
"ck..breng*** kau Roy..jika aku tau siapa yang kau hadapi, aku tidak akan mau ikut campur urusanmu" ucap Dio kepada Roy.
namun tanpa basa basi Romi memukul wajah Dio dan membuatnya tersungkur ketanah.
"ck.. lebih baik kau menyerahlah Dio, karena ini bukan waktunya kau melarikan diri lagi!" ucap Romi yang kini menarik kerah Dio.
dan menatapnya dengan tajam, Ardan yang kini menatap kearah Roy.
beralih melihat kearah dimana Arin berada, Ardan sektika terbelalak mendapati Arin yang jatuh pingsan dalam keadaan terikat.
seketika wajah Ardan menampakkan kemarahan seperti ingin membunuh siapapun yang berhadapan dengan nya.
Ardan seketika melangkah kan kakinya untuk menghampiri Arin, namun sebuah tangan mencegahnya.
Ardan menatap tajam kearah orang yang kini menahannyam
"apa yang kau lakukan?" Tanya Ardan dengan wajah terlihat marah.
"tidak mudah untuk membawanya Ardan..." ucap Roy yang kini menatap kedua mata itu.
"berani sekali kau" ujar Ardan yang kini memegang tangan Roy.
"dia istriku Roy!" Ucap Ardan lagi, Roy yang mendengar perkataan Ardan sedikit tak percaya.
"istri? Mana mungkin orang sepertimu bisa menikah, bahkan ku rasa kau hanya ingin menikmati tubuhnya saja" ucap Roy kepada Ardan.
BRUK....
Ardan seketika memukul kuat wajah Roy, hingga mengeluarkan darah di bibirnya.
"kau pikir diriku bajingan seperti mu Roy, melakukan apapun hanya demi uang" Ucap Ardan yang kini memukul lagi wajah Roy.
Bruk..
Roy.. seketika memukul balik Ardan, dan kini pertarungan itu tak terhindarkan.
Arin yang tadi pingsan kini telah sadar mendapati suara kericuhan di tempat itu, Arin menatap samar kearah kerumunan itu.
"mas Ardan?" Panggil Arin menatap kearah kericuhan itu.
"ehk.. akh.." pekik Arin menahan sakit di perutnya, Ardan yang sedikit bisa mendengar suara itu.
seketika mengalihkan pandangannya menatap kearah Arin.
"Arin?" Gumam Ardan.
namun saat dirinya lengah seketika Roy memukul kuat wajah Ardan dan seketika mengeluarkan darah di bibirnya.
"ck.."
Bruk...
brukk..
lagi lagi, Ardan sudah kehilangan kendali membuat Roy yang tadinya mampu menahan serangan Ardan.
kali ini di buat terdesak olehnya.
BRUK....
__ADS_1
PRANK....
srek...
Roy terjatuh tersungkur di tanah dengan penuh luka di seluruh wajahnya.
"ahh..hh" terdengar suara nafas yang tak teratur dari mulut Ardan.
"Mas Ardan?" Gumam Arin lagi yang sudah tak berdaya, Ardan seketika melangkah kan kakinya menuju Arin.
"Mas Ardan!" gumam Arin lagi yang kini menatap Ardan di hadapannya, tanpa basa basi, Ardan segera membuka tali itu dan membawa Arin bersamanya.
Ardan segera belalu meninggalkan gedung itu.
"Romi?, bawa Dio bersamamu" ucap Ardan kepada Romi seraya berlalu menuju luar.
"baik tuan" jawab Romi yang kini menatap Dio yang sudah terlihat tak berdaya, Romi segera membawa Dio bersamanya.
diluar tampak Ron yang juga sudah menghabisi separuh anak buah Dio.
"Ron?" Panggil Romi, Ron kini beralih menatap Romi yang kini membawa Dio bersamanya.
"hah... si bocah itu ternyata membuatnya tak berdaya" gumam Ron, menatap keberadaan Romi.
"yaa kalian... pergilah, Bos kalian telah kami kalah kan" ucap Ron kepada anak buah Dio, seketika semua mata tertuju kepada Romi dan Dio, mereka semua berlari.
berhamburan meninggalkan gedung itu dengan tergesa gesa, Ron menghampiri Romi yang masih berdiam disana.
Brak...
Romi melempar Dio kearah Ron secara tiba tiba dengan sigap Ron menangkap tubuh Dio seraya menatap bingung Romi.
"bawalah dia, aku akan pergi bersama tuan kerumah" ucap Romi kepada Ron.
"em.. apa yang terjadi, siapa yang bersama tuan itu?" Tanya Ron seketika.
"eng... istri tuan" ucap Romi kepada Ron.
"hem apa? Istri?" ujar Ron seketika menatap mobil Ardan.
"ahh sudah lah Aku pergi dulu kau urus dia" ucap Romi seraya berlalu menuju mobilnya.
"ya ya..." jawab Ron malas, Ron seketika memanggil anak buahnya yang satunya lagi.
"iya tu...." belum sempat anak buahnya itu bersuara seketika Ron melempar tubuh Dio kepada anak buahnya itu.
"kau bawa dia" ucap Ron seraya berlalu menuju mobilnya dan meninggalkan anak buahnya itu bersama Dio dengan wajah yang masih terlihat bingung.
"JEN..!! CEPAT!" Ucap Ron berteriak kepada anak buahnya itu yang bernama Jeno.
"akh.. iya tuan, akh... berat sekali" ujar Jeno seraya berjalan menghampiri Ron yang sudah berada di mobilnya.
***
beberapa jam berlalu di kediaman Azhendra tampak beberapa mobil mewah terpakir disana, Ardan yang baru saja tiba di rumahnya segera membawa Arin di gendongannya, menuju kamar atas.
Aziah dan Tn Hendrik melihat Ardan yang baru saja tiba dengan tergesa gesa seketika berlalu menyusul putranya itu menuju lantai atas.
Di kamar utama.
__ADS_1
"Mah.. panggil Dokter Dandy buat datang kemari Mah!" Ucap Ardan yang kini meletakan tubuh Arin di tempat tidur, Aziah menatap Arin yang terbaring di sana, dengan wajah kaget.
Aziah dengan cepat menelpon Dokter untuk segera kerumahnya.
"apa yang terjadi Ardan?" Tanya Tn Hendrik yang kini menatap kearah putranya itu.
"Ardan tidak bisa menjelaskannya Pah, Rom...?" Panggil Ardan dengan wajah panik.
"iya tuan?" Jawab Romi.
"ah... ceritakan kepada Papah ku, aku tidak bisa menceritakan nya" ujar Ardan yang kini berlalu mendekati Arin yang masih belum sadar, Romi menatap tuan besarnya itu seraya menceritakannya secara ditel.
Tak lama Dokter Dandy tiba disana, dan segera memeriksa keadaan Arin dan juga kandungannya.
"bagaimana Dok, apa Arin baik baik saja?" Tanya Aziah yang juga tak kalah kahwatir.
"tenang Nyonya.. Tuan... tidak ada yang perlu di khawatirkan Nyonya muda hanya perlu beristirahat saja saat ini, Tuan.. saya harap anda harus lebih berhati hati untuk menjaganya" ucap Dokter Dandy kepada Aziah dan Ardan.
Wajah Ardan dan Aziah sedikit lega mendengar perkataan Dokter Dandy, seraya menganggukan kepalanya.
Ardan kini beranjak duduk disana seraya mengobati luka di wajah Arin, Ardan menatap nanar luka luka itu seraya membelai lembut wajah Arin yang kini belum sadarkan diri.
Ardan ingin rasanya memaki maki dirinya.
"maaf kan saya Arin, saya lalai menjagamu" gumam Ardan pelan.
Ardan seketika merebahkan tubuhnya di samping tubuh itu, seraya memeluknya dengan kehangatan.
mungkin ini yang dinamakan cinta sebuah perjuangan yang belum pernah dimiliki oleh seorang Ardan Azhedra meski Ardan belum sempat untuk menyadari hal itu.
Di Stand, terlihat Ron dan kawanannya kini tengah mengerumuni seseorang.
Brus....
plasht....
suara dercikan Air yang di hamburkan keawajah seseorang.
"hh huks... huks.." Dio tersadar, kini dirinya.
menatap bingung keberadaanya saat ini,
"aah akhirnya kau bangun juga, seperti raja saja, harus ditunggu begitu kau baru bangun hh?" Ucap Ron yang kini menatap kearah Dio.
Dio hanya diam tak menyahuti perkataan itu, Ron yang berbicara sedari tadi kini hanya mendengus kesal melihatnya tak bersuara sedikit pun
"aii... kalian bawa dia ke tahanan bawah, sampai persidangan besok" ucap Ron kepada Kawanannya seraya berlalu pergi menuju luar Stand.
namun di sisi lain Roy yang masih bisa selamat, kini berada di kios miliknya.
dengan keadaan yang masih luka parah, Roy terdiam sejenak mengingat kejadian tadi, seraya memikirkan perkataan Ardan kepadanya.
"Dia istriku Roy!!" perkataan itu terus menghantui pikiran Roy.
Roy hanya tersenyum kecut tak percaya dengan apa yang di dengarnya
kebodohan yang selalu membuatnya merasa bersalah telah membuat wanita yang dulu pernah berada didekatnya dan mencintainya.
kini malah menikah dengan pria asing.
__ADS_1
"Arrgggh...hiks.. hiks...." teriak Roy frustasi, Roy menangis di dalam sana.
meski kini dirinya telah berusaha untuk membawa gadis itu kembali, percuma... mungkin ini yang dinamakan takdir.