
"kamu dimana? Pulang sekarang" sahut Ardan lagi yang ternyata sudah berada di rumah.
Ardan menelpon Arin kerana saat pulang dari kantor Ardan tidak menemukan sosok Arin di sana.
"Tapi... mas!.." belum sempat Arin melanjutkan perkataanya tiba tiba panggilan tersebut telah dimatikan.
"mas Ardan?..." tukas Arin kesal seraya menepuk pelan ponselnya, Arin kini menatap kembali layar ponselnya.
"23 maret..." gumam Arin melihat kearah ponselnya namun saat dirinya tengah memikirkan sesuatu.
tiba tiba wajah Arin seketika berubah dan teringat satu hal.
"pak... ambil jalan dekat aja ya pak! Saya ada urusan mendadak." Ucap Arin kepada sopir taxi.
Sopir taxi itu menganggukan kepalanya dan seraya mengambil jalan pintas.
Namun di sebuah Apotik kini Arin berada disana, seraya menatap kosong kearah pintu apotik itu.
Arin segera masuk kedalam sana.
"selamat soreh Nona? Ada yang bisa saya bantu?" ucap pramuniaga itu kepada Arin yang kini telah berada di dalam sana.
"eng... saya mau cari.." Arin segera memberitahu apa yang ingin dirinya beli saat ini.
saat dirinya sudah selesai Arin segera beranjak pergi meninggalkan Apotik tersebut dan kembali menuju rumah.
***
Beberapa jam kemudian pukul 19.00 Arin baru saja tiba, di rumahnya, Arin segera masuk kedalam rumah.
dan beranjak menuju kamar tamu, saat dirinya sudah sampai disana Arin segera berlalu menuju kamar mandi.
dan seketika mengeluarkan sesuatu yang di belinya barusan( TESTPACK).
Arin menatap sekilas alat itu dan segera mengeceknya, saat beberapa menit kini alat itu telah menampakan dua garis disana.
Arin seketika tertegun menatap kearah benda itu, namun di hatinya ada rasa takut.
bagaimana cara dirinya memberitahu Ardan nantinya, apa pria itu akan mau menerima anak yang di kandungnya saat ini atau tidak.
Arin terduduk lemas seraya memikirkan apa yang akan dirinya lakukan saat ini.
Arin segera berlalu menuju luar, namun saat dirinya hendak melangkahkan kakinya tiba tiba ada suara yang memanggilnya.
"dari mana saja kamu?" Tanya seseorang kepada Arin secara tiba tiba, Arin seketika menatap kearah orang yang tengah berbicara kepadanya.
Arin seketika teringat apakah dirinya akan mengatakan hal itu kepada Ardan atau tidak.
"Mas Ardan?" ucap Arin seketika melihat Ardan yang sudah berada di atas sana, dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Ardan berjalan menuruni tangga dan menghampiri Arin.
"saya tanya habis dari mana saja kamu?" tanya Ardan lagi seraya menatap tajam kearah Arin.
"habis ketemu bibi mas" jawab Arin.
"jangan bohongi saya!! Habis dari mana kamu?" Ucap Ardan yang tak percaya dengan perkataan Arin.
Arin mengernyitkan alisnya tak mengerti arti dari sifat pria yang saat ini berada di hadapannya.
"Arin baru saja menemui bibi, mas Ardan tidak percaya?" Tukas Arin lagi, Ardan tak menghiraukan perkataan dari Arin.
dan malah memilih beranjak pergi menuju kamarnya.
"cepat ke kamar, saya mau tidur." Ucap Ardan lagi seraya menaiki anak tangga.
Arin tak menyahuti perkataan Ardan, dan memilih menuju kamar tamu.
Arin beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, beberapa menit kemudian kini Arin telah selesai dan segera kembali kekamarnya untuk beristirahat.
"huh... lelah sekali" gumam Arin seraya berbaring di atas tempat tidur, namun tanpa di sadari Arin kini tertidur disana.
Ardan yang dari tadi menunggu Arin di kamar utama, kini beranjak keluar dan mencari keberadan gadis itu.
"hh... kemana dia? gadis itu selalu membuat ulah" ucap Ardan seraya menuruni anak tangga.
Ardan kini beranjak menuju dapur untuk mengambil minuman, Namun di sisi lain Arin yang kini sudah terbangun dari tidurnya dan merasa lapar, beranjak keluar dan menuju arah dapur.
Bruk...
"Awkh.. ssth." Rengis Arin seraya mengelus kepalanya yang terbentur sesuatu.
Arin mendongak kan wajahnya dan terlihat sosok Ardan yang tengah berdiri di hadapannya.
"m mas Ardan?" Ucap Arin yang kini melihat Ardan tengah membawa segelas Wine di tangannya.
"hem.. " gumam Ardan seraya meminum wine nya, Arin beranjak menuju kulkas dan mencari sesuatu.
"ck.. mas Ardan?" panggil Arin kepada Ardan yang ternyata masih berada di sana.
"hemm kenapa?" sahut Ardan tanpa memalingkan wajahnya.
"mas...Ardan?" panggil Arin lagi, Ardan seketika mengalihkan pandangannya menatap Arin dengan heran.
"kamu kenapa?" Tanya Ardan bingung.
"Arin lapar mas" ucap Arin lagi kepada Ardan.
"kamu bisa masak, kenapa masih harus bilang kepada saya!!" sahut Ardan yang kini kembali pokus ke ponselnya.
__ADS_1
"nggak mau...mas Ardan beliin ya mas!" rengek Arin, Ardan yang kini mendengar perkataan Arin memintanya untuk membelikan sesuatu,
seketika wajahnya menatap kembali gadis itu seraya mengernyitkan alisnya.
"kamu kenapa? minta Romi saja yang belikan" ucap Ardan lagi.
"mas Ardan aja, ya mas ya?" ucap Arin dengan wajah merayu seperti anak kecil.
Ardan seketika menatap bingung tingkah Arin yang begitu aneh baginya.
"ck.. baiklah baiklah, kamu juga ikut, kita cari makan di luar saja" ucap Ardan yang kini beranjak dari tempat duduknya dan segera munuju mobil.
Arin tersenyum dan mengikuti Ardan dari belakang.
di mobil kini Ardan dan Arin mereka berdua segera pergi menuju balai kota.
Ardan membawa Arin ke suatu tempat yang dimana di sana terdapat banyak jajanan jalanan yang masih buka pada saat jam begini.
Food Street.
kini mereka berdua telah tiba, Arin beranjak turun dari mobil begitu juga Ardan.
Arin segera melangkahkan kakinya menuju tempat tersebut dengan senyuman di pipihnya.
Ardan yang melihat tingkah Arin saat ini sedikit aneh hanya terdiam dan mengikuti kemana Arin pergi.
"mas..mas Ardan mau makan apa?" Tanya Arin, kini mereka berada di salah satu tempat dimana terdapat banyak menu makanan disana.
"hemm ters..." belum sempat Ardan melanjutkan perkataanya, Arin segera menyuapi sesuatu kemulut Ardan.
Ardan sontak menerima suapan itu dengan wajah yang masih tertegun.
"enak mas?" Tanya Arin kepada Ardan dengan mulut yang masih di penuhi makanan.
Ardan yang melihat Arin seperti itu seketika tersenyum dan mengalihkan wajahnya kearah lain.
Arin seketika menatap pandangannya karah Ardan seraya mengerutkan alisnya.
" mas kenapa? apa mas gak suka?" tanya Arin kepada Ardan.
Ardan yang mendengar perkataan Arin seketika mengubah wajahnya menjadi seperti semula.
"tidak!" Jawab Ardan singkat, Arin kini beralih menuju ketempat yang lain, seraya melihat kesan kemari.
"Oh.. es Krim, mas Arin mau es Krim ya?" ucap Arin kepada Ardan.
"ini sudah malam Arin!, cari yang lain jangan es Krim" sahut Ardan mendengar perkataan Arin.
"tapi mas..Arin mau loh, ya mas Ardan" rengek Arin seperti anak kecil.
__ADS_1
Ardan menatap heran Arin seraya menggelengkan kepalanya pelan.