Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Positif


__ADS_3

"apa yang kau katakan barusan Sofia?" tanya Ardan yang tidak terlalu mendengar perkataan Sofia.


"eng..!" gumam Sofia.


"Kita beli obat tuk Mas Ardan!" Sambung Arin sebelum Sofia memulai berbicara.


"eng.. obat? obat apa? Mas tidak sakit Arin!" ucap Ardan.


"tadi.. Mas Ardan mual mual!" ujar Arin mengingat kejadian tadi siang.


"ck.. itu cuma efeck mabuk, Mas tidak sakit sama sekali!" sahut Ardan.


"oh baiklah.. kalau begitu Arin mau kekamar dulu, mau bersihkan tubuh Arin Mas!" ucap Arin tersenyum kikuk dan kini bergegas menuju kamarnya.


"eng.. Sofia juga mau ke kamar Mas Fian!" Sambung Sofia yang kini berlalu mengikuti Arin menuju lantai atas.


Namun di lantai bawah Ardan dan Fian yang masih menatap bingung apa yang sebenarnya terjadi kepada kedua gadis itu saat ini.


🌹🌹🌹


di dalam kamar Arin dan Sofia yang kini tengah berada di sebuah kamar mandi, tampak kedua gadis itu kini menatap paku sebuah alat yang barusan mereka beli.


"Apa kau akan menggunakannya sekarang?" tanya Sofia.


Arin menganggukan kepalanya dan kini membuka alat tersebut dan segera melakukan pengecekan.


"bagaimana jika itu berhasil?" tanya Sofia lagi.


"aku tidak tau!" jawab Arin.


Selang beberapa lama Arin kini mengambil kembali alat itu, dan tampak di sana dua garis merah terpampang jelas di sana.


Arin dan Sofia seketika membulatkan kedua matanya menatap tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"mungkin alat ini rusak!" ucap Arin dengan wajah masih tak percaya.


"Wah.. itu nyata!" ucap Sofia.


"Ah.. bagaimana mungkin!" ujar Arin yang kini duduk di toilet duduk.


Sofia seketika tertawa kecil melihat wajah Arin begitu lucu saat gadis itu sedang terlihat cemas.


"Apa kau akan memberitahu Ardan, Arin?" tanya Sofia.


"aku tidak yakin akan soal itu, bagaimana jika alat itu rusak!" Ujar Arin masih tak percaya.


"ck.. bagaimana bisa! alat itu benar benar tidak rusak, aku bisa membantumu memberitahu Ardan soal ini!" ucap Sofia lagi.

__ADS_1


"eng.. apa yang akan kau lakukan?" tanya Arin balik.


"Bukan aku, tapi kau.. sini akan ku kabari kau!" ucap Sofia sembari berbisik di telinga Arin.


"bagaiman saat Mas Ardan mengetahuinya nanti? apa Mas Ardan akan senang atau tidak!" timpal Arin lagi.


"ck.. jangan jadi gadis bodoh Arin, mana mungkin kau berpikir seperti itu, percaya padaku, dan lakukan saja!" ujar Sofia meyakinkan.


"baiklah.. akan ku lakukan!" sahut Arin.


🌹🌹🌹


Arin dan Sofia kini mereka berdua kembali menuju kamar mereka masing masing, Arin yang ternyata masih berada di sebuah kamar ganti yang kini tengah sibuk mencari sesuatu.


"aku simpan disini aja kali ya!, sudahlah.. disini saja!" gumam Arin yang kini meletakan sebuah kotak kecil berwarna hitam dan menyimpannya di laci.


Arin yang sudah selesai membersihkan tubuhnya dan kini beranjak menuju lantai bawah. Di lantai bawah terlihat Ardan, Fian begitu juga Sofia, Yeni dan Romi, terlihat mereka yang tengah sibuk menghiasi sebuah pohon yang kini berada tepat di hadapan mereka semua.


Arin menatap kearah Ardan yang dimana pria itu tengah menghiasi pohon natal bersama dengan anak kecil yang berada di gendongannya.


Arin yang masih berada di barisan anak tangga kini tampak gadis itu tengah menatap diam kearah mereka semua, Ardan yang sedari tadi sibuk menghias bersama Arka, seketika pria itu menatap kearah dimana Arin yang masih berdiri di barisan anak tangga.


Ardan menatap senyum sosok Arin dan kini memanggil gadis itu.


"Sayang?" panggil Ardan membuyarkan lamunan Arin.


Arin beranjak turun dan menghampiri keberadaan mereka semua disana.


"kamu suka?" tanya Ardan kepada Arin yang kini berada tepat di sampingnya.


"eng.. suka Mas, kapan Mas Ardan beli pohonnya?" tanya Arin balik.


"tadi siang Mas minta Luis untuk mencarikannya dan baru sekarang di antar kemari!" Jelas Ardan.


Arin tersenyum dan kini berlalu menuju teras yang dimana terlihat salju salju kecil yang berjatuhan dari atas langit.


Namun saat dirinya tengah asik menikmati keindahan salju itu, tiba tiba Arin dikejutkan dengan dengan suara telpon dari seseorang.


Arin segera meraih ponsel miliknya yang berada di saku baju dan terlihat nama Mamah di beranda ponsel Arin, Arin bergegas mengangkat panggilan tersebut.


"Halo Mah?" ucap Arin yang kini sudah tersambung dalam panggilan.


"Halo sayang... bagaimana kabar kalian disana?" tanya Mamah.


"kami baik kok Mah, bagaimana dengan Mamah sama Papah?" tanya Arin balik.


"Mamah sama Papah baik kok!" jawab Mamah.

__ADS_1


"Oh ya, Mamah ingin beritahu kamu...!" ucap Mamah kepada Arin yang kini memberitahukan sesuatu kepada gadis itu.


Arin yang masih menerima panggilan dari Mamahnya, kini sesekali dirinya menatap kearah dalam yang dimana Ardan dan yang lainnya masih sibuk menghiasi pohon natal.


"baik Mah, Arin akan matikan dulu, Mamah istirahat aja sekarang!" ucap Arin yang kini mengakhiri panggilan itu.


Arin beranjak masuk kedalam dan kini menghampiri keberadaan Sofia yang masih sibuk menaruh bola warna warni di tepi tepi pohon.


"Sofia?" panggil Arin.


"iya!" sahut Sofia yang kini menatap keberadaan Arin di sana.


"aku ingin berbicara kepadamu!" ucap Arin pelan.


"oh.. baiklah!"


"Di sana saja !" tunjuk Arin ke teras.


Sofia dan Arin berlalu pergi menuju teras dan kini membicarakan sesuatu kepada Sofia yang dimana, yang dikatakan oleh Mamah mertuanya.


"Apa kau punya rencana?" tanya Sofia dengan senyuman.


"aku tidak tau... tapi aku rasa aku punya sedikit rencana saja!" Ucap Arin yang kini membisikan sesuatu kepada Sofia.


Sofia seketika tersenyum mendengar penuturan Arin yang memberitahunya.


"Kau tenang saja aku akan meminta Mas Fian melakukannya!" ucap Sofia dengan percaya diri.


"Baiklah.. kita masuk sekarang!" ujar Arin.


kini mereka berdua beranjak masuk dan kembali menghampiri keberadaan kedua pria itu yang masih menghiasi pohon natal dan beberapa dekorasi Santa Klaus.


🌹🌹🌹


Waktu terus berlalu tampak hari terlihat sudah pagi, dari upuk timur matahari sedikit menampakan sinarnya menerpa jendela kamar itu. Naira yang belum bangun dari tidurnya kini dikejutkan dengan Ardan yang tiba tiba berbisik di telinganya.


Arin seketika membuka matanya menatap samar Ardan yang dimana pria itu tengah menatap senyum Arin yang masih terlihat mengantuk.


"Mas Ardan?" panggil Arin yang sedikit membuka matanya dam posisi tidur tengkurap.


"Sudah pagi, apa kamu masih ingin tidur di balik selimut mu ?" Tanya Ardan.


Arin seketika mengubah posisinya yang kini menghadap Ardan yang masih berada di atas tempat tidur.


...☘️☘️☘️...


...𝐭𝐨 𝐛𝐞 𝐜𝐨𝐧𝐭𝐢𝐧𝐮𝐞...

__ADS_1


__ADS_2