
Di sisi lain Ardan yang sudah tiba di Gorden Kartival bersama Nadia, segera menemui kedua orangtuanya.
"Ardan, kau tampak tampan malam ini" ucap Nadia seraya melingkarkan tangannya di lengan Ardan.
Ardan tak menjawab perkataan Nadia, dan masih terus berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
"Ternyata kau juga hadir malam ini ya Ardan?" Ucap seseorang kepada Ardan, Ardan segera mengalihkan pandangannya kepada orang itu.
terlihat Fian yang tengah berdiri di hadapannya bersama seorang gadis di sampingnya, Ardan menatap Fian yang kini berjalan mengahampirinya.
"kau sudah sangat berubah ya Ardan!" Ucap Fian seraya memegang pundak Ardan, namun di tepis begitu saja.
"hemm jika tidak ada keperluan penting lebih baik aku pergi sekarang" ucap Ardan seraya ingin pergi.
"Ardan Azhendra?? Ck tampaknya kau begitu tidak mengerti arti dari sopan santun di usia mu yang sekarang" timpal Fian dengan senyum Smrik
"ahh.. benarkah, maafkan aku jika sikap ku itu membuatmu tersinggung." sahut Ardan yang kini melanjutkan perjalanannya.
namun saat dirinya hendak berbalik tiba tiba pandangannya teralihkan dengan sosok yang begitu tak asing di pikirannya.
Ardan menatap keberadaan gadis yang selama ini di carinya, namun saat hendak melangkah tiba tiba Ardan melihat seseorang yang kini berada di samping gadis itu.
"Liam?" Ucap Ardan tak percaya melihat keberadan Liam bersama Arin yang menjadi pasangannya.
Nadia menatap Ardan dengan bingung dan seraya melihat kearah tatapan Ardan.
"Ardan? Siapa dia?" Tanya Nadia kepada Ardan yang masih menatap gadis itu bersama Liam dengan tatapan tajam penuh amarah.
namun disisi lain Arin yang seketika melihat keberadaan Ardan dengan gadis yang waktu itu memanggilnya seorang pelayan juga berada disana.
Arin seketika kaget dan merasa takut, dan segera ingin pergi dari sana.
"Liam a aku ingin ke toilet sebentar" tukas Arin bergegas pergi dari sana.
tanpa menunggu jawaban dari Liam, Liam menatap heran wajah Arin yang begitu seperti ketakutan.
***
Arin berlari menuju luar Gorden dan hendak memanggil taxi, namun tiba tiba langkahnya terhenti karena seseorang menahan tangannya, Arin tersentak kaget dan melihat kearah orang itu.
"Romi?" Ucap Arin dengan wajah yang masih ketakutan.
"Nona.. kau tidak boleh pergi lagi" ucap Romi seraya ingin menggendong tubuh Arin.
__ADS_1
"tidak kumohon jangan bawa aku kembali ke pria itu, Romi!!" Ucap Arin dengan wajah takut.
Romi tak menghiraukan perkataan Arin dan segera membawanya pergi dari sana dan menuju Villa.
namun dari kejahuan Liam melihat kejadian itu dan berteriak memanggil Arin.
namun percuma kini mobil yang Romi kendarai melaju dengan cepat meninggalkan Gorden Kartival menuju Villa.
"breng*** siapa dia, kenapa dia membawa Arin seperti itu?" Ucap Liam yang kini melihat kearah jalan tol.
tak lama dari dalam Gorden terlihat Ardan keluar dari sana dan segera menuju mobilnya, saat Liam tengah melihat kesana kemari.
tiba tiba...
pandangannya teralihkan kepada Ardan yang menuju kemobilnya.
"Kakak?" Ucap Liam kepada Ardan dari kejauhan, Liam ingin beranjak menemui Ardan namun percuma kini Ardan telah melajukan mobilnya menuju jalan tol.
Liam memandang jauh kepergian Ardan "kakak?" Ucapnya lagi dengan wajah lesuh.
Di Villa
kini Romi sudah berada disana, dan segera membawa Arin menuju dalam Villa.
"sudah ku bilang, aku tidak akan tinggal disini lagi!" Ucap Arin yang kini berada di dalam kamar utama.
Romi hanya menatap Arin dengan wajah yang terlihat lelah.
"Nona, ku mohon jangan kabur lagi, Tn pasti akan marah besar nanti." Ucap Romi yang kini mencoba menenangkan situasi.
"biarkan aku pergi" ucap Arin seraya ingin beranjak dari sana namun seketika langkahnya terhenti melihat apa yang ada di hadapannya saat ini.
"Mas Ardan?" Ucap Arin kepada seseorang yang kini berada di depan kamar utama, seraya berjalan masuk kedalam kamar itu,
Arin seketika membulatkan kedua matanya dan berjalan mundur.
"sudah berapa kali kau kabur dari ku hh?" Ucap Ardan yang kini berada tepat di depan Arin.
"Mas Ardan, Arin mohon.. biarkan Arin pergi, soal uang..."belum sempat Arin melanjutkan perkataanya, namun tiba tiba Ardan menyela perkataan itu.
"apa? kapan? Kapan kau akan mengembalikan uang itu, percuma.. kau tidak akan pernah bisa membawa uang itu kepadaku, baik dengan menjual harga dirimu!" Ucapa Ardan kesal.
"bagaimanapun caranya Arin akan tetap memberikan uang itu kepada mas Ardan, bagaimana pun caranya." Ucap Arin yang kini meyakinkan Ardan.
__ADS_1
Ardan tersenyum kecut mendengar perkataan Arin.
"baiklah... hanya ada satu cara untuk mengembalikan uang itu kepadaku, menikahlah denganku?" Ucap Ardan seraya berpikir cukup lama.
"ku anggap semua permasalahan itu selesai." Timpal Ardan lagi, Arin seketika terkejut mendengar perkataan Ardan kepadanya.
"m menikah?" Ucap Arin tidak percaya.
"Mas Ardan...?" Ucap Arin.
"jangan membantah, jika kau ingin melihat kekasihmu itu tetap hidup." Sahut Ardan mengancam dan kini beralu pergi menuju kembali ke Gorden Kartival dan meninggalkan Arin yang terduduk disana.
Arin menangis tanpa henti meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan.
Tanpa sadar Arin kini tertidur dilantai, akibat menangis seharian, Ardan yang baru saja tiba dari Gorden Kartival, hendak menemui Arin, seketika langkahnya terhenti melihat gadis itu tertidur di sana.
Ardan mendekati Arin seraya mengangkat tubuh gadis itu menempatkannya di atas kasur, Ardan memandang lama wajah Arin, di tatapnya wajah itu dengan cukup lama.
di dalam hati Ardan ada rasa kasihan namun juga amarah.
"kenapa aku malah seperti ini? Kenapa aku memikirkan gadis ini" ucap Ardan yang kini mengubah posisinya berdiri.
Ardan segera melangkahkan kakinya menuju luar namun sesaat dirinya menatap gadis itu sekilas dan beranjak pergi dari sana.
di sisi lain Liam mencoba menghubungi nomor Arin namun tidak ada tanda tanda jawaban darinya, Liam tampak frustasi dan seraya ingin memaki dirinya sendiri.
"Ck.. apa yang harus kulakukan?" Ucapnya yang kini menatap jauh kedepan.
pukul 06.00
Arin terbangun dan mendapati dirinya berada di atas kasur, Arin menatap seluruh penjuru kamar itu, dan segera turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
saat dirinya sudah selesai, Arin segera beranjak keluar kamar dan menuruni anak tangga.
"selamat pagi Nona?" Ucap Asisten rumah tangga itu kepada Arin, Arin seketika kaget dengan suara itu yang begitu tiba tiba.
"hemm pagi" ucap Arin kepada Asisten rumah tangga, Arin kini menatap seluruh penjuru Villa mencari keberadaan Ardan di sana.
"Nona cari Tn Ardan?" tanya Asisten rumah tangga itu kepada Arin yang masih melihat kesan kemari.
"ahh iya, mas Ardan nya kemana ya?" Tanya Arin kepada Asisten rumah tangga.
"Tn Ardan sudah pergi dari tadi pagi Non." Jawab Asisten Rumah kepada Arin. Arin menganggukan kepalanya seakan akan mengerti.
__ADS_1