
"eng.. iya Tn Kennan!" sahut Fian.
"belum lama juga ku dengar, putri dari investor juga melakukan bisnis trip di Tiongkok, apa kau tau perusahaan gadis itu?" tanya Fian kepada Ardan.
"tidak aku tidak tau!" jawab Ardan.
Fian menganggukan kepalanya, tak lama bibik kini menyiapkan begitu banyak cemilan dan minuman untuk mereka.
tampak dari lantai atas terlihat Sofia yang sudah boleh keluar sembari menggendong bayi kecil.
Fian dan Ardan seketika menatap keberadaan gadis itu disana, Fian bergegas menghampiri Sofia dan kini menuntun gadis itu untuk turun.
Ardan yang kini mengalihkan pandangannya menatap kearah seorang gadis yang masih tengah tertidur pulas di sofa dengan kepala gadis itu di pangkuannya.
"Sayang.. kamu gak jadi pergi nih sama Fina?" tanya Ardan kepada Arin yang masih tertidur.
Ardan yang kini mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu, seketika tanpa sengaja Arin yang baru teringat akan perkataan Ardan kalau dirinya memiliki janji temu bersama Fina, spontan Arin mengangkat kepalanya dan kini membuat kepalanya terbentur cukup keras di wajah Ardan.
Brukk
"Ahk.." pekik Ardan sembari menahan sakit di hidungnya.
"Mas Ardan?" panggil Arin yamg kini beranjak duduk sembari menatap takut Ardan yang tiba tiba kesakitan.
"Mas.. Ardan gak papa? apa berdarah? " tanya Arin cemas.
Ardan seketika memperlihatkan hidungnya yang kini mengeluarkan cairan segar berwarna merah.
Arin terbelalak kaget melihat darah yang mengalir dari hidung pria itu, Arin yang merasa takut seketika gadis itu meneteskan air matanya, Ardan yang menyadari Arin menangis seketika pria itu menenangkannya.
"Arin Mas gak papa, cuma luka doang!" ucap Ardan.
"tapi.. tapi Mas Ardan berdarah!" ucap Arin masih dalam menangis.
Ardan segera mengambil tisu dan kini menyeka hidungnya untuk menghentikan pendarahan.
"sudah sudah.. jangan menangis Mas baik baik saja!" ucap Ardan sembari memeluk lembut tubuh Arin.
Saat dirinya sudah tenang Arin kini melepas pelukannya dan kembali menatap wajah pria itu.
Arin seketika mengambil tisu yang di seka pada hidung pria itu.
"Apa masih berdarah?" tanya Ardan kepada Arin.
Arin menggelengkan kepalanya pertanda jawaban darinya.
"maafin Arin ya Mas.. Arin gak tau kalau Mas Ardan seperti itu!" Ucap Arin kepada Ardan.
__ADS_1
"mmh.. tidak masalah, jangan nangis lagi, nanti anaknya kira Papahnya bikin Mamahnya nangis loh!" ucap Ardan menenangkan Arin.
Arin seketika menghapus airmatanya dan kini beranjak mengambil handphone miliknya yang berada di sebuah tas.
Arin kini menekan salah satu nomor dan segera menghubunginya.
Trut.... suara panggilan terhubung.
"Halo Fina?" ucap Arin kepada Fina yang kini sudah tersambung.
"Halo Arin!" jawab Fina.
"Sebentar lagi aku akan menemui, beritahu saja lokasinya aku akan datang kesana!" ujar Arin.
"okeh.. akan ku kirim jika aku sudah tiba di sana!" ujar Fina.
"baiklah.. aku matikan dulu kalau begitu." ucap Arin sembari mengakhiri panggilan.
Namun secara bersamaan terlihat Fian dan Sofia yang kini sudah tiba di sana.
"Hai?" sapa Sofia kepada Arin.
"oh Hai? bagaimana keadaan mu?" tanya Arin kepada Sofia.
"aku baik Arin!" jawab Sofia.
"Siapa nama baby tampan ini?" tanya Arin kepada Fian dan Sofia.
"Fero Azheyan!" jawab Sofia dan Fian bersamaan.
"Wah.. nama yang tampan sama seperti orangnya." ucap Arin dengan suara seperti anak kecil.
Namun dari arah jauh terlihat Arka yang kini sedikit tak suka dengan Arin yang menggendong baby kecil itu, Arka seketika merengek meminta sang Mamah untuk menggendongnya.
Arin yang menyadari Arka menangis dan memintanya untuk menggendong anak kecil itu, Arin kini memberikan Fero kepada Sofia dan segera menghampiri Arka anak kecil itu.
Namun saat dirinya hendak ingin menggendong Arka tiba tiba Ardan bersuara meminta gadis itu untuk tidak menggendong Arka terlebih dahulu.
"Sayang.. kamu lagi hamil jangan gendong Arka, biar Mas saja!" ujar Ardan yang kini mengambil Arka dan menggendong anak kecil itu.
Pukul 13.00 siang
Arin yang kini sudah tiba di sebuah cafe kecil, saat dirinya berada tepat di depan pintu cafe tersebut, Arin segera beranjak masuk kedalam cafe tersebut.
Arin menatap bingung cafe itu yang dimana dirinya baru mengetahui lokasi cafe itu, namun saat bersamaan terlihat seorang gadis yang kini berjalan menghampiri Arin.
"hai Arin?" panggil seseorang kepada gadis itu.
__ADS_1
Sontak Arin mengalihkan pandangannya menatap kearah seseorang yang kini tengah berbicara kepadanya, Arin yang mengenali sosok itu seketika dirinya tersenyum lembut dan sembari menatap lekat sosok itu.
"Fina?' panggil Arin yang kini melihat Fina begitu berbeda.
"Hai..akhirnya kita ketemu lagi bukan!" ucap Fina yang kinierangkul lembut tubuh Arin.
"haha.. Fina, aku baru pertama kali melihat cafe ini, apa jangan jangan kau?" ucap Arin sembari menggantungkan kalimatnya.
"hehe.. aku membangun cafe ini Arin tentu saja kau baru melihatnya dan mengetahuinya... apa kau menyukainya!" Ucap Fina kepada Arin.
"kau membangun nya, wah.. tampaknya hidupmu sudah mulai berubah ya!" Ujar Arin sembari tersenyum.
"hehe.. eng, tunggu aku lihat saat ini kau tampak begitu gemukan!" ucap Fina menatap tubuh Arin dan sembari memutar pelan tubuh itu.
"mmh.. apa kau tidak lihat?" ucap Arin dengan tangan menepuk pelan perutnya yang sudah terlihat membuncit.
Fina seketika menatap tak percaya, melihat Arin yang kini hamil lagi.
"wah.. aku tidak menyangka kau hamil lagi, sudah berapa bulan kandunganmu?" ucap Fina sembari bertanya.
Arin mengacungkan tiga jarinya sebagai jawaban darinya.
"Wah itu masih sangat muda" sahut Fina.
"sudah lebih baik kita duduk sekarang, aku akan meminta Yaya untuk menyiapkan minuman dan cemilan untuk kita." tukas Fina yang kini memanggil Yaya, yang merupakan salah satu pekerja di cafenya.
Tampak seorang gadis yang menggunakan baju merah, dengan rambut terikat rapi, terlihat gadis tersebut kini beranjak menghampiri Arin dan Fina, gadis tersebut ialah Yaya.
"ada apa ya Mis?"tanya Yaya kepada Fina.
"mmh buatkan cemilan untuk kita ya..!" Pinta Fian kepada Yaya.
"ohh.. baik Mis..!" sahut Yaya yang kini berlalu pergi menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk mereka.
Namun saat mereka tengah asik mengobrol, tampak seorang pelanggan kini memasuki cafe tersebut.
Arin dan Fina spontan menatap kedatangan pelanggan tersebut, namun terlihat di wajah Fina dan Arin kini seperti memgenali sosok tersebut, tampak seorang pelanggan kini menatap kearah Arin dan Fina yang ternyata kedua gadis itu masih menatapnya.
"oh..kalian?" ujar orang tersebut kepada mereka berdua.
"kau.. Reni?" ucap Fina kepada orang tersebut yang tak lain teman waktu kuliah.
Reni seketika menatap intens Arin dan Fina, seketika Reni tersenyum smrik kepada Arin.
...☘️☘️☘️...
...𝐁𝐨𝐧𝐮𝐬 𝐩𝐚𝐫𝐭 𝐭𝐢𝐦𝐞...
__ADS_1