
Namun di lain sisi di sebuah dapur terlihat Ardan yang sudah berada disana, yang kini duduk di salah satu bangku kosong dengan secangkir kopi yang tersedia di hadapannya.
Ardan yang masih duduk disana tempak terlihat pria itu yang kini tengah menatap sebuah surat kabar pagi itu, Arin yang baru saja selesai mengganti pakaiannya berencana menuju dapur untuk sarapan, tiba tiba di kagetkan dengan kehadiran Ardan.
Arin menghentikan langkahnya dan berencana kembali kedalam kamar, namun Ardan yang sudah mengetahui keberadaan Arin di ambang pintu ruang itu, seketika dirinya bersuara.
" mau kemana?" Tanya Ardan kepada Arin tanpa memalingkan pandangannya yang masih membaca surat kabar.
Arin seketika menghentikan langkahnya dan kini membalikan tubuhnya menghadap kearah pria itu yang masih duduk jauh di hadapannya.
" eng.. aku mau kekamar " sahut Arin.
Ardan seketika menatap kearah dimana gadis itu berada.
" apa kau tidak mau sarapan?, kemarilah, duduk disini " tukas Ardan meminta Arin untuk duduk disana.
Arin berjalan menghampiri Ardan dan kini duduk di salah satu bangku yang agak jauh dari pria itu.
Tak lama anak buah Ardan datang dan membawa beberapa bungkus makanan untuk mereka berdua sarapan,
" Makanlah " ucap Ardan kepada Arin, Arin hanya menganggukan kepalanya dan sembari memakan makanan tersebut.
Ardan yang masih fokus membaca seketika kini beralih menatap kearah gadis itu yang tengah menyantap sarapannya.
" apa masih sakit? " Tanya Ardan tiba tiba, Arin tersedak mendengar perkataan Ardan, sembari bergumam dalam hati.
" eng.. masih, masih sakit bahkan aku sulit untuk berjalan " jawab Arin kepada Ardan, Ardan terdiam mendengara perkataan Arin kepadanya barusan.
" maksudku apa kau masih demam? " Tanya Ardan seketika, membuat Arin mengalihkan pandangannya kearah pria itu.
Arin mengernyitkan dahinya tak mengerti apa yang di katakan pria kejamitu kepadanya.
" kenapa kau menatapa ku seperti itu hmm? " timpal Ardan yang ternyata mengetahui pandangan gadis itu kepadanya.
" apa maksudmu aku demam? " Tanya Arin balik yang masih terlihat bingung.
" ck.. kau demam semalam, kau bahkan mengigau tak karuan, dan bahkan membuat tidurku terganggu semalaman " tukas Ardan kepada Arin.
" bagaimana tidak, kau menyiksaku semalaman, dan membuat seluruh tubuhku terasa sakit, bagaimana mungkin aku tidak menjadi sperti itu " sahut Arin yang sudah terlihat kesal.
Ardan hanya diam mendengar perkataan Arin, memang ini salahnya sampai sampai membuat gadis itu sakit akibat ulahnya, Ardan memalingkan wajahnya mengingat apa yang dirinya perbuat.
" benar.. aku sudah mengambil kesucian gadis ini, bukan kah si breng*** itu berkata kepadaku, kalau gadis ini sudah tidak suci lagi arrgh.." batin Ardan yang mengingat ingat kejadian tadi malam.
__ADS_1
" sudahlah lagian semua wanita itu sama, jika di beri uang semua masalah akan selesai bukan " gumam Ardan lagi di pikirannya.
Arin yang menyadari Ardan yang tengah mekamun seketika gadis itu bersuara membuyarkan lamunan pria itu.
" Tuan.. apakah aku boleh pulang sekarang? " tanya Arin yang membuyarkan lamunan Ardan,
" tidak..!!" Jawab Ardan singkat Arin memicingkan matanya dan menatap kesal pria di hadapannya saat ini ingin dirinya memaki maki dan mengahajar pria itu saat ini.
namun apalah daya dirinya hanya seorang gadis bahkan tubuhnya saja terbilang jauh lebih kecil dari pria yang duduk di hadapannya saat ini, paling palingan dirinyalah yang akan terkena imbasan,
" tuan aku ingin kuliah, ponsel dan tas ku masih berada disana, bagaimana bisa aku meberitahu bibi San tentang keberadaan ku, bisa bisa dia jatuh sakit akibat ku " ucap Arin yang mencoba meyakinkan Ardan.
Ardan kini beralih menatap intens Arin beberapa lama.
" Rom..kemarilah? " Panggil Ardan kepada salah satu anak buahnya yang bernama Romi.
Romi segera berjalan menghampiri Ardan
" iya Tuan.. ada apa tuan memanggil saya? " Tanya Romi kepada Ardan.
" kau.. pergilah bersama Romi kekampus, aku tidak akan mengizinkan mu untuk pergi sendirian bisa bisa kau kabur lagi seperti kemarin malam " ucap Ardan kepada Arin.
Arin membuang nafasnya dengan kasar dan beranjak pergi, Ardan menyuruh Romi untuk ikut bersama Arin menuju kampusnya.
***
suara pintu mobil yang di tutup begitu keras, Ardan yang melihat Arin begitu kesal hanya diam dan sembari menggelengkan kepalanya.
" ingat!! jaga dia, jika kau lalai kau akan menerima akibatnya." Ucap Ardan mengingati Romi.
" baik Tuan " jawab Romi sembari menundukan kepalanya.
" sudahlah.... kau boleh pergi sekarang. " ucap Ardan lagi Romi segera berlalu menuju mobilnya meninggalkan halaman itu dan menuju kampus dimana tempat Arin berkuliah.
selang beberapa lama, Arin yang baru saja tiba di kampusnya dan kini beranjak keluar dari dalam mobil itu.
BAMM
lagi lagi, Arin membanting pintu mobil itu, seketika Romi yang berada di dalam sana terhantak kaget, dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu.
di perjalanan menuju dalam kampus Arin masih terlihat sangat kesal sembari menggerutu, namun tiba tiba dari arah lain seseorang kini memanggil dirinya.
Arin yang mendengarkan namanya di panggil, sembari mengalihkan pandangannya kearah orang tersebut.
__ADS_1
" Oh Fina? " gumam Arin yang melihat kearah datangnya Fina.
" Rin, kemarin kamu kemana? kok tiba tiba hilang begitu saja, saat di bar kemarin? " Tanya Fina kepada Arin.
Arin seketika terdiam sejenak, memikirkan apa yang harus dirinya katakan kepada Fina.
" aku kemarin ada keperluan mendadak, jadi aku pulang terlebih dahulu " jawab Arin bohong.
Fina yang mendengar perkataan Arin kini hanya menganggukan kepalanya seakan akan mengerti.
tak lama mereka yang baru saja tiba di ruang kelas, Arin dan Fina segera duduk di bangku bangian belakang, dan sembari mengobrol sesuatu satu sama lain.
Di sisi lain di sebuah perusahaan besar yang di kota A, perusahaan I.C group, terlihat seseorang yang baru saja keluar dari mobilnya.
dan menuju masuk perusahaan itu, Ardan Azhendra pria yang kini baru menginjak usia ke 25 tahun itu tampak seperti memikirkan sesuatu yang saat ini, entah apa yang tengah dipikirkan oleh nya saat ini.
" tuan.. bukan disitu, tuan harus kesini, bukan kah tuan hari ini ada janji sama klien? " Ucap anak buah Ardan mengingatkan.
Ardan seketika menghentikan langkahnya, dan menepis semua yang ada di pikirannya saat ini, Arda segera menuju ruang dimana klien itu berada.
Cklek... suara pintu terbuka.
Ardan segera masuk kedalam sana, dan tampak seseorang yang tengah duduk menghadap sebuah jendela yang sedang menunggu dirinya.
Orang itu seketika mengalihkan pandangannya, dan kini menghadap Ardan yang baru saja tiba di ruangan itu.
" bagaimana kabar mu Ardan? " Tanya orang itu seraya tersenyum lembut kepada Ardan, Ardan membalas senyuman itu, sembari menghampiri keberadaan orang tersebut.
" keadaan saya baik tuan, lalu bagaimana dengan diri anda Tn Kennan? " ujar Ardan sembari bertanya, kepada orang itu yang ternyata Tn Kennan Aris wijaya.
" seperti yang anda lihat, saya baik baik saja " jawab Tn kennan kepada Ardan.
" mari silahkan duduk Tuan " ucap Ardan lagi.
Tn Kennan menganggukan kepalanya dan kini beranjak duduk di salah satu sopa di ruangan itu dan diikuti oleh Ardan sembari membicarakan soal kerja sama atas perusahaan.
***
Di lain sisi di sebuah kantin terlihat Arin dan Fina, kini mereka berdua sedang menikmati makanan yang mereka pesan, dan sembari bercerita.
namun dari arah pintu kantin terlihat segerombolan mahasiswi berjalan memasuki kantin itu, seperti layaknya seorang selebritis.
Fina dan Arin menatap kehadiran mahasiswi itu sedikit menunjukan ekspresi tak suka.
__ADS_1
...***...