Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Aksi Penculikan Pt 2


__ADS_3

Di rumah Bibi San terlihat Arin yang kini asik mengobrol dengan sang Bibi, dan berbagi kerinduan antara mereka berdua.


"Bibi lihat kau tampak gemukan sekarang, bagaimana apa kau baik baik saja hem?" Tanya Bibi San kepada Arin


Arin menganggukan kepalanya, dan kini menatap jauh pikirannya.


"apa yang kau pikirkan Arin? Apa kau punya masalah? Katakanlah jika kau ingin mengatakannya?" Ujar Bibi yang kini menyentuh punggung Arin.


"hemm bibi... hanya saja aku merindukan Ayah dan Ibu saja Bi." Ucap Arin kepada bibi San.


"sebenarnya memang ada sesuatu yang harus Arin katakan" timpal Arin lagi, kini Bibi San menatap Arin dengan serius.


"Bi.. Arin saat ini tengah mengandung anak mas Ardan!" Ucap Arin kepada bibi, Bibi San seketika tertegun mendengar perkataan itu, lalu membuang nafasnya dengan berat.


"apa pria itu..." belum sempat Bibi San melanjutkan perkataannya namun seketika Arin bersuara.


"mas Ardan tau Bibi, dia juga mau menerimanya!" Ujar Arin kepada Bibi.


Bibi San sedikit terlihat lega di wajahnya dan seketika tersenyum hangat menatap wajah Arin yang begitu ia rindukan selama ini.


"oh ya bi... Fina hari ini ulangtahun, Arin mau pergi menemuinya, bibi kapan kapan lagi aku kemari untuk menjenguk bibi" ucap Arin yang kini ingin beranjak pergi dari sana.


"baiklah hati hati lah di jalan ya" ucap bibi yang kini ikut bangkit dari tempat duduknya.


***


namun di sisi lain Romi yang masih berada di mobilnya kini saat dirinya tengah melihat kearah luar jendela, tiba tiba pandangannya beralih menatap kearah datangnya seseorang.


menggunakan mobil Jeep dan beberapa mobil Fan tertutup lainnya.


"eng.. seperti pernah lihat?" Ucap Romi seraya memicingkan matanya.


"DFG...?" Eja Romi seraya mengingat ingat sesuatu, namun secara bersamaan Arin yang sudah keluar dari Rumah bibi San.


dan hendak menuju mobilnya, namun seketika ada sesuatu yang mencegat dirinya.


Arin terkesiap dan seraya melihat kearah orang itu.


"oh.. ternayata kau orangnya!" Ucap orang itu kepada Arin seraya melihat lihat kearah foto yang terdapat di tangannya.


dengan wajah masih terlihat takut, Arin memberanikan diri untuk bertannya.


"eng.. siapa kalian?" tanya Arin yang kini terlihat sangat panik, Arin melihat kearah ujung jalan namun masih terlihat agak jauh tampak dari mata.


Arin berlalu ingin menghindari mereka semua namun sesuatu mencegahnya lagi lagi pria itu menghadang Arin.

__ADS_1


"mau kemana Nona, jangan terlalu terburu buru" ucap pria itu lagi yang kini memegan tangan Arin seraya tersenyum penuh Arti.


Arin hendak berteriak memeanggil seseorang namun pria itu menutup cepat mulut Arin dan mengendongnya menuju mobilnya, Pria itu membawa Arin ntah kemana.


Romi yang masih berada di mobil kini kembali menatap datangnya mobil Jeep dan Fan tertutup itu yang baru saja keluar dari gang tersebut, Romi menatap lekat arah kemana mobil itu, namun tiba tiba.


Romi terkejut melihat sosok Arin yang ternyata berada di salah satu mobil milik orang itu.


Romi hendak keluar namun dengan cepat dirinya melajukan mobilnya memutar balik arah mengikuti mobil itu, dalam perjalanan Romi segera memberitahu atasannya yaitu Ardan.


dan menelpon beberapa anak buah lainnya,


"apa kalian ada di Stand?" Tanya Romi yang kini berbicara kepada anak buah lainnya.


"iya.. kami ada di Stand, kenapa Rom?" Tanya Ron kepada Romi.


"pergilah menuju arah timur Nyonya dalam masalah, seseorang membawa Nyonya bersama mereka saat ini aku tengah dalam perjalanan mengikuti mereka, dan jangan lupa bawa yang lainnya" ucap Romi panjang lebar kepada Ron dan seraya mengakhiri panggilan itu.


Namun di dalam mobil milik pria itu Arin memberontak dengan sekuat tenaga namun.


PLAK..


satu tamparan mendara tepat di pipih Arin hingga mengeluarkan cairan merah di bibinya.


"ck berani beraninya kau... berteriak seperti itu Nona" ucap pria itu yang kini mencengkram kuat dagu Arin.


"Tuan.. tampak nya ada seseorang yang mengikuti kita" ucap anak buah pria itu seraya melihat kearah dimana mobil mengikutinya.


"ck.. perintahkan anak anak lainnya, untuk mengahadang mobil itu" ujar peria itu kepada anak buah satunya.


"baik tuan" ucap anak buah pria itu dan kini memintah anak buah lainnya melalui sambungan, untuk segera mencegah mobil yang kini mengikuti mereka.


"siapa kalian... kenapa kalian membawaku hh?" Tanya Arin yang masih berada di cengkraman peria itu.


"aarghh diam lah... kenapa bisa bisanya aku ikut campur masalah si brengsek itu" ucap pria itu dengan tatapan tajam.


namum di sisi lain Romi yang masih mengikuti mobil mobil itu seketika


beberapa dari mobil itu berhenti begitu saja,dan menghadang mobil milik Romi, terlihat dari dalam mobil itu kini ada beberapa orang keluar dari sana seraya berjalan menuju mobil Romi


"ck... apa yang mereka lakukan!" Ujar Romi yang kini turun dari mobil.


"ck.. berani beraninya mereka!" gumam Romi yang kini berjalan menghampiri mereka semua.


"ho.. tampaknya tuan memberikan kita bocah kecil ahah" tukas anak buah pria itu yang kini berjalan menghampiri Romi saat mereka telah beradu pandang seketika.

__ADS_1


Bruk...


srek...


tanpa basa basi seketika Romi memukul anak buah pria itu dan membuatnya tersungkur di jalan.


"hh... berani beraninya kau bilang aku kecil" tukas Romi seraya tersenyum smrik.


"akh..breng***, kau..." ucap anak buah pria itu seketika melayangkan pukulannya ke wajah Romi namun dengan cepat.


Brak...


Romi menahan pukulan itu.


"ai...kau pikir mudah untuk memukul wajahku ck" tukas Romi seraya menahan pukulan itu, dan.


BRAK...


Romi menendang kuat tubuh orang itu dan kini membuatnya tersungkur lebih jauh bersama anak buah yang lainnya.


"argh... berani sekali kau bocah" tukas mereka semua yang terjatuh ke jalan.


"ck.. tubuh saja yang besar, nyali kalian yang menciut seperti itu mau melawan ku" tukas Romi yang kini kembali masuk menuju mobil meninggalkan anak buah pria itu.


yang masih tersungkur di jalan, dan bergegas menyusul mobil yang lainnya.


Di perusahaan Ardan yang baru saja selesai meeting dan kini berada di ruang kerjanya, seraya mengecek ponselnya yang tadi tidak di bawanya saat berada di ruang meeting.


Ardan tampak bingung menatap layar ponselnya yang kini dipenuhi panggilan dari Romi dan beberapa pesan yang tertera di sana.


Ardan membuka pesan tersebut, seketika wajahnya berubah, dan kini dirinya mencoba menghubungi nomor Romi kembali.


Dret... dret.....


suara panggilan terhubung.


"Hallo?" Panggil Ardan kepada seseorang yang kini telah terhubung dengan nya.


"hallo Tuan..." ucap Romi dari sebrang panggilan yang kini memberi tahukan kejadian kepada Ardan.


Ardan yang mendengar cerita Romi seketika wajahnya berubah drastis terasa ingin marah.


Ardan segera belalu menuju luar seraya meneriaki Agus


"ikutlah bersamaku" ucap Ardan yang kini belalu dari ruangnnya menuju mobil dan di ikuti Agus di belakangnya.

__ADS_1



__ADS_2