Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Cemburu


__ADS_3

"tidak..!! tidak.. kenapa kenapa." Jawab Ardan yang kini berdiri di samping Arin.


seraya menatap jauh kedepan, Arin seketika berbalik menatap arah pandang Ardan.


"mas punya masalah sama mas Fian?" Tanya Arin kepada Ardan.


Ardan seketika mengalihkan pandangannya menatap gadis itu dengan memicingkan matanya.


"mas Ardan kenapa sih?" Tanya Arin yang bingung akan tatapan itu.


"kenapa kamu panggil Fian dengan kata Mas?" Tanya Ardan sedikit cemburu.


"kenapa mas, kan Fian em..."belum sempat Arin melanjutkan perkataanya Ardan seketika mencibir Arin.


"tidak.. cukup saya saja kamu panggil mas, jangan yang lain" ucap Ardan kini menatap kearah lain.


"Mas Ardan cemburu?" Ucap Arin seketika.


"eng... tidak saya tidak cemburu, eng.. sudahlah saya mau kekamar sekarang" sahut Ardan yang kini berlalu menuju kamar.


Arin hanya menatap bingung tingkah Ardan seperti itu.


"Mas Ardan kenapa sih aneh banget perasaan!" gumam Arin yang kini berlalu pergi menuju kedalam.


***


di kamar Arin segera berlalu menuju kamar mandi membersihkan tubuh nya.


Arin berjalan menuju bathtub untuk berendam di sana, seraya menenangkan pikirannya


Arin memejamkan matanya seketika larut dalam keheningan.


Cklek..


sebuah pintu terbuka dari luar, Arin yang masih berada di dalam sana tak menghiraukan suara itu.


terlihat seseorang yang kini berjalan kearah Arin, yang masih memejamkan matanya, seketika


Cup..


satu kecupan kini mendarat di pipih gadis itu, Arin seketika terbangun merasakan sesuatu di wajahnya.


Arin mendongakan wajahnya terlihat Ardan kini yang berendam disana.


"mas Ardan?" Panggil Arin bingung atas kehadiran Ardan yang kini telah berada di dalam air bersamanya.


"hemm" sahut Ardan yang kini menyanggah kepalanya di bahu Arin.


seraya menciumi aromah tubuh itu yang selalu membuatnya merasa tenang.


"mas Ardan.. geli mas." Ucap Arin seraya memiringkan kepalanya.


Ardan yang masih dalam posisi seperti itu tersenyum nakal mendengar perkataan Arin.


Ardan seketika menggit lembut telinga itu, Arin terkejut dengan apa yang terjadi

__ADS_1


"mas Ardan ??" Panggil Arin kesal dengan tingkah Ardan.


"hemm, kenapa? Mau marah sama saya?" Ujar Ardan yang kini menatap Arin dengan wajah terlihat kesal menatap dirinya, Ardan seketika mencium hidung Arin dan


Deg...


tanpa aba aba Ardan segera mencium bibir itu dan sedikit **********.


Arin tersentak kaget dan membulatkan kedua matanya dengan sempurna.


"mmhf...mas Ardan?" Panggil Arin dengan nafas yang tersenggal.


Ardan seketika melepaskan ciumannya seraya menatap jauh kedua mata itu dan memberikan ruang untuk Arin bernafas.


"mas Ardan? Mas kenapa?" Tanya Arin kepada Ardan yang kini menatapnya, Ardan tak menyahuti perkataan Arin.


melainkan merebahkan kepalanya di bahu itu, seraya menciuminya. Arin hanya menatap heran dan membiarkan Ardan melakukan apa yang ingin dia lakukan.


selang beberapa lama terjadi keheningan yang cukup lama,


"Arin?" Panggil Ardan yang kini memulai bersuara.


"iya mas?"jawab Arin,


"kenapa kamu tidak memberitahu saya soal kehamilan kamu?" Tanya Ardan seketika.


"eng... anu itu Arin.." ucap Arin yang mengantung kan kalimatnya.


"kenapa?, apa yang kamu pikirkan tentang saya?" Tanya Ardan lagi, yang kini mengalihkan wajah Arin untuk menatapnya.


"Arin hanya takut mas Ardan tidak mau menerima anak itu saja!" Ucap Arin seketika, Ardan mengerutkan alisnya.


mendengar perkataan Arin kepadanya,


"saya tidak pernah berpikir untuk seperti itu Arin!" Ucap Ardan meyakinkan Arin.


selang beberapa jam kini mereka telah kembali kekamar, Arin begitu juga Ardan kini mereka turun kelantai bawah, untuk makan malam.


***


di dapur terlihat Tn Hendrik dan istrinya, begitu juga Liam dan Fian sudah berada disana.


Arin hanya menatap jauh keberadaan mereka semua, Ardan yang menyadari hal itu kini memegang tangan itu seraya menariknya.


"apa yang kamu pikirkan? Mereka tidak akan menyakiti mu lagi Arin, percayalah pada saya!" Ucap Ardan seraya tersenyum meyakinkan Arin.


DEG....


Arin seketika tertegun melihat senyuman itu, baru pertama kali dirinya melihat senyuman seorang Ardan, begitu manis dipikirnya yang terukir di wajah tampan blasteran itu.


Arin menganggukan kepalanya dan kini beranjak mengikuti Ardan menuju ruang dapur.


***


"Ehem...." dehem Ardan membuyarkan keheningan disana.

__ADS_1


seketika semua mata tertuju kepadanya yang kini telah duduk di sana.


"kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku?" Tanya Ardan kepada mereka semua.


"Lama banget kak, habis kasmaran ya kalian" ucap Liam ceplas ceplos..


Arin dan Ardan seketika saling pandang satu sama lain.


"tau dari mana kamu, anak kecil tidak boleh tau urusan orang dewasa!" tukas Ardan kepada Liam.


Liam seketika memicingkan matanya.


"anak kecil?, umur ku saja sudah 23 tahun." Ucap Liam kepada Ardan.


"kalian kenapa sih? Dari tadi ribut mulu, kaya anak kecil aja." Ucap Fian yang kini menatap kearah Liam dan Ardan secara bergantian.


"Dia yang duluan!!" Ucap Ardan dan Liam secara bersamaan Tn Hendrik, Fian begitu juga Arin dan Aziah hanya menggelengkan kepala mereka.


melihat perdebatan antara adik dan kakak itu.


"Sudah sudah... kapan kalian mau berhenti hah? Sama sama anak kecil aja berdebat!" Ucap Tn Hendrik seketika bersuara.


Arin yang mendengar perkataan ayah mertuanya itu seketika tersenyum melihat kejadian itu.


Ardan yang menyadari Arin yang tengah tersenyum seketika bersuara


"kamu kenapa?" Tanya Ardan kepada Arin, Arin seketika menghentika senyumanya.


dan kini menatap kearah Ardan dengan ekspresi biasa biasa saja.


"tidak ada mas, ayo makan nanti keburu dingin loh" ucap Arin seraya menyantap makanan itu. Kini mereka semua menikmati makan malam itu.


pukul 21.00


Arin kini beranjak menuju kamar atas, saat dirinya sudah berada disana, Arin segera menjatuhkan tubuhnya di atas kasur seraya menatap jauh atap atap itu.


Arin seketika teringat akan satu hal yang kini membuatnya tersenyum memikirkan hal itu, namun secara bersamaan pikirannya kini kembali mengenang sosok Roy.


wajah Arin seketika berubah mengingat tentang itu, namun saat dirinya tengah larut dalam keheningan tiba tiba, brukk sebuah pelukan kini mendarat di tubuh itu.


Arin melihat kearah orang yang kini tengah memeluknya, yaitu Ardan yang kini ikut berbaring disana seraya menatap wajah cantik sang istri.


"mas Ardan liatin apaan?" Tanya Arin dengan mata yang masih menatap kearah atap kamar.


"hemm lihat kamu!" ucap Ardan.


seraya mendekatkan tubuhnya dan memeluk tubuh Arin dengan sangat erat, Arin hanya tersenyum seraya memikirkan tingkah Ardan yang begitu berubah.


"ternyata peria kejam bisa juga ya... seromantis ini!" ucap Arin seketika membuat Ardan kembali menatapnya


Ardan tak menjawab perkataan itu melainkan menatap wajah itu seraya tersenyum.


"oh ya mas.. Arin boleh ketemu bibi San gak besok?" Tanya Arin kepada Ardan yang masih berbaring di sampingnya.


Arin kini mengubah posisinya menghadap peria itu dan seraya membalas pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2