Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Kecurigaan Ardan pt 2


__ADS_3

"mmh siang!" jawab Arin kepada pria itu, yang bernama Tito.


"Nyonya sudah tiba, mari Nyonya... saya tunjukan dekorasi dan tempat yang akan di gunakan untuk besok!" ucap Tito kepada Arin begitu juga Sofia dan Agus.


mereka bertiga beranjak mengikuti Tito yang kini menuju sebuah loby kedua yang terletak di tengah ruangan antara ruang billiard dan kasino.


terlihat di loby hotel itu yang sudah di penuhi dekorasi yang serba putih dengan lampu gantung yang bertebaran. Dan di arah lain terlihat beberapa puluh meja yang sudah di persiapakan untuk para tamu undangan.


Sofia menatap kagum dekorasi di hotel itu, seraya melihat kesana kemari terdapat puluhan atau ribuan bunga mawar merah dan putih.


"apa kau menyukainya?" tanya Arin kepada Sofia.


"eng..!"gumam Sofia yang kini tersadar dari lamunanya.


"aku menyukainya ini indah!"ucap Sofia kepada Arin.


"mmh.. aku senang kau menyukainya!" ucap Arin kepada Sofia.


"Nyonya? ternyata Nyonya lebih ahli dalam menentukan sebuah dekorasi di sini, ini persis tampak di sebuah dongeng yang dimana terdapat beberapa pancuran dan kolam mini!" ucap Agus yang ternyata juga menyukai dekorasi itu.


Namun di lain sisi, di sebuah perusahaan besar G.A Group, Ardan yang kini masih berada di ruang kerjanya seraya menatap paku kearah depan yang dimana di sana ada Romi yang ikut bersamanya.


tampak terlihat di wajah pria itu yang kini terlihat seperti ada masalah.


"Rom?"panggil Ardan kepada Romi.


"iya Tuan!" sahut Romi.


"selama ini kau selalu pergi bersama Nyonya bukan, apa kau tau siapa yang sering Nyonya temui akhir akhir ini?" tanya Ardan kepada Romi.


"eng.. saya rasa tidak ada Tuan!" ucap Romi seraya berpikir.


"mmh.. oh, saat itu cuma satu kali Tuan, saya melihat Nyonya dengan seorang pria, tapi tampaknya itu pun juga tidak terlalu akrab dengan Nyonya!" timpal Romi mengingat sosok Ferdi yang tiba tiba menemui Arin.


"seorang pria? siapa? apa kau mengenalinya?" tanya Ardan kepada Romi.


"eng.. mmh.. saya tidak terlalu melihat wajahnya waktu itu Tuan, tapi saya ingat pria itu memiliki postur tinggi kisaran 179 dan waktu itu pria itu juga menggunakan baju kemeja hitam dengan sebuah jam arloji di bagian tangan kanannya!" ucap Romi mengingat sosok Ferdian.


"aah.. sulit sekali, kemungkinan banyak orang yang berpenampilan seperti itu!" ujar Ardan seraya menyandarkan kembali tubuhnya.


"Apa ini ada hubungannya dengan nomor asing tempo lalu!" batin Ardan.


"ck.. aku bahkan tidak mengingat nomor itu si*l" batin Ardan menggerutu.


"Rom.. apa hari ini Nyonya keluar rumah?" tanya Ardan kepada Romi.


"eng.. oh tadi saya dengar bahwa Nyonya besar meminta Nyonya muda untuk mengecek sebuah hotel yang akan di adakan acara pernikahan Tuan Fian besok Tuan!" Ucap Romi kepada Ardan.

__ADS_1


"hari ini!" ucap Ardan lagi.


Seraya menatap jauh kedepan, Ardan seketika menekan sebuah sambungan yang dimana disana terhubung dengan Manager Gibran yang merupakan Manager di perusahaan G.A Group.


"selamat siang Tuan, apa anda perlu sesuatu?" tanya Gibran yang kini sudah tersambung.


"Eng.. apa hari ini ada rapat pertemuan?" tanya Ardan kepada Gibran.


"ada Tuan, hari ini anda ada pertemuan dengan Tn Siglan mungkin setengah jam lagi!" ucap Gibran kepada Ardan.


"begini, kau Handle rapat hari ini, jika Tn Siglan bertanya tentang ku katakan kalau aku ada keperluan penting, setelah rapat selesai, kau antar berkas kemeja ku, mengerti!" ucap Ardan panjang lebar.


"baik Tuan saya mengerti!" jawab Gibra.


"baiklah.. saya matikan dulu!" ujar Ardan seraya memutuskan sambungan itu.


"Rom.. kita pergi sekarang!" ucap Ardan seraya bangun dari tempat duduknya dan bergegas menuju luar ruang kerjanya.


di koridor, Ardan kini mengeluarkan ponselnya seraya menekan nomor Arin untuk melakukan panggilan.


trut.... suara panggilan terhubung.


Trek..


"Hallo?" ucap Arin yang kini sudah tersambung.


"Mas Ardan.. Arin baru mau pulang kerumah." sahut Arin kepada Ardan.


"jangan pulang dulu!" ujar Ardan tiba tiba.


"kenapa Mas?" tanya Arin bingung.


"eng.. kita makan siang saja, jangan pulang!" Ucap Ardan kepada Arin.


"tapi Sofia sama Arin loh Mas." Ucap Arin.


"eng.. tidak masalah, bawa Sofia juga!" Ujar Ardan.


"mmh.. baiklah, Mas Ardan yang pilih tempat atau...!" belum sempat Arin melanjutkan perkataanya seketika Ardan menyela perkataan itu.


"kamu saja!" sahut Ardan cepat.


"baiklah.. Arin matiin dulu telponya, Mas Ardan hati hati di jalan!" Tukas Arin kepada Ardan.


"mmh!" sahut Ardan seraya mematikan pnggilan itu.


Ardan bergegas melangkah kan kakinya menuju luar perusahaan itu dan diikuti Romi yang kini berjalan di belakang pria itu.

__ADS_1


di lain Sisi Arin dan Sofia yang ternyata sudah berada di dalam perjalanan, Arin segera meminta Agus untuk membawanya menuju sebuah restoran tempat favoritenya.


Agus segera melajukan mobilnya dengan kecepatan rata rata menuju sebuah restoran yang terletak tak jauh dari pusat perkotaan.


selang beberapa jam di perjalanan kini mereka telah tiba di restoran itu, Arin dan Sofia bergegas menuju kedalam restoran tersebut.


sesaat mereka telah tiba di depan pintu restoran, Arin kini menatap kesana kemati mencari sebuah meja kosong untuk dirinya pesan.


"Kita kesana saja ayo!" ucap Arin serya menarik tangan Sofia menuju sebuah meja kosong yang menghadap sebuah taman.


trek...


Arin dan Sofia beranjak duduk di meja itu, Arin bergegas mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, seraya mengirimkan lokasi tempat tersebut kepada Ardan.


Selang beberapa lama, tampak dari arah pintu restoran terlihat seorang pria yang kini memasuki restoran tersebut, pria itu adalah Ardan yang kini sudah tiba disana.


Ardan beranjak menuju sebuah meja yang diamana di sana sudah ada Arin dan Sofia yang menunggunya.


srek...


suara bangku yang digeser.


"Mas Ardan sudah datang?" ucap Arin yang kini menatap kearah Ardan yang duduk di sampingnya.


"Mmh iya!" jawab Ardan.


"Mas Ardan udah mau pesan, Arin akan panggilkan kalau begitu!" tukas Arin kepada Ardan.


"Nanti dulu, nanti saja kita pesannya!" ucap Ardan.


Arin seketika menatap bingung Ardan yang kini terlihat jelas di wajah pria itu, ada sesuatu yang di ingin dikatakannya.


Namun tampak dari arah luar terlihat Fian yang kini memasuki restoran itu dan seraya berlalu menuju dimana meja yang disana sudah ada Arin begitu juga Ardan dan Sofia yang masih menunggu.


Deg...


Sofia seketika terkejut mendapati Fian yang ternyata juga hadir disana.


"Kakak, kau sudah tiba?" tanya Ardan kepada Fian.


"hemm iya!" jawab Fian seraya menatap kearah Sofia yang kini duduk di samping gadis itu.


"Loh...Mas Ardan kapan bilang sama kak Fian?" tanya Arin kepada Ardan.


"tadi, saat Mas di perjalanan, Mas meminta kak Fian untuk ikut gabung sama kita!" Jawab Ardan.


__ADS_1


__ADS_2