
"Fina?" Ucap Arin seraya berjalan menghampiri Fina yang kini sudah menunggunya disana.
"hai.. kau terlihat gemukan sekarang!" Ujar Fina seraya menggoda temannya itu.
"hemm ah tidak.. " ucap Arin dengan wajah tersenyum paksa.
"hemm ya.. bagaimana kabarmu? jadi kau akan berhenti kuliah?" Tanya Fina kini dengan wajah serius.
Arin tak langsung menjawab pertanyaan Fina melainkan membuang nafasnya dengan berat.
"hemm ya, aku berhenti kuliah Fin!" Ucap Arin kepada Fina.
"kenapa?" Tanya Fina tak percaya.
Arin terdiam sejenak memikirkan apa dirinya harus menceritakan semua apa yang terjadi dengannya saat ini.
saat dirinya sudah yakin Arin segera menceritakan semuanya kepada Fina.
Fina mendengarkan cerita Arin dengan serius namun seketika wajahnya berubah.
"apa? Bagaimana bisa? Roy melakukan itu kepadamu, dan sekarang kau menikah dan mengandung anak dari peria yang waktu itu..." ucap Fina menganggantungkan perkataannya.
Arin hanya manganggukan kepalanya.
"apa kau sudah mengatakannya kepada pria itu kalau kau sekarang sedang mengandung anak nya?" Tanya Fina lagi yang kini beranjak duduk di samping Arin.
seraya memegang lembut pundak sahabatnya itu, Arin hanya menggelengkan kepalanya.
"Fina, aku tidak bisa memberitahunya, aku bahkan tidak tau apa pria itu mau menerima anak ini nantinya atau tidak." ucap Arin yang kini sudah mulai menangis.
Fina memeluk tubuh Arin dan mencoba menenangkannya.
"Sudahlah...jangan kau pikirkan, kau harus kuat menghadapinya saat ini" ucap Fina.
Kini Arin dan Fina mereka berdua menghabiskan waktu mereka disana seraya bercerita satu sama lain
Pukul 17.00
Arin beranjak keluar dari cafe tersebut, dan segera menuju mobil dimana Romi telah menunggunya.
di dalam perjalanan Arin hanya menatap diam jalan perkotaan itu.
"Romi...?" Panggil Arin kepada Romi,
"iya Nya?" jawab Romi seraya menatap Arin dari kaca.
"hemm kita kerumah sakit sebentar ya." Tukas Arin kepada Romi, Romi seketika mengerutkan alisnya mendengar perkataan dari majikannya itu.
"hmm iya Nya" jawab Romi segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Hospital helt.
Arin kini segera beranjak menuju kedalam sana, namun dari kejauhan ada sepasang mata yang kini mengawasinya.
__ADS_1
trut...
trut.....
suara panggilan terhubung.
"hallo?" Ucap orang itu kepada seseorang dari sebrang telepon.
"Nona.. saya sudah menemukan informasi yang Nona inginkan!!" Ucap orang itu kepada seseorang di sebrang telpon.
Orang tersebut Dani, yang ternyata merupakan orang suruhan Nadia, untuk menyelidiki keberadaan gadis yang kini ia curigai.
"hemm katakan." Ujar Nadia kepada Dani.
Dani mengatakan sesuatu di telponya.
Namun disisi lain dimana Nadia yang kini tengah berada di halaman rumahnya yang mendapat panggilan dari anak buahnya yaitu Dani, kini seketika wajahnya berubah terlihat sangat marah, bahkan seperti
ingin mengeluarkan asap di kedua telinganya, Nadia segera mengakhiri panggilan itu dan menatap tajam seluruh taman itu.
"ck...tak akan ku biarkan gadis itu lolos begitu saja"ucapnya kini berlalu pergi menuju suatu tempat.
***
Arin yang kini sudah berada di dalam sana, segera menuju meja resepsionis.
"selamat malam Nyonya? Ada yang bisa saya bantu?" Ucap suster itu kepada Arin, Arin terdiam sejenak dan memikirkan sesuatu.
"baiklah tunggu sebentar ya Nyonya..." ucap suster itu seraya mengecek sesuatu.
"silahkan Nyonya saat ini tidak ada pasien.. anda bisa lansung keruangannya saja, di sebelah sana" ucap suster itu kepada Arin.
seraya menunjukan Arah ruangan tersebut.
"m makasih" tukas Arin seraya berjalan menuju ruang tersebut.
di ruangan USG kini Arin telah berada disana, terlihat seorang dokter yang tengah menunggunya.
"selamat malam Dokter" ucap Arin sopan, kepada dokter kandungan itu.
"hemm silahkan Nyonya.." jawab Dokter itu seraya menyuruh Arin untuk berbaring disana, beberapa menit kemudian.
kini Dokter itu memeriksa kandungan Arin yang masih sangat muda, dari sebuah layar terlihat janin kecil seperti biji kacang itu tumbuh di sana.
Arin menatap kearah layar itu seraya tersenyum.
"Nyonya.. usia kandungan anda masih terbilang sangat muda, anda harus selalu hati hati dan anda tidak boleh bekerja terlalu keras, itu bisa menyebabkan masalah nantinya" ucap Dokter itu seraya menjelaskan.
Arin menganggukan kepalanya, seakan mengerti dari perkataan Dokter itu.
"eng.. Dokter boleh saya meminta foto itu" tukas Arin kepada Dokter itu.
Dokter kandungan itu menganggukan kepalanya dan seraya tersenyum dan memberika salinan foto itu kepada Arin.
__ADS_1
Arin menatap jauh kearah gambar tersebut dan kini di simpannya di dompet miliknya.
Arin segera berlalu pergi meninggalkan ruangan itu dan menuju luar, namun seketika.
***
srek...
seseorang memegang tangan Arin, Arin seketika mengalihkan pandangannya menatap kearah orang itu
"eng... siapa kau?" Tanya Arin dengan keberadaan orang itu.
"ck.. jadi kau gadis itu, kau yang mengaku ngaku jadi seorang pelayan waktu itu bukan" ucap Orang itu yang ternyata Nadia, Arin seketika teringat, dengan sosok itu.
"k kau?" Ucap Arin yang kini teringat sosok tersebut.
"ya.. akhirnya aku tau siapa kau sebenarnya.. kau bukanlah seorang pelayan, melainkan istri dari Ardan." ucap Nadia dengan tatapan tajam kearah Arin.
Arin hanya terdiam dengan apa yang di katakan Nadia kepadanya.
"ekh..Nona, biarkan aku pergi" tukas Arin kepada Nadia.
Nadia tidak menyahuti perkataan itu melainkan kini dirinya menatap sesuatu yang berada di tangan Arin.
Nadia seketika merebut paksa benda itu, terlihat selembar kertas dengan tulisan Cek kandungan.
Nadia seketika membulatkan kedua matanya tak percaya dengan apa yang kini dirinya lihat.
"kau... " ucap Nadia yang kini beralih menatap Arin.
"tak akan ku birakan kau mengandung anak Ardan, tak akan ku biarkan." ucap Nadia kepada Arin seraya memegang kuat tangan itu.
"tidak.. aku mohon jangan sakiti anak ini, aku mohon..." ujar Arin memohon.
"ck.. kau pikir aku akan membiarkan anak itu lahir, tidak...!!" tukas Nadia lagi.
"tidak... ku mohon, jangan sakiti anak ini, baiklah aku tidak akan memberitahu mas Ardan soal ini, tapi ku mohon jangan kau sakiti anak ini" ucap Arin kepada Nadia tanpa berpikir panjang dengan apa yang dirinya katakan.
namun dari kejahuan Romi yang sudah cukup lama menunggu Arin kini berinisiatif menyusulnya.
namun saat dirinya sudah berada di ambang pintu, Romi seketika melihat kehadiran Nadia dan Arin di sana, Romi segera menghampiri mereka.
"Nyo..Maksud ku Nona, anda harus segera pulang" ucap Romi kepada Arin seraya melihat sekilas kearah Nadia.
"hemm baiklah" jawab Arin kepada Romi, Romi segera mengambil alih tangan Arin yang tadinya berada di gengaman Nadia.
Romi segera membawa Arin keluar dari sana menuju mobil dan segera melajukan mobil itu menuju kediaman Ardan.
Nadia yang masih berada disana seketika menatap kepergian Arin dan Romi dengan tatapan penuh Amarah.
"kita lihat apa yang akan ku lakukan besok untuk membuatmu harus menerima semuanya Arin, baik kau dan anak itu" ucap Nadia, seraya berlalu meninggalkan rumah sakit itu.
__ADS_1