
bruk..
Ardan memeluk tubuh kecil istrinya itu, dan seraya memejamkan kedua matanya dan kini ikut larut dalam mimpinya.
***
Dertt... Dert...
Suara alarm berdering.
Arin yang kini sudah bangun dari tidurnya segera dirinya beranjak dari tempat tidur seraya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
trash...
trash... suara dercikan air.
Arin yang masih berada di dalam sana, seketika dirinya teringat akan perkataan Nenek kepada Fian kemarin, Arin tampak bingung apa yang Nenek katakan tentang kosekuensi keluarga Azhendra menurut dirinya.
Namun secara bersamaan terdengar dari arah luar seseorang kini masuk kedalam kamar mandi itu, Arin mendongak kan keplanya menatap seseorang dari balik kamar kaca itu.
terlihat Ardan yang ternyata sudah bangun dari tidurnya, kini tengah sibuk mencuci mukanya dan mengosok giginya.
Arin keluar dari dalam kamar kaca itu dengan menggunakan baju handuk seraya menghampiri keberadaan Ardan yang masih berdiam disana.
Ardan yang kini menyadari keberadaan Arin, seketika pria itu mengalihkan pandangannya menatap kearah gadis itu yang kini berdiri tepat di sampingnya.
"Mas?" panggil Arin kepada Ardan.
"mmh!" jawab Ardan yang kini menatap bayangan gadis itu di kaca hadapannya.
"Mm.. Arin boleh tanya satu hal sama Mas Ardan gak?" Ucap Arin kepada Ardan.
"mmh apa yang mau kamu tanya kan?" tanya Ardan balik.
yang kini sibuk mengambil sesuatu dari laci.
"eng.. begini Mas, soal kak Fian.. maksud Nenek konsekuensi keluarga maksudnya apa ya Mas Ardan?" tanya Arin kepada Ardan.
Ardan seketika terdiam sejenak, dan kini kembali menatap bayangan gadis itu dari sebuah cermin di depannya.
"bukan apa apa." jawab Ardan tiba tiba.
Arin yang mendengar perkataan Ardan seketika dirinya menatap tak percaya dengan apa pria itu katakan kepadanya.
"bohong kalau Mas Ardan gak tau soal itu." Ujar Arin.
"kenapa kamu ingin tau soal konsekuensi keluarga Azhendra?" Tanya Ardan.
__ADS_1
"eng.. tidak kenapa kenapa, Arin cuma pengen tau aja Mas!" jawab Arin.
"boleh Mas bertanya satu hal." ucap Ardan yang kini ingin bertanya balik kepada Arin.
"mmh.. apa?" Sahut Arin.
"bagaimana Jika konsekuensi itu terjadi kepada Mas?" Tanya Ardan seketika.
"eng.. maksudnya Mas Ardan?" Tanya Arin tak mengerti.
"mmh, bagaimana jika semua perjuangan Mas di cabut begitu saja? dan Mas tidak memiliki apapun lagi, hanya kamu sama Arka apa kamu masih mau sama Mas?" tanya Ardan yang kini menatap bayangan Arin yang kini menapa dirinya.
"eng.. !" gumam Arin tertegun.
"jadi maksud Mas Ardan, semua perusahaan yang Mas Ardan bangun itu akan di tarik paksa oleh Nenek, dan Mas Ardan tidak akan punya apa apa lagi!" ucap Arin yang kini sedikit paham akan dikatan Ardan.
Ardan menganggukan kepalanya dan kini membalikan tubuhnya menghadap kearah Arin seraya mengelus lembut kepala gadis itu.
"sudahlah.. jangan dipikirkan, Mas mau mandi ini sudah siang!" ujar Ardan seraya berlalu menuju kamar kaca.
Arin yang masih berdiam di sana kini dirinya menatap bayangan dirinya yang terpampang begitu jelas di cermin, seraya berpikir jauh tentang apa yang dirinya dengar.
Arin bergegas kembali kedalam kamarnya dan segera mengganti pakaianya.
Saat dirinya sudah selesai, Arin kini beranjak menuju luar kamarnya, dan turun menuju kelantai bawah, saat dirinya berada tepat di barisan anak tangga Arin, menatap jauh kearah ruang dapur yang dimana di sana sudah ada bibik Yan dan begitu juga Sofia.
trak.. trak...
"Selamat pagi Nyonya?" Sapa bik Yan kepada Arin.
"Mmh pagi bik!" jawab Arin.
Sofia yang sedari tadi sibuk membantu kini dirinya menatap keberadaan Arin yang sudah berada di sana, Sofia menatap senyum keberadaan Arin yang kini berjalan menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Arin kepada Sofia.
"mmh.. bukan apa apa, aku hanya membantu bibik Yan saja di dapur!" jawab Sofia kepada Arin.
Arin menganggukan kepalanya seakan akan mengerti.
Namun secara bersamaan tampak dari lantai atas terdengar suara langkah kaki yang kini berjalan menghampiri ruangan itu.
Arin dan Sofia seketika mengalihkan pandangan mereka menatap kearah datangnya ketiga pria yang kini sudah siap siap untuk berangkat keperusahaan mereka.
Arin menatap senyum kearah sosok pria yang kini menggunakan setelan jas hitam yang begitu terlihat rapi.
begitu juga Sofia yang kini menatap canggung kearah Fian yang ternyata pria itu tengah menatap dirinya.
__ADS_1
Trak.. trak..
suara langkah kaki yang menuruni anak tangga.
"Apa hari ini kalian akan ke perusahaan?" tanya Nenek yang baru saja tiba di sana, dan diikuti Tn Hendrik dan begitu juga Aziah.
Spontan semua mata kini tertuju kepada Nenek yang berajalan menghampiri keberadaan mereka yang sudah di meja makan.
"iya Nenek!" jawab Liam kepada Nenek.
"oh.. baiklah." sahut Nenek seraya duduk di salah satu bangku kosong yang terletak di tengah tengah.
"Baiklah.. lebih baik kita sarapan sekarang!" ucap Nenek.
Sofia dan Arin yang kini masih berdiri di tak jauh dari meja kompor, tampak Sofia terlihat sangat canggung dengan keluarga itu.
Arin yang masih berdiri di samping Sofia, kini membantu gadis itu untuk membawa masakan yang telah mereka buat.
"ayo.. kau tidak perlu cemas, Nenek tidak akan memarahi mu!" ucap Arin kepada Sofia.
Sofia menganggukan kepalanya dan seraya membawa sebuah mangkuk yang berisikan sop daging.
trak...
Arin meletakan beberapa masakan di atas meja makan dan diikuti Sofia.
"Kalian duduk lah, tidak usah repot repot untuk melakukan seperti ini, biar bibi Yan saja!" ujar Nenek kepada Arin dan Sofia.
"iya Nenek." sahut Arin yang kini menarik Sofia untuk duduk di sampingnya.
srek.. suara bangku di geser
"kenapa kamu duduk disitu?" tanya Ardan yang kini menatap kearah Arin yang duduk agak jauh dari dirinya.
"eng.. !" gumam Arin bingung.
"biar Fian duduk di situ.. kamu disini aja!" Ujar Ardan lagi.
"iya iya!" sahut Arin yang kini berlalu menghampiri Ardan dan seraya duduk di samping pria itu.
Fian yang mendengar perkataan Ardan yang meminta dirinya untuk pindah ke bangku yang dimana Sofia berada, tampak di wajah pria itu terlihat sedikit canggung.
"kakak.. tidak guna lagi kau seperti itu, kau bahkan sudah menidurinya pindah sana!" ucap Ardan ceplas ceplos.
Fian seketika menatap tajam Ardan dan kini beranjak dari tampat duduknya dan berlalu menghampiri keberadaan Sofia.
"sudah sudah.. kita sarapan sekarang!" timpal Nenek lagi yang kini memulai sarapan.
__ADS_1
Selang beberapa lama sarapan bersama kini telah selesai, dan begitu juga dengan pria pria itu yang kini sudah beranjak pergi meninggalkan kediaman Azhendra menuju ke perusahaan mereka.