Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Bab 3 (what's wrong with the CEO)


__ADS_3

"Sayang?" panggil Tasya melihat Arka yang tiba tiba pergi begitu saja.


"ck.. kenapa dengan dia!" gumam Tasya.


Di lain sisi.


Di sebuah apartemen milik Bela, yang dimana terlihat gadis itu tengah berada di balkon teras kamarnya sembari menikmati hembusan angin sore hari dengan di temani secangkir teh.


Bela yang tampak tengah merileks kan pikirannya di sebuah bangku dan saat dirinya memejamkan matanya seketika Bela mendengar suara Arka yang seperti memanggilnya.


"kenapa sih suara pak Arka selalu menggema di pikiran ku!" ucap Bela dengan mata yang masih terpejam.


namun di lain sisi yang dimana Arka sudah berada di apartemen milik Bela kini tampak pria itu tengah berdiri di depan sebuah teras yang dimana terlihat Bela tengah memejamkan matanya.


Arka seketika tersenyum simrik dan kini berteriak memanggil Bela.


"BELAA?" teriak Arka.


Deg..


Sontak Bela terbangun yang dimana dirinya mendengar jelas usara pria itu, Bela seketika menatap kearah bawah yang dimana terlihat Arka yang tengah menatap tajam kearahnya.


Bela seketika menelan ludahnya dengan kasar dan kini berlalu cepat menghampiri pria itu.


trak... trak.. suara langkah kaki yang berjalan tergesa gesa.


cklek..


"P pak Arka? ad....!" belum sempat Bela melanjutkan perktaanya seketika Arka bersuara.


"Apa apaan kau ini, aku memberikan mu gaun ini dan kau.. ahh kau mengembalikannya kepadaku!"ucap Arka dengan suara sedikit amarah.


"m maaf pak, saya kira itu untuk gadis yang ada di ruangan pak Arka barusan." ucap Bela.


"ck.. ambil, ingat pakai ini nanti jika tidak mau saya skors besok!" ujar Arka.


"eng tidak pak..!" sahut Bela.


"Huh.. kalau nolak bisa kena skors, gaji ku bakalan di potong nanti!" batin Bela.


"ingat pukul 7 malam kamu sudah bersiap." ujar Arka lagi.

__ADS_1


Bela menganggukan kepalanya pertanda mengerti maksud dari perkataan pria itu.


Arka menatap intens Bela dan kini mengalihkan pandangannya menatap jauh kedalam apartement milik gadis itu.


"Saya pergi dulu!" tukas Arka tiba tiba dan kini berlalu pergi menuju pulang ke apartemen miliknya.


Bela yang masih berdiri di depan pintu apartemen miliknya, kini gadis itu menatap kearah perginya Arka, Bela seketika mendengus kesal sembari memaki dalam hati sifat bosnya itu yang mau seenaknya saja.


Bela kini menatap paperbag itu dan dengan kasar mengambil gaun yang terdapat di dalam sana.


Srek..


"Aa apa apaan ini? baju yang setengah bahan aja masih mau di beli!" gumam Bela menatap gaun itu.


"Apa dia pria gila yang menyuruh ku memakai beginian!" timpalnya lagi.


Bela segera memasukan kembali gaun tersebut dan kini berlalu masuk kedalam apartemen miliknya dan berlalu menuju kamarnya, sesampai di kamar Bela membanting sedikit paperbag itu dan kini berlalu menuju teras kamarnya.


Waktu terus berjalan tampak hari sudah mulai gelap, Bela yang baru saja selesai mandi dan kini menghias wajahnya dengan make up simple namun tampak elegan.


Bela bergegas mengambil gaun yang di berikan Arka kepadanya namun dengan perasaan berat dirinya memakai gaun tersebut.


Bela beranjak menuju cermin dan kini menatap tubuhnya di sana, sontak Bela menatap jijik gaun itu yang begitu seksi baginya.


Namun saat bersamaan dari arah luar terdengar suara klakson mobil yang kini berada tepat di bawah apartement miliknya, Bela mendongak kan kepalanya menatap kebawah yang dimana terlihat Arka yang ternyata sudah tiba di sana.


Bela bergegas mengambil tas miliknya dan juga handphone nya dan kini berlalu menuju bawah.


cklek... suara pintu di buka.


"Selamat malam pak Arka?" ucap Bela yang kini sudah berada di sana.


Arka yang sedari tadi sibuk membenarkan dasinya dan seketika dirinya di kejutkan dengan kehadiran Bela di sana, Arka sontak menatap paku Bela dari ujung kepala hingga kaki, Arka tak percaya dengan apa yang dirinya lihat gaun yang di berikannya benar benar cocok di gadis itu.


Bela yang melihat dasi Arka sedikit tidak rapi, kini gadis itu berlalu menghampiri pria itu dan merapikannya.


Deg..


spontan Arka tersadar dari lamunannya menatap Bela yang begitu dekat dengan dirinya.


"sud...!"

__ADS_1


"ayo masuk jangan lama lama!" ucap Arka tiba tiba menyela.


"iya pak!" sahut Bela yang kini beranjak masuk kedalam mobil dan duduk di samping pria itu.


Di dalam mobil Arka segera meminta sopir pribadinya itu untuk segera melajukan mobilnya menuju sebuah hotel berbintang yang terletak di jalan Petran.


Di sepanjang perjalanan, di dalam mobil terlihat Bela dan Arka yang tidak berbicara sepata kata pun, sehingga Arka yang kini merasa jenuh memulai berbicara.


"Kenapa kamu diam?" Seketika Arka berbicara.


"saya tidak tau mau berbicara apa pak!" jawab Bela.


Arka seketika menatap bingung Bela mendengar penuturan gadis itu.


"huh.." gumam Arka membuang nafasnya dengan kasar, sembari menatap jauh ke luar.


Setibanya mereka di sebuah hotel, Arka dan Bela kini beranjak turun dari mobil itu, Bela menatap paku hotel itu, namun saat dirinya tengah melamun Arka seketika bersuara meminta Bela untuk berjalan di sampingnya.


Bela beranjak menghampiri Arka dan kini berjalan beriringan dengan pria itu.


Sesampainya mereka di dalam Hotel, seketika seseorang memanggil dirinya, spontan Arka menatap kearah orang tersebut yang kini tersenyum kearahnya.


"Fero?" Ucap Arka kepada Fero.


"Kak!" sahut Fero yang ternyata merupakan anak dari tantenya yaitu Sofia.


Brukk


Fero memeluk erat tubuh kakak sepupuhnya itu yang sudah lama tidak di jumpainya.


"Akhirnya kita ketemu juga setelah hampir 3 tahun!" ucap Fero.


"iya.. eng bagaimana dengan Mamah ku? apa dia baik baik saja?" tanya Arka.


"Tante baik baik saja, begitu juga dengan Om Ardan!" sahut Fero.


"lalu bagaimana deng..." belum sempat Arka melanjutkan perkataanya seketika seorang gadis kini berteriak memanggil namanya.


"Kak Arka?" panggil seorang gadis.


Arka seketika menatap kearah suara tersebut yang dimana terlihat Adik kesayangannya Alya bersama dengan seorang gadis yaitu Tasya. Arka seketika menatap dingin Tasya yang ternyata juga hadir dimalam itu.

__ADS_1


...☘️☘️☘️...


...𝚝𝚘 𝚋𝚎 𝚌𝚘𝚗𝚝𝚒𝚗𝚞𝚎...


__ADS_2