Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Acara Keluarga


__ADS_3

dengan sekuat tenaga Ardan dan Arin berlari menuju sebuah pagar yang dimana disana meruapakan pintu keluar dari Zombie House.


srek.. Brak..


Ardan membanting keras pagar itu dan menutupnya kembali


"aah.. hh" suara nafas tak teratur


"haha..." Arin seketika tertawa lepas meski ada rasa sedikit takut di hatinya.


namun saat dirinya menatap wajah Ardan yang terlihat takut sekita tawanya pecah.


"kamu kenapa ketawa?" tanya Ardan yang kini tersandar di sebuah dinding.


"haha.. mas Ardan haaha mas larinya kok cepet banget" sahut Arin dengan wajah masih tertawa.


"ah aah.. sudah saya bilang jangan main yang beginian, kamu tau saya hampir jantungan" sahut Ardan dengan wajah lelah


Arin seketika menatap Ardan dan kini menghampirinya.


srek


Arin seketika melingkarkan tangannya di leher Ardan dan menatap lekat wajah peria itu yang kini berdiri tepat di hadapannya, begitu juga dengan Ardan.


menatap Arin yang kini berdiri di hadapannya, Arin seketika menutup wajahnya di dada Ardan dan lagi lagi tawanya pecah mengingat wajah Ardan yang masih ketakutan seperti tadi.


Ardan seketika tersenyum dan kini mencium pucuk kening Arin dan seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping Arin.


Arin yang merasa sesuatu memeluk di tubuhnya kini matanya beralih menatap Ardan yang ternyata memeluknya, Ardan tersenyum dan seketika.


Deg...


sebuah ciuman kini mendarat di bibir mungil itu, Ardan mencium lembut bibir itu dan sedikit **********, Arin menatap senyum Ardan dan kini memejamkan matanya seraya membalas ciuman itu.


***


Beberapa bulan telah berlalu, di kediaman Azhendra, terlihat di sebuah taman belakang rumah itu seperti ingin mengadakan sebuah acara kecil kecilan.


"mas..Arka mana?" Tanya Arin kepada Ardan yang kini bersiap siap ingin kekantor.


"eng.. sama Mamah mungkin" jawab Ardan yang masih sibuk memakai jamnya.


Arin yang melhat Ardan kesulitan kini mengambil alih jam itu seraya memakai kannya di lengan Ardan.


"mas Ardan mau berangkat, jangan pulang malam, ingat nanti bakalan ada saudara dari Mamah sama Papah datang" ujar Arin mengingatkan.


"hemm iya, mas tidak...." belum sempat Ardan melanjutkan perkataanya seketika Arka menangis menatap Ardan yang kini berada jauh dari hadapannya.


Arin kini beranjak mengambil Arkah dari ibu mertuannya dan membawanya mendekati Ardan.


Cup...


Ardan mencium lembut pipih Arka, dan kini hendak keluar, namun lagi lagi.. Arka menangis tak henti.

__ADS_1


"loh.. kenapa?" Tanya Ardan seketika menghentikan langkahnya.


"sayang.. Papah Ardan mau kerja, Arka gak boleh ikut, sama Mamah aja ya" ujar Arin kepada Arka, namun pecuma Arka menangis meminta Ardan untuk mrnggendongnya.


" Ardan.. lebih baik kamu gendong, kamu gak usah kerja lagi hari ini" ujar Aziah yang kini ikut berbicara.


"loh.. Mah.. kan..." belum sempat Ardan melanjutkan perkataanya lagi, seketika Aziah menyela.


"kamu lihat Arka dari tadi memintamu untuk menggendongnya, kamu mau anak mu nangis seharian" ujar Aziah kepada Ardan.


Ardan kini berlalu mengambil Arka dari Arin dan menggendongnya


"sini sama Papah" ucap Ardan menenangkan Arka, tak lama Arka berhenti menangis dan tersenyum kearah Ardan.


Arin kini membantu Ardan melepaskan jas nya dan memberikan baju ganti untuk Ardan.


"sama Mamah dulu, nanti Papah gendong lagi" ujarArdan memberikan Arka kepada Arin dan bergegas mengganti bajunya.


saat dirinya sudah selesai Ardan kini bergegas mengambil kembali Arka dan menggendongnya, Arin tertawa melihat tingkah Arka seperti itu,


"ehem.. gak diizinin buat kekantor dong dari anaknya" ejek Arin yang kini berjalan mendahuli Ardan.


Ardan seketika menatap Arin dan berlaih menatap Arka yang masih tersenyum kearah Ardan.


"lagi lagi.. kamu ya, nyuruh Papah gak ngantor lagi" tukas Ardan seraya mencolek hidung mungil Arka.


***


"sayang...?" Panggil Ardan yang berada jauh dari belakang, Arin mengalihkan pandangannya menatap Ardan yang kini berjalan menghampirinya.


"kenapa?" Tanya Arin kepada Ardan yang sudah berada di hadapannya.


"ibu sama ayah udah kamu beritahu, buat datang kemari?" Tanya Ardan kepada Arin.


"hemm sudah, mungkin setelah ayah pulang dari kantor, mereka akan kemari" jawab Arin seraya melingkarkan tangannya di tangan Ardan.


Cup..


Arin mencium pipih Arka, "cuma Arka doang.. Papah nya nggak gitu?" sahut Ardan melihat Arin yang menciumi pipih Arka.


"kamu kan udah sering Mas" ujar Arin yang kini melanjutkan langkahnya menuju halaman belakang.


"eh.."gumam Ardan seraya mengikuti Arin.


di halaman belakang tampak dari jauh Liam dan Fian tengah sibuk membuat sesuatu.


"ck.. bukan begitu, kau selalu saja salah melakukannya" gumam Liam kepada Fian.


"ck... kalau begitu kau saja, yang melakukannya kenapa juga aku harus repot repot, melakukan semua ini" ujar Fian seraya memberikan sesuatu kepada Liam.


Liam seketika membulatkan kedua matanya melihat tumpukan kayu bakar di hadapannya.


"ya.. kakak, bagaimana bisa kau membiarkan ku melakukan semua ini sendirian, Hei..." panggil Liam kepada Fian yang kini sudah berlalu pergi,

__ADS_1


"ahh.." gumam Fian yang merasa pusing di kepalanya,


"kau kenapa?" Tanya Ardan yang kini berada di hadapan Fian.


"hemm tidak hanya pusing saja" jawab Fian,


"hai.. keponakan Om, kenapa kau selalu saja meminta Papah mu menggendong mu hem?" Tanya Fian yang kini melihat Arka di gendongan Ardan.


Arka seketika tertawa melihat Fian yang berbicara kepadanya.


"Kak.. lebih baik kau masuk saja, biar aku yang akan membatu Liam menyelesaikannya" ujar Ardan kepada Fian.


Fian menganggukan kepalanya dan kini berlalu menuju dalam rumah. Ardan kembali melangkah kan kakinya menuju dimana Arin berada.


"sayang?" Panggil Ardan kepada Arin.


"hemm iya" sahut Arin yang kini menatap keberadaan Ardan.


"Arka, sama Mamah aja dulu okeh" ucap Ardan kepada Arka, seraya memberikan Arkan kepada Arin.


"mas mau sama Liam, Arka sama kamu dulu" ujar Ardan kepada Arin.


Arin menganggukan kepalanya dan kini menggendong Arka seraya menganjaknya bermain di halaman belakang rumahnya.


Ardan bergegas menghampiri Liam yang terlihat kecapean.


Srek..


Ardan mengambil satu kapak dan meletakan sebuah kayu di hadapannya dan..


PRAKK..


kayu bakar itu terbelah menjadi dua dengan sempurnah.


"kakak?" Ucap Liam melihat Ardan yang berada di hadapannya


"hemm" gumam Ardan yang masih pokus melakukan aktifitasnya.


"Sejak kapan kau kemari?" Tanya Liam yang ternyata baru menyadari keberadaan Ardan di sana.


"baru saja" jawabnya singkat.


***


tak lama dari kejauhan terlihat Tn Kennan dan Ny Rita telah tiba disana.


"oh.. bukan kah itu Tn Kennan dan Ny Rita!"ujar Liam yang melihat kedatangan Tn Kennan dan Ny Rita.


Ardan spontan mengalihkan pandangannya menatap kearah datangnya Ayah dan Ibu mertuanya.


"Kak.. apa ini sudah cukup?" Tanya Liam yang melihat tumpukan kayu bakar di sampingnya.


__ADS_1


__ADS_2