Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Kemarahan


__ADS_3

PLAK...


lagi lagi Nenek menampar keras wajah Fian, tampak di wajah pria itu terlihat memerah bekas tamparan keras di wajahnya.


Ardan yang menyadari hal itu pasti akan terjadi dirinya hanya menatap diam kearah Fian kakak laki lakinya itu.


begitu juga dengan Arin yang melihat kejadian itu seketika dirinya terdiam seraya menatap paku kejadian tersebut.


Arin tidak menyangka kejadian itu akan berdampak menjadi masalah besar seperti ini nantinya.


"Kau membuat nama keluarga Azhendra menjadi tercemar akibat ulah mu!" ucap Nenek yang masih terlihat marah kepada Fian.


Arin seketika menatap kearah Sofia yang tampak gadis itu terlihat sangat takut akan terjadinya suatu hal.


Arin spontan melangkah kan kakinya yang kini ingin menghampiri keberadaan Sofia, namun dengan cepat Ardan menghentikan Arin dan kini meminta gadis itu untuk berdiam saja.


"apa yang kamu lakukan?" tanya Ardan seraya menatap Arin.


"Mas Sofia!" Ucap Arin yang kini tidak tau mau berbicara apa lagi.


"Tidak.. jangan gegabah, ini semua masalah mereka, jangan ikut campur lagi Arin, mas tidak mau... biar kak Fian sama Sofia yang bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan!" ucap Ardan kepada Arin.


"tapi Mas!" ucap Arin lagi.


"jika kamu membantah kata Mas, mau Mas hukum!" Sahut Ardan seraya mengancam Arin.


Arin hanya terdiam dan kini menatap jauh kejadian itu.


"Bertanggung jawab!, aku tidak menyangkah cucu pertama keluarga Azhendra akan melakukan hal seperti ini, Fian... kau anggap apa gadis itu? bahkan kau menghamilinya!" ujar Nenek kepada Fian.


"Nenek.. Fian tau ini semua kesalahan Fian, Nenek Fian hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang Fian lakukan!" ucap Fian lagi.


"hemm baiklah, bertanggung jawablah... tapi jika kau melakukan hal yang sama lagi, ingat konsekuensi keluarga Azhendra itu berpengaruh besar bagi keluarga ini!" ucap Nenek yang kini menatap kearah Fian dan Sofia.


"jika hal ini terjadi lagi... ingat... aku tidak akan segan mencabut semua kekuasaan yang ku berikan kepada dirimu sebagai salah satu pewaris dari keluarga Azhendra baik semua perusahaan mu yang selama ini, begitu juga anak mu tidak akan mendapatkan nama dari kaluarga ini!" jelas Nenek kepada Fian.


Fian menganggukan kepalanya seakan akan mengerti dari perkataan Neneknya.


"aku ingin kekamar sekarang!" Ujar Nenek yang kini beranjak menuju kamar atas seraya diikuti oleh Aziah.


di lain sisi Arin yang kini masih menatap diam luar sana, tampak terlihat wajah gadis itu sedikit pucat, Ardan yang mengetahui wajah Arin seperti itu seketika dirinya merangkul bahu Arin.


"kamu kenapa?" tanya Ardan yang kini menatap bingung Arin.


"Arin gak kenapa kenapa kok!" jawab Arin


"tapi wajah kamu pucat Arin?" ucap Ardan kepada Arin.

__ADS_1


"Arin baik baik aja kok mas!" Sahut Arin yang kini beranjak menuju luar.


Ardan yang melihat Arin yang kini berlalu pergi menemui Sofia seketika pria itu bergegas menyusul gadis itu.


Di pertengahan loby rumah, Arin yang kini sudah berada di sana, seraya menatap keberadaan Fian dan Sofia yang masih berdiam diri yang tak jauh dari pintu rumah itu.


Arin beranjak menghampiri keberadaan Sofia.


"Sofia maafkan aku, aku tau ini semua salah ku membawamu kemari!" ucap Arin.


"eng.. tidak kau tidak salah, lagian aku datang kemari, karena aku sudah memikirkan perkataan mu." ucap Sofia seraya tersenyum.


Ardan yang sedari tadi berdiam diri kini dirinya beranjak menghampiri ketiganya itu yang masih berdiam disana.


"Apa yang kamu katakan sama Sofia?" Tanya Ardan tiba tiba.


"Eng..!" gumam Arin.


"adik ipar, kau tidak perlu merasa bersalah, aku berterima kasih kepadamu, yang sudah membantuku menemukan Sofia, aku pikir Sofia akan pergi dari negara ini akibat ulahku!"ucap Fian kepada Arin.


Arin spontan kembali menatap kearah Fian yang kini berbicara kepadanya.


"tapi kakak Ipar kau kena masalah akibat ku!" ucap Arin.


"eng.. itu bukan karena mu, seharusnya aku lebih berhati hati, aku pantas mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan, kau tidak perlu khawatir Arin." sahut Fian kepada Arin.


Ardan yang tampak bingung dengan apa yang mereka bicarakan kini pria itu berbisik sesuatu ketelinga Arin.


"Gak ada apa apa kok Mas, cuma... bicara doang!" Jawab Arin dengan senyum canggung.


Ardan kini menatap heran kearah Arin yang masih tersenyum kearahnya, Sofia yang melihat kearah mereka berdua kini hanya memandang bingung seraya berpikir tentang gadis itu dan begitu juga Ardan.


Namun saat bersamaan tampak dari lantai atas terlihat Nenek yang kini menatap jauh kebawah seraya bersuara.


"Fian?" Panggil Nenek kepada Fian.


Spontan semua mata tertuju kepada wanita tua itu yang kini menatap kearah mereka semua.


"I iya Nenek?" sahut Fian.


"Kapan kalian akan menikah?" tanya Nenek kepada Fian.


"eng..!" gumam Fian bingung, yang kini mendengar perkataan dari Neneknya itu.


"Hemm.. Fian Nenek harapa kalian bisa menikah secepat mungkin, lusa Nenek harap kalian sudah bisa melakukan pernikahan! Jangan lama lama dia seorang gadis Fian!" timpal Nenek kepada Fian.


"i iya Nenek!" Jawab Fian.

__ADS_1


Nenek Shila kini menatap kearah Arin yang kini berdiri tak jauh dari sana.


"Arin?" panggil Nenek kepada Arin.


"Eng iya Nenek!" sahut Arin yang kini menatap kearah sang Nenek.


"Apa kau sibuk nanti malam Nak?" tanya Nenek kepada Arin.


"eng.. tidak Nenek!" jawab Arin.


"Ziah?" panggil Nenek lagi kepada menantunya itu.


"Iya Mah?" sahut Aziah kepada Mamah mertuanya.


"Arin tidak sibuk nanti malam, jadi kita bisa pergi malam ini, aku bosan dirumah seharian!" ucap Nenek kepada Aziah.


Aziah tersenyum dan kini menatap jauh kearah menantunya itu.


"ehh tunggu sebentar..!" Timpal Nenek lagi kepada mereka.


"Ahen?" panggil Nenek kepada Ardan.


"Iya Nenek!" sahut Ardan.


"eng.. kau harus ikut nanti malam ya, temani Nenek dan begitu juga Liam!" ucap Nenek.


Deg


Liam seketika menelan ludahnya dengan kasar dan kini berlalu menghampiri keberadaan kakak keduanya itu.


"Kenapa pirasatku tidak enak kak!" Ucap Liam yang kini berdiri di samping Ardan.


"mmh ya.. setidaknya kita ikuti saja apa yang Nenek katakan, kau tidak mau kan Nenek memarahi mu!" ujar Ardan kepada Liam.


"palingan kita hanya selalu siaga berada di samping para wanita!" Timpal Ardan yang mengetahui maksud Neneknya membawa mereka berdua.


"Fian?" panggil Aziah kepada Fian putra sulungnya itu.


"iya Mah!" sahut Fian.


"bawa Sofia kekamarnya sekarang!" pinta Aziah kepada Fian.


"iya Mah!" jawab Fian yang kini menatap senyum kearah Sofia.


Sofia yang kini menatap kearah pria itu seketika dirinya bersuara.


"Kak Fian apa itu sakit? Wajah kak Fian merah." Ucap Sofia yang kini menatap sendu wajah pria itu tanpa sadar air matanya kini terjatuh membasahi kedua pipihnya.

__ADS_1


"Aah tidak, ini tidak seberapa, kau tidak perlu merasa bersalah Sofia jangan menangis, bekas ini akan hilang dalam waktu beberapa hari." Ucap Fian menenangkan Sofia.


♥︎~~~~♥︎


__ADS_2