Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Memori Melinda Pt 2


__ADS_3

Ardan menurut dan ikut duduk disana.


"kenapa kau memintaku kemari?" Tanya Ardan bingung.


"hemm, ada sesuatu yang ingin ku katakan kepadamu Ardan" ujar Melinda seraya tersenyum kearah peria itu.


"apa..?" Tanya Ardan penasaran.


"nanti kita makan dulu, aku tidak mau kau sakit, apalagi kau banyak sibuk sekarang" ujarnya seraya manaruh sepiring makanan di hadapan Ardan.


Ardan menatap Melinda dengan bingung.


"Linda.. bisakah kau memberitahuku sekarang, aku tidak bisa berlama lama, ada sesuatu yang harus ku urus sekarang" ujar Ardan.


kepada Melinda, Ardan kini beranjak dari tempat duduknya dan seraya berlalu menuju luar ruangan itu


namun dengan cepat Melinda menghentikan langkah Ardan.


seraya memeluk tubuh itu, Ardan spontan membalikan tubuhnya, dan menatap kembali Melinda.


"Aku mencintai mu Ardan" ucap Melinda ke inti permasalahannya, Ardan seketika membelalakan kedua matanya menatap tak percaya gadis itu.


"apa yang kau katakan?" sahut Ardan yang masih tak percaya dengan apa yang dirinya dengar.


"Ardan... aku mencintai mu, karena itu aku meminta mu untuk datang kemari menemuiku, karena aku ingin menghabiskan waktu berdua bersamamu" sahut Melinda tanpa bersalah.


Ardan hanya terdiam paku menatap gadis itu, dan kini melepas pelukan Melinda dari tubuhnya.


"apa yang kau pikirkan, Linda... kau tau kita saudara sepupuh, kenapa kau begini kepadaku" ujar Ardan yang coba menyadarkan Melinda.


Ardan segera melangkahkan kakinya menuju luar Gedung Resort itu meninggalkan Melinda, namun tanpa sadar Melinda mengejar Ardan kembali.


Di luar gedung Ardan yang berusaha menelpon Romi, kini dirinya melangkah kan kakinya menuju sebuah taman.


dan terlihat dari arah dalam Melinda yang masih mengejar Ardan kini dirinya mengikuti peria itu.


***


di sebuah taman Melinda segera menarik tangan Ardan kembali


untuk menghentikan langkahnya


Srek....


"Ardan?...kumohon? hiks.. hiks.." ucap Melinda kepada Ardan yang ternyata mereka sudah berada di sana.


"sudahlah.. Linda, apa yang kau pikirkan? aku ini sepupuh mu, kenapa kau begitu egois untuk bisa mencintaiku!" ucap Ardan yang terlihat sangat marah.


"aku tidak peduli Ardan, meski kita memiliki ikatan saudara, aku tetap mencintaimu!" ujar Melinda, kepada Ardan.

__ADS_1


PLAK...


satu tamparan tepat diwajah Melinda, Melinda seketika terdiam kaget mendapati dirinya di tampar seperti itu.


Melinda menatap Ardan seraya meneteskan Airmatanya, Ardan membalas tatapan Melinda ada rasa tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"kurasa, Om Falen salah mendidik seorang putri sepertimu" ujar Ardan yang kelewat marah.


"aku menganggapmu sebagai kakak ku Linda, tidak lebih dari yang kau pikirkan!" Timpal Ardan seraya berlalu meninggalkan gadis itu di sebuah taman.


dan beranjak menuju mobilnya yang ternyata Romi sudah menunggunya disana.


Melinda menatap nanar kepergian Ardan seraya berteriak memanggil nama itu.


Flashback Off


Deg....


"Linda?" Panggil Aziah kepada keponakannya itu, Melinda tersadar dari lamunannya, kini beralih menatap Aziah yang dari tadi memanggilnya.


"eng.. iya tante?" Tanya Melinda dengan senyuman kikuk.


"bagaimana.. dengan mu? bukan kah kau akan segera menikah dengan Farhan?" tanya Aziah yang kini menatap wajah Melinda dengan serius.


Melinda tidak langsung menjawab perkataan Aziah melainkan kini dirinya menatap peria yang tengah duduk bersama seorang gadis di sampingnya.


di wajahnya menatap seorang gadis yang kini menjadi istrinya, melinda berpikir sejenak tentang itu.


"Melinda? apa yang kau pikirkan nak?" Tanya Dina yang melihat putrinya itu terdiam.


"ah.. iya, eng.. aku akan menikah dengan Farhan tante, acaranya akan di laksanakan pada bulan depan" jawab Melinda seraya tersenyum canggung.


namun dari kejauhan Ardan kini beralih menatap Melinda yang duduk tak jauh di hadapannya, seraya tersenyum sekilas, entah apa yang tengah dipikirkan Ardan tentang gadis itu.


"lalu bagaimana dengan sepupuh Willian? Kapan kau akan menikah?" tanya Liam seketika, Willian kini menatap kearah Liam, dengan tatapan sedikit tajam.


"ck.. bukan kah kau pernah bertanya tentang kakak ku Ardan, kapan dirinya menikah, sekarang aku yang bertanya, kapan kakak sepupuh akan menikah?" ujar Liam sedikit tersenyum smrik kearah Willian,


Trak...


Willian meletakan gelasnya dan kini beranjak pergi meninggalkan ruangan itu, tanpa menjawab pertanyaan dari Liam kepadanya.


"Liam?" Panggil Fian kepada Liam.


Liam mengedikan bahunya dan menyandarkan tubuhnya di bangku tempatnya duduk.


***


pukul 22.00

__ADS_1


kini mereka semua telah kembali kerumah, Arin yang sudah terlihat sangat lelah ternyata kini dirinya tertidur di dalam mobil, Ardan menatap gadis itu yang masih tertidur disana.


Ardan beranjak ingin membangunkannya namun ada perasaan tak tega di hatinya, Ardan kini segera keluar menuju pintu mobil dimana Arin berada.


Srek..


tanpa berpikir panjang Ardan seketika menggendong tubuh Arin dan membawanya menuju kedalam rumah, namun saat dirinya hendak masuk seketika semua mata tertuju kepadanya.


"Ardan? Arin kenapa?" Tanya Aziah kepada putranya itu, Ardan menjawab pertanyaan mamah nya dengan suara pelan.


"Arin tertidur Mah" jawabnya seperti berbisik, Liam, Fian begitu juga Tn Hendrik menatap bingung tingkah Ardan yang berubah dipikiran mereka.


"apakah itu yang dinamakan cinta, bahkan kakak terlihat sangat keberatan, tapi tetap saja menggendong kakak ipar" ujar Liam seraya menaiki anak tangga.


Fian kini menatap intens Liam ntah apa yang dipikirkan olehnya "ahh anak kecil sepertimu ternyata suka ikut campur urusan orang dewasa saja" sahut Fian yang juga menaiki anak tangga.


"ck.. aku sudah dewasa.. kenapa kalian menyebutku anak kecil terus terusan" sahut Liam tak terima.


***


Di kamar utama.


Ardan kini menempatkan Arin di atas tempat tidurnya, dan bergegas membuka sepatu Arin dan menaruhnya di rak, Ardan menatap tubuh Arin yang sedikit gemukan.


"huh.. berat sekali" gumam Ardan seraya menyeka keringatnya.


"apa dia akan tidur seperti ini!" ucap Ardan melihat kearah Arin yang masih menggunakan baju dress.


Ardan mencoba hendak membangunkan Arin untuk menyuruhnya mengganti pakaian.


"Arin..?" Panggil Ardan kepada Arin yang masih tertidur.


"sayang bangunlah ?" panggil Ardan lagi seraya mengelus pipih Arin dengan lembut.


Arin mengerjapkan kedua matanya seraya menatap seluruh ruangan itu.


"eng.. kita sudah sampai mas?" tanya Arin yang masih dalam keadaan mengantuk.


"hemm, cepat ganti bajumu, ini sudah malam" ujar Ardan seraya beranjak menuju kamar mandi dan diikuti Arin di belakangnya.


di kamar mandi Arin kini telah membasuh tubuhnya dan menganti bajunya menggunkan baju tidur kimono.


Arin bergegas kembali menuju kamarnya, di sana sudah ada Ardan yang tengah berbaring.


seraya memainkan handphone miliknya.


"mas Ardan belum tidur? Ini sudah malam loh mas Ardan!" ujar Arin yang kini telah berada disana.


__ADS_1


__ADS_2