kini matanya beralih menatap Arin yang tersenyum kearahnya.


"apa ini?" Tanya Fina dwngan wajah bingung.


"hemm buka lah" ujar Arin kepada Fina.


Deg...


Fina seketika menatap kaget isi dari kotak itu, tak percaya dengan apa yang dirinya lihat,


"apa kau menyukainya?" Tanya Arin kepada Fina.


"apa kau yang membelinya?" Tanya Fina dengan masih wajah tak percaya.


Arin menganggukan kepalanya dan kini meminum minumannya.


"kau memberikan ku sebuah Dompet! Kau tau ini sesuatu yang ku impikan selama ini" Ucap Fina seraya melihat lihat dompet itu.


"ck.. sebenarnya aku sudah lama ingin memberikan itu kepadamu saat hari ulang tahunmu, tapi.... selalu sibuk" ujar Arin menjelaskan.


"hmm makasih" ucap Fina dengan mata yang berbinar


Arin tersenyum lembut kearah sahabatnya itu.


"oh.. bentar lagi anak anak ingin mengadakan reuni, apa kau akan ikut?" Tanya Fina yang kini menatap Arin intens.


"hemm kapan?" Tanya Arin balik.


"huh.. mungkin beberapa minggu lagi" jawab Fina Arin menganggukan kepalanya seakan akan mengerti.


__ADS_1


__ADS_2