
pukul 05.43
Arin kini terbangun dari tidurnya, Arin memandang tubuhnya yang kini tanpa sehelai benang dan hanya tertutupi selimut di tubuhnya.
Arin kini beralih menatap perai yang tengah tidur di sampingnya saat ini, di tatapnya lekat pria itu.
"mas Ardan tampan kalau seperti ini, tapi melihat dia selalu bertindak seperti itu, huh.. bikin orang lain takut untuk menatapnya" batin Arin yang masih menatap lekat wajah Ardan namun seketika.
Deg...
Ardan membuka kedua matanya dan menatap Arin yang kini menatapnya, Arin segera mengalihkan pandangannya menatap ke lain Arah dan segera beranjak turun dari tempat tidur.
"apa kau akan turun seperti itu hem?" tanya Ardan seketika membalikan tubuhnya mengahadap kedepan.
Arin seketika menghentikan gerakannya dan kembali menatap tubuhnya yang kini tanpa sehelai baju, Arin segera mengambil selimut dan berlari menuju kamar mandi.
Ardan yang masih berbaring di sana menatap Arin seperti itu seketika tersenyum dengan tingkah gadis itu yang menurutnya menggemaskan.
***
Pukul 08.00
kini Arin sudah berada di dapur, dilihatnya di sana sudah ada beberapa asisten rumah tangga yang sudah mengerjakan tugas mereka.
Arin berjalan menuju kedalam dapur dan seraya menacari sesuatu.
"oh.. Nyonya, ada yang perlu saya bantu?" Ucap salah satu Asisten tumah tangga iyu kepada Arin yang kini sudah berada disana.
"eng... sarapan untuk pagi ini apa ya Bi?" Tanya Arin kepada asisten rumah itu.
"seperti biasa Nyonya, kami mebuat kari dan beberapa roti" ucap asisten rumah itu kepada Arin.
Arin menganggukan kepalanya seakan akan mengerti
"baiklah kalau begitu, kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian!" Sahut Arin yang kini berlalu menuju meja makan.
Tak... tak..
terdengar suara langkah kaki yang baru saja menuruni anak tangga, terlihat Ardan yang baru selsai mandi dengan menggukan baju kaos putih polos di tubuhnya.
"mas Ardan tidak kekantor hari ini?" Tanya Arin seketika, dengan wajah menatap peria yang kini duduk di bangku yang terletak di depannya
"tidak.. hari ini saya libur." Sahut Ardan sembari menyeruput kopinya, "hemm" tukas Arin sembari menganggukan kepalanya.
tak lama sarapan mereka telah datang, Arin segera mengambilkan makanan untuk Ardan dan meletakkannya di hadapannya.
__ADS_1
Ardan seketika tertegun dengan sikap Arin seperti itu kepadanya.
"makan mas, nanti keburu dingin!" Ucap Arin yang kini memakan sarapannya, Ardan yang sedari tadi diam kini memakan makanannya.
"oh.. ya mas, aku boleh ngomong sesuatu gak?" Ucap Arin di sela sela makan
"hemm!" sahut Ardan yang masih mengunyah makanan.
"aku boleh kerja gak mas? Karena aku harus bayar uang itu sama Mas Ardan" ucap Arin sedikit gugup.
Ardan seketika menghentikan kegiatannya dan kini beralih menatap kearah Arin, Arin yang mendapati tatapan seperti itu seketika menundukan kepalanya.
"bukannya saya sudah bilang, soal itu sama kamu" ujar Ardan kepada Arin.
"tapi.. mas, Arin bosan terus kalau dirumah", Ardan seketika menatap kembali Arin dengan tatapan dingin.
"KALIAN KEMARILAH?" panggil Ardan kepad asisten rumah nya itu.
"iya tuan?" sahut asisten rumah kepada Ardan.
"mulai sekarang, dan seterusnya, biarkan Nyonya kalian yang masak untuk saya dirumah ini" tukas Ardan kepada asisten rumah nya itu.
Arin seketika mengerutkan alisnya
"bukannya kamu bilang, akan bosan saat berada di rumah tanpa adanya pekerjaan, jadi mulai sekarang biar kamu saja yang memasak untuk ku, itung itung pekerjaan untuk kamu!" Ucap Ardan kepada Arin yang kini menatapnya dengan tatapan menjengkelkan.
Arin seketika mendengus kesal dan ingin rasanya memaki maki peria itu.
***
Saat selesai sarapan Arin segera pergi menuju halaman belakang, di san tampak begitu luas dan terdapat beberapa tanaman bunga Arin melangkah kan kakinya menghampiri bunga bunga tersebut.
Arin memetik salah satu bunga dan mencium aroma khas yang terdapat dalam bunga itu, yaitu bunga fillow.
"Excuse me Miss, do you like the flower " seketika seseorang berbicara kepada Arin secara tiba tiba.
Arin tersentak kaget dan kini membalikan tubuhnya menghadap orang tersebut.
"aa yes, i like this flower " jawab Arin dalam menggunakan bahasa inggris, pria itu mengangguk anggukan kepalanya, dan kini menatap Arin dari ujung kepalanya hingga kaki.
"hem.. it's my first time seeing you here Miss, are you Mr. Ardan's Sister?" Ucap orang itu kepada Arin.
"ah, hmm yeah!!" Jawab Arin seraya berpikir untuk tidak memberitahukan siapa dirinya.
Namun dari dalam terlihat seorang pria yang kini berjalan menuju halaman belakang, dia adalah Ardan yang baru saja dari dapur, karena Ardan melihat seseorang tengah berbicara di halaman.
__ADS_1
namun dengan inisiatif dirinya melihat siapa orang itu
"Denny?" Ucap Ardan seraya menuruni anak tangga halam belakang rumahnya.
Ardan segera menghampiri Denny dan Arin di sana.
"Ohh Ardan, are you here?" Ucap Denny seraya menatap Ardan yang kini menghampirinya mereka berdua.
"Yes, what are you doing here?" Tanya Ardan menatap Arin dan Denny secara bergantian.
"Mas Ardan? Kapan mas berada disini?" Tanya Arin yang kini menatap Ardan.
"Baru saja saya kemari" jawab Ardan kepada Arin, Denny memperhatikan mereka berdua dan seketika bersuara.
"is she your cousin Ardan, she is beautiful!" Ujar Denny seraya tersenyum kearah Arin.
Ardan yang mendengar perkataan Denny seketika membulatkan kedua bola matanya.
"WHAT?"cousin? " sahut Ardan dengan wajah tak percaya mendengar perkataan Denny.
"yes, she seems young, oh yes Miss how old are you?" ucap Denny seraya bertanya kepada Arin.
"eng... I'm 19 years old sir" Denny dan Ardan seketika membelalakan kedua bola matanya menatap Arin tak percaya.
"oh really still young" ujar Denny tersenyum lembut kearah Arin, tapi tidak dengan Ardan yang masih menatap Arin tak percaya.
"Apa? 19 tahun?" Ucap Ardan menatap gadis itu yang kini sudah menjadi istrinya, bahkan di umurnya yang masih muda.
"Mas Ardan kenapa?" Ucap Arin kepada Ardan yang kini memijat keningnya.
"tidak.. tidak apa apa" jawab Ardan seraya membuang nafasnya berat.
"oh yes Den, my room now!" ucap Ardan kepada Denny.
"Okay!" Jawab Denny seraya berjalan menuju dalam rumah, namun tidak dengan Ardan yang kini menatap Arin.
"jangan kabur lagi atau saya benar benar akan menghukum kamu jika kamu coba kabur lagi." Ujar Ardan seraya melangkahkan kakinya memasuki rumah.
Arin hanya menganggukan kepalanya seakan menuruti perkataan Ardan.
***
Di sisi lain terlihat seseorang yang tengah di pukuli habis habisan.
"ck.. beraninya kau bilang kau tidak punya uang, kau pikir dirimu siapa? Jangan pernah ikut taruhan jika kau tidak mampu membayarnya" Ucap pria itu seraya mencengkaram kerah orang tersebut.
__ADS_1
"Huks...huks.., aku akan membayar mu nanti, tapi... jika kau bisa membantuku." Sahut orang itu dengan darah yang masih mengalir di hidungnya.