
#๐ค๐๐ฐ๐๐ฌ๐๐ง ๐๐ข๐ฃ๐๐ค ๐๐ข๐ฃ๐๐ค ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ฆ๐๐ฆ๐๐๐๐ 21+
"tidak..!" jawab Arin singkat.
"bohong." sahut Ardan.
"Tidak.." jawab Arin lagi
"kamu bohong." sahut Ardan.
Arin memicingkan matanya menatap bingung Ardan.
"mas Ardan kenapa sih Arin udah bilang, Arin nggak marah atau kesal kok sama mas Ardan!" Ujar Arin.
"Buktiin kalau kamu gak marah atau kesal sama mas." ucap Ardan.
"hem mas Ardan mau buktiin apaan coba kalau Arin gak marah sama mas Ardan?" tanya Arin lagi.
Ardan tak menyahuti perkataan Arin melainkan pria itu mencium bibir mungil Arin dan seraya melu*** nya.
Arin seketika membulatkan kedua matanya menatap tak percaya dengan apa yang dirinya lihat.
Ardan yang masih di posisi yang sama, kini menatap lekat mata itu dan kini memperdalam ciumannya seakan akan menuntut bibir gadis itu untuk memberikan ruang untuknya.
Arin yang menyadari tatapan itu seketika membalas ciuman itu dan kini ikut larut dalam kehangatan yang tercipta diantara mereka berdua.
Ardan yang kini membuka kembali matanya menatap senyum Arin yang kini membalas ciumannya itu.
Ardan seketika beralih menciumi leher Arin dan seraya menciptakan kepemilikannya di sana.
Arin yang merasakan sedikit geli di bagian lehernya dan berusaha menahan dirinya agar tidak bersuara.
seketika pria itu kini beralih menatap Arin seraya mengusap lembut bibir gadis itu dengan senyum penuh Arti.
Ardan membaringkan Arin di atas kasur dengan tubuhnya yang kini menimpah tubuh Arin, Ardan seketika membuka bajunya.
Deg..
Arin terkesiap menatap tubuh Ardan yang terpampang jelas di hadapannya yang terlihat roti sobek milik pria itu. Arin spontan memejamkan matanya.
Ardan seketika tertawa kecil melihat tingkah lucu Arin yang sering kali seperti itu saat dirinya mengajak gadis itu untuk bermain bersamanya.
***
pukul 22.00
Bruk...
"aahmm... aah!"
"Mmh aah.. ssth.. aah"
suara des**an kini terdengar di balik pintu kamar itu.
"ahh.."
"mmhhh aakh..ah!"
Ardan yang kini tengah melakukan aktifitasnya dan menyalurkan hasratnya yang telah lama tidak tersalurkan.
"mas Ardan.. ini sudah malam loh, mas Ardan gak lelah?" tanya Arin dengan suara tengsengal.
"mas belum lelah, kamu jangan tidur dulu! Temani mas dulu Arin." ucap Ardan yang kini menatap wajah istrinya itu.
__ADS_1
Arin hanya menatap Ardan dengan wajah memelas, yang kini tampak di wajah gadis itu sudah terlihat ngantuk.
Ardan yang melihat Arin seperti itu, seketika dirinya tersenyum nakal dan kembali melakukan aktifitasnya, dan membuat gadis itu kembali merintih kesakitan, Arin kembali mendes** akibat hentakan yang cukup kuat di berikan oleh Ardan kepadanya.
Bruk...
Ardan merebahkan tubuhnya di samping tubuh Arin, dan seraya menatap senyum wajah gadis itu yang kini tertidur pulas di sampingnya tanpa sehelai benang.
Ardan segera menyelimuti tubuh mereka berdua.
Cuph...
Ardan mengecup bibir mungil itu dan kini bergegas untuk tidur.
Namun saat dirinya hendak memjamkan matanya, seketika suara ponsel Arin berdering mendapat notif dari seseorang.
Ardan yang mendengar suara notif tersbut kini dirinya mengambil ponsel Arin yang masih di cas di atas meja sampingnya.
Ardan membuka posel tersebut terlihat nomor asing tertera di beranda ponsel itu.
"nomor siapa ini?" gumam Ardan.
Seraya membuka pesan tersebut dan membaca isi pesan itu.
"Hai?" ucap seseorang dalam isi pesan tersebut.
Ardan seketika memicingkan matanya menatap aneh isi pesan itu, dan kini mengabaikannya dan kembali menaruh ponsel itu di atas meja.
Namun lagi lagi ponsel itu berdering kali ini mendapat panggilan dari nomor asing itu.
Ardan lagi lagi mengecek kembali ponsel Arin dan seraya mengangkat panggilan itu.
"Hallo?" ucap Ardan kepada seseorang dalam panggilan.
Namun tak ada jawaban dari seseorang dalam panggilan itu.
"ck.. jika kau tidak berkepentingan untuk menelpon, lebih baik jangan mengganggu." ujar Ardan kepada seseorang dalam panggilan.
Trak...
"Ck.. mengganggu saja malam malam begini!" gumam Ardan menatap bingung nomor asing itu.
Ardan segera mematikan panggilan itu dan kini bergegas tidur.
***
Pukul 06.13
Derrttt... Derrt...
Suara alarm berdering.
Arin yang kini terbangun dari tidurnya seraya menatap senyum pria yang kini masih tengah tertidur di pelukannya Arin mengusap lembut pipih pria itu dan sesekali mencium lembut hidung itu.
Srek...
Ardan seketika membuka matanya menatap wajah Arin yang kini tepaut dekat dengan wajahnya. Ardan tersenyum seraya membenamkan kepalanya di leher Arin.
"mas Ardan?" panggil Arin.
"mmh?" sahut Ardan masih dalam posisi yang sama.
"Mas Ardan geli." ujar Arin yang kini memiringkan kepalanya.
__ADS_1
Ardan tertawa kecil, dan seraya memeluka tubuh gadis itu.
Srek..
Ardan seketika menatap lekat wajah Arin dan seketika dirinya bersuara.
"semalam ada orang telpon kamu, itu siapa?" tanya Ardan kepada Arin.
"eng.. telpon Arin!" gumam Arin.
Yang kini mengambil ponselnya dai atas meja, Arin segera mengecek ponselnya dan benar terlihat nomor asing yang menelponnya.
"mas Ardan tau suara nya seperti apa?" tanya Arin.
Ardan menggelengkan kepalanya.
"gak ada suara saat mas ngomong sama orang nya!" jawab Ardan.
Arin menatap bingung nomor asing tersebut dan kini meletakan kembali ponselnya seraya beranjak dari tempat tidurnya.
Namun saat dirinya belum benar benar turun, Ardan seketika menatap kearah Arin dan kini meminta gadis itu untuk menyelimuti tubuhnya.
Deg...
Arin seketika tersadar bahwa dirinya tidak menggunakan pakainnya saat ini, Arin mengubah posisinya dan kini kembali menyelimuti tubuhnya.
"Hahah..!" tawa Ardan.
Yang kini menatap lucu wajah Arin yang bersemu merah akibat ulahnya barusan.
"ck.. mas Ardan kalau Arin bawa selimutnya, nanti mas Ardan nya..." ujar Arin menggantungkan kalimatnya.
Ardan kini mengalihkan pandangannya dan menatap senyum Arin yang masih menyelimuti tubuhnya.
Ardan beranjak duduk dan seraya mendekati Arin.
Srek...
Deg...
Arin seketika terkejut mendapati dirinya berada di gendongan Ardan.
"eng!" gumam Arin.
"Sayang, pegangin selimutnya, bagaimana kalau ini melorot?" Ujar Ardan yang kini menggendong tubuh Arin.
"iya.. iya!" sahut Arin.
Yang kini memegangi selimutnya dengan kuat, Ardan seketika tertawa memperhatikan wajah Arin yang bersemuh merah.
tap.. tap..
Ardan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka berdua.
\#๐จ๐๐๐๐๐
๐๐๐ ๐๐ ๐๐ ๐ข๐ ๐ฆ๐, ๐๐๐๐ โ๐๐๐ ๐๐๐ ๐ด๐ข๐กโ๐๐ ๐๐ ๐๐ฆ๐!
__ADS_1