Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Kedatangan Sofia


__ADS_3

Tokk.. tokk..


suara pintu di ketuk, dari dalam kamar Ardan kini berjalan menuju pintu kamarnya.


dan seraya membuka siapa yang saat ini tengah mengganggunya.


"Loh.. Sofia?" Ujar Ardan yang kini menatap kehadiran Sofia di sana.


"oh.. Pak.. ini ada berkas dari 𝐆.𝐈 𝐆𝐫𝐨𝐮𝐩, dan beberapa dokument minggu lalu yang harus anda tanda tangani" ujar Sofia kepada Ardan yang masih berada di depan kamarnya.


"oh.. masuklah" ucap Ardan kepada Sofia.


Sofia kini beranjak masuk kedalam kamar itu dan seketika dirinya kini di kejutkan dengan sosok gadis yang tengah tertidur di atas tempat tidur Ardan.


Sofia menatap lekat tubuh itu dan kini matanya tertuju kearah tempat tidur anak kecil.


seraya bergumam dalam hatinya memikirkan siapa yang saat ini tengah berada di kamar Tn Ardan.


"Sof, mana berkasnya?" Tanya Ardan yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.


"oh.. ini pak" sahut Sofia yang kini memberikan berkas tersebut kepada Ardan yang tengah duduk di sofa kamar.


Sofia yang masih penasaran kini sesekali memandang kearah tempat tidur itu, Ardan yang menyadari pandangan Sofia seketika bersuara.


"apa yang kamu lihat?" Tanya Ardan yang kini menatap kearah tempat tidur.


"oh.. eng.. itu siapa ya pak? Kok baru kali ini saya lihat?" Tanya Sofia penasaran akan sosok gadis yang tengah tertidur di sana.


"ehmm.. istri saya" jawab Ardan spontan.


Sofia seketika membulatkan kedua bola matanya menatap Ardan mendengar jawaban dari peria itu.


"I istri pak Ardan? kok saya baru tau?" Ujar Sofia dengan wajah masih kaget.


"emang saya harus kasih tau kamu, soal siapa istri saya!" jawab Ardan dingin.


"eng.. tidak pak" sahut Sofia sedikit kikuk.


kali ini mata Sofia menatap kearah tempat tidur bayi, namun saat dirinya hendak bertanya seketika seseorang masuk kedalam kamar itu.


"Ardan? Arin masih tidur?" Tanya orang itu yang ternyata Aziah yang tiba di dalam kamar Ardan.


"eng.. kenapa Mah?" Tanya Ardan yang kini beranjak menghampiri Mamahnya.


"Arka dari tadi nangis, kayanya mau susu deh" ujar Aziah kepada Ardan.


"oh.. sini biar Ardan aja yang gendong Mah" tukas Ardan seraya mengambil alih Arka dari gendongan mamahnya.


Sofia lagi lagi di buat kaget, menatap sosok bayi yang berada di gendongan Ardan.


"apa itu juga anak pak Ardan?" Gumamnya pelan seraya membawa berkas yang tadi di berikannya kepada Ardan barusan.


"eng.." gumam Sofia yang kini berdiri di hadapan Ardan.


"kenapa?" Tanya Ardan yang masih menggendong Arka di pelukannya.

__ADS_1


"saya permisi dulu pak" sahut Sofia sedikit membungkukan kepalanya.


"oh.. baiklah" jawab Ardan yang kini beralih menuju tempat tidur.


Seraya membangunkan Arin untuk memberikan Arka asi.


***


namun di luar kamar Sofia yang masih kaget mendengar berita itu, tanpa sadar.


dari arah jauh Fian yang memanggilnya tak di hiraukan olehnya, Fian kini beranjak menghampiri Sofia.


"apa yang kamu pikirkan?" Tanya Fian tiba tiba.


"Ahhh...!!" Sorak Sofia kaget mendengar perkataan Fian kepadanya.


"kamu kenapa teriak?" Tanya Fian bingung.


" oh.. eng.. tidak tidak ada apa apa Tn" sahut Sofia kepada Fian yang kini berdiri di hadapannya.


"kamu tau tadi saya manggil?" Tanya Fian kepada Sofia.


"eng.. hehe maaf Tn saya tidak dengar, kalau Tn manggil saya" jawab Sofia dengan senyum kikuk.


" huh.. baiklah, okeh begini tolong kamu sampaikan sama yang lainnya buat persiapan acara minggu depan di, 𝐈𝐧𝐬𝐨𝐮𝐥𝐜𝐢 𝐑𝐞𝐟𝐟𝐚𝐞𝐫𝐬, akan ada pengangkatan Direktur baru minggu depan" ujar Fian kepada Sofia.


"pengangkatan Direktur baru?" Gumam Sofia penasaran.


"loh.. emang siapa yang akan jadi Direktur Tn?" tanya Sofia kepada Fian.


Sofia kini berlalu pergi menuju luar rumah itu dan kembali ke perusahaan.


***


di dalam kamar, kini tampak Arin yang sudah bangun dari tidurnya seraya memberikan asi kepada Arka.


tak lama dari luar kini tampak Fian yang beranjak masuk kedalam sana.


Arin yang mengetahui Fian masuk sontak dirinya kini menutupi dadanya menggunakan selimut.


Ardan yang menyadari Arin seperti itu seketika matanya kini beralih menatap datangnya seseorang.


"Kak?" Panggil Ardan yang melihat sosok Fian yang kini berada di dalam kamarnya.


Fian hendak menghampiri Ardan namun dengan cepat dihentikan oleh Ardan.


"kenapa?" Ucap Fian bingung, dan kini matanya melihat kearah belakang Ardan.


"ck.. kau ini kenapa kau datang tiba tiba" tanya Ardan kepada Fian.


"eng.. kenapa?" Tanya Fian bingung.


"kakak ipar, aku sedang memberikan Asi kepada Arka, hem ma Ardan jika kalian ada keperluan, pergilah keruang kerjamu" ujar Arin yang masih berada di belakang Ardan.


"hemm baiklah, kak lebih baik kau ikut aku keruanganku, apa yang ingin kau bicarakan" ucap Ardan seraya mendorong Fian menuju ruang kerjanya

__ADS_1


"eh.. baiklah" sahutnya.


***


malam sudah, kini tampak Arin yang sudah membersihkan tubuhnya, hendak kembali kekamarnya.


di dalam kamar terlihat Ardan yang kini tengah bermain bersama Arka di tempat tidur.


Arin menatap senyum kearah mereka berdua, Arin beranjak menghampiri Ardan dan duduk di sampingnya.


"sudah selesai?" Tanya Ardan kepada Arin yang kini duduk di sampingnya.


"hemm sudah" jawab Arin seraya mencium pipih chabi Arka, yang masih terjaga.


"sayang Mamah belum tidur?" Tukas Arin yang kini bermain dengan Arka.


Ardan menatap senyum kearah kedua orang yang saat ini begitu dirinya sayangi.


Ardan mengelus lembut rambut Arin seraya menyelip sisian rambut di telinga Arin.


"kamu belum tidur?" Tanya Ardan kepada Arin yang masih duduk di sampingnya.


"belum mas, mas Ardan sendiri belum tidur?" tanya Arin kepada Ardan.


"nanti mas belum ngantuk" jawab Ardan yang kini menyandarkan tubuh Arin di pelukannya, seraya menciumi wajah Arin.


"hek..." seketika Arka bersuara.


Arin kini beranjak menggendong Arka di pelukannya, dan kembali menyandarkan tubuhnya di dada Ardan.


"Oh ya mas, tadi... kak Fian bicara apa?" Tanya Arin kepada Ardan.


"hemm soal pengangkatan Direktur baru" jawab Ardan kepada Arin, Arin mengnggukan kepalanya seakan akan mengerti.


"oh ya mas, siapa yang akan diangkat jadi direktur baru?" tanya Arin.


"mas juga tidak tau.. siapa, Fian cuma bilang ada pengangkatan Direktur baru saja sama mas" ujar Ardan, Arin kini menganggukan kepalanya.


"oh.. ya minggu depan kamu ikut mas ya!" Ucap Ardan lagi.


"eng.. kemana?" Tanya Arin bingung.


"hemm nanti..." belum sempat Ardan melanjutkan perkataanya seketika Arin menyela.


"Nanti kamu juga bakalan tau sendiri..... mas Ardan suka banget buat Arin penasaran tau gak" ujar Arin melanjutkan perkataan Ardan.


Ardan seketika tertawa kecil melihat Arin sedikit kesal kepadanya.


Ardan kini beralih menatap Arka yang masih berada di gendongan Arin.


"apa dia sudah tidur?" Tanya Ardan yang kini melihat kearah Arka yang masih berada di pelukan Arin.


"kenapa dia belum tidur?" Gumam Ardan bingung melihat Arka yang belum kunjung tidur.


__ADS_1


__ADS_2