
Arin seketika menganggukan kepalanya, namun saat mereka tengah sibuk berbincang, seseorang kini menghampiri meja mereka.
"Arin?" panggil orang itu yang ternyata Ferdian.
deg..
Sontak Arin dan begitu juga Ardan Fian dan Sofia seketika menatap kearah suara itu yang dimana terlihat seorang pria yang kini tersenyum kearah seorang gadis yang duduk di sana.
Ardan seketika menatap lekat sosok pria itu begitu juga dengan Fian yang kini menatap intens sosok itu.
"Kau?" ucap Fian yang mengenali sosok itu.
"Eng.. Fian?" ucap Ferdian kepada Fian, dan kini pria itu menatap kearah seorang pria satunya lagi.
"Oh.. ternyata kau Ardan, aku tidak menyangkan akan bertemu kalian disini!" ucap Ferdian kepada Fian dan Ardan.
Ardan tak menyahuti perkataan Ferdian kepadanya, melainkan menatap tak suka kearah pria itu.
"apa yang kau lakukan disini?" tanya Ardan kepada Ferdian.
"oh..aku, ini bisnis ku, jadi kedatangan ku untuk memantau kinerja restoran ku!" ucap Ferdian kepada Ardan dan kini mata pria itu menatap senyum sosok Arin yang masih diam di sana.
"Mas Ardan kenal sama Ferdi!" batin Arin yang kini menatap diam kearah Ferdian.
"Arin, senang bertemu kau lagi, tampaknya kau sangat baik!" ucap Ferdian.
Ardan seketika mengalihkan pandangannya kearah Arin dengan tatapan tak percaya dengan apa yang dirinya dengar.
"eng.. i iya!" jawab Arin gugup yang mendapati dirinya di tatap oleh Ardan.
"Kita sudah bertemu 4 kali, kurasa ini takdir!" ucap Ferdian kepada Ardan.
trak...
"apa maksudmu takdir ?" tanya Ardan yang kini menatap tajam kearah Ferdian.
"eng.. tidak, kami sudah bertemu 4 kali, kurasa...!" belum sempat Ferdian melanjutkan perkataannya seketika Arin menyela.
"Mas, Ferdi ini pernah nolong Arin, jadi kami pernah ketemu sebelumnya!" Ucap Arin sedikit gugup.
"mmh, ya!" ujar Ferdian.
"Ardan?, ku pikir kau.. akan pergi bersama Nadia? Ternyata... tidak!" ucap Ferdian kepada Ardan.
"apa urusan mu, sepupuhmu bukan kekasih ku lagi!" sahut Ardan dengan nada tak suka.
Ferdian seketika menganggukan kepalanya dan kini menatap kearah Arin.
"Arin, apa kau sibuk nanti malam?"tanya Ferdian kepada Arin.
Arin seketika menelan ludahnya dengan kasar mendengar perkataan dari Ferdian.
"apa pria ini tidak tau, kalau dirinya tengah berada di hadapan Mas Ardan!" batin Arin.
"kenapa kau menanyakan apa dia sibuk atau tidak?" tanya Ardan balik.
__ADS_1
Ferdian seketika menatap kearah Ardan yang terlihat di wajah pria itu sudah menahan amarahnya.
"apa kau tidak tau, kau bertanya dengan siapa?" Timpal Ardan yang kini menatap tajam kearah Ferdian.
"eng..!" gumam Ferdian bingung.
"ck.. kau tau siapa yang kau ajak bicara dan siapa yang sedang kau tanya? Baiklah aku yang akan menjawab pertanya mu" ujar Ardan lagi.
"Istriku sibuk malam ini, kau tidak perlu menanyakan nya lagi!" ucap Ardan.
"oh.. d dia istrimu!" sahut Ferdian dengan nada tak percaya.
"kau pikir dia siapa? sekretarisku?" ucap Ardan.
Ferdian tak menyahuti perkataan Ardan melainkan pria itu kini menatap kembali kearah Arin yang Ternyata gadis itu menatap diam dirinya.
"baiklah.. maafkan aku, huh.. aku permisi dulu, kalian lanjutkan saja!" ucap Ferdian seraya berlalu meninggalkan mereka semua disana.
Mereka berempat kini menatap diam kepergian Ferdian disana, Ardan yang masih menatap jauh kedepan kini pandangannya beralih menatap kearah Arin.
"jadi pria yang Romi katakan itu Ferdian!" ucap Ardan yang kini memulai berbicara kepada Arin.
"eng!" gumam Arin.
"apa kau bahagia? apa kau menyukai pria itu?" tanya Ardan.
"Mas Ardan? Apa yang Mas katakan!" Tukas Arin seraya menatap bingung pria itu.
Ardan tak menyahuti perkataan Arin melainkan pria itu beranjak pergi meninggalkan restoran tersebut.
"Mas Ardan tunggu sebentar!" Panggil Arin yang kini berlari mengejar Ardan yang hendak masuk kedalam mobil.
srek...
"Mas Arin minta maaf!" Ucap Arin kepada Ardan.
Ardan seketika mengalihkan pandangannya yang kini menatap kearah Arin yang berdiri di hadapannya, tanpa berbicara sepata katapun.
"Mas Ardan? Maafin Arin, yang gak cerita soal Ferdian yang nolongin Arin" ucap Arin kepada Ardan.
"Kenapa dia membantu kamu?" tanya Ardan.
"eng.. sebenarnya..!" ucap Arin yang kini menceritakan sesuatu kepada Ardan tentang kejadian beberapa bulan silam yang menimpa dirinya.
Ardan yang mendengar perkataan dari gadis itu, kini dirinya hanya menatap paku Arin.
"Hapus." ujar Ardan kepada Arin.
Spontan Arin menatap Ardan dengan tatapan bingung.
"hapus kontak pria itu dari ponsel kamu, jangan jawab semua pesan atau panggilan dari pria itu lagi!" ujar Ardan kepada Arin.
"kamu sudah punya suami Arin!" timpal Ardan lagi.
"mmh.. baiklah!" jawab Arin kepada Ardan.
__ADS_1
Namun di lain sisi, di dalam Restoran Fian dan Sofia yang masih berada di sana, tampak terlihat jelas di antara keduanya itu kini duduk dengan suasana canggung.
"eng.. kak Fian, mau makan apa?" tanya Sofia kepada Fian.
"eng.. terserah, saya ikut kamu saja!" ucap Fian dengan senyuman.
Deg...
"Jangan senyum gitu kak Fian, kenapa jantungku seperti ini... aah sadarlah Sofia!" batin Sofia.
Namun saat mereka berdua tengah sibuk, seketika Fian mendapat notif dari ponselnya.
tring...
"Kalian lanjutkan saja, kami pulang duluan!" ucap Ardan dalam sebuah pesan singkat.
"apa?" Ucap Fian yang kini membalas pesan itu dan menatap tak percaya isi pesan tersebut.
"ck.. anggap saja kalian sedang berkencan, aah sudahlah nikmati saja hari kalian berdua, sebelum besok kalian akan menikah!" Balas Ardan dalam pesan singkat.
off.
Fian seketika membuang nafasnya dengan kasar, dan kini menyandarkan tubuhnya di sana.
trak...
Deg..
Sofia seketika terkejut mendengar suara ponsel yang di letakan dengan cukup keras di atas meja.
"kak Fian kenapa? apa mereka tidak mau lanjut makan siang." Tanya Sofia kepada Fian.
"iya.. sudah kita makan berdua saja, lagian saya juga sudah lapar!" ucap Fian.
Sofia seketika tersenyum dan kini memesan beberapa makanan untuk mereka berdua.
Namun di lain sisi Arin yang ternyata berada di dalam mobil, Ardan yang kini berlalu meninggalkan restoran itu menuju kembali kekediaman Azhendra.
Di perjalanan Arin yang kini hanya berdiam saja, dengan wajah menatap jenuh kearah luar jendela mobil.
"Mas?" panggil Arin kepada Ardan.
"Mmh!" sahut Ardan seraya menatap sekilas Arin.
"Mas Ardan kenapa sih pakai acara pulang segala, Arin lapar loh Mas, belum makan siang loh!" rengek Arin.
"eng.. kenapa kamu gak bilang dari tadi!" ujar Ardan kepada Arin.
"gimana mau bilang, dari tadi Mas Ardan marah sama Arin!" ucap Arin.
"mmh.. ya sudah Mas minta maaf, kamu mau makan apa?" tanya Ardan kepada Arin.
"eng.. Mas Ardan huhu... coba Mas Ardan lihat, apa ada restoran atau jajanan disini, ini masih jauh loh Mas!" ucap Arin serya melihat keasana kemari.
__ADS_1