
"ayo..!" sahut Sofia yang kini menarik tangan Arin menuju tempat itu.
srek..
bruk..
"Selamat pagi Nona, apa ada yang ingin anda pesan?" tanya seorang pelayan kepada Arin dan Sofia.
Deg..
Sontak Arin dan Sofia terdiam bingung, bahkan mereka berdua tidak mengerti apa yang pelayan itu katakan kepada mereka.
"Arin? aku tidak mengerti apa yang dia katakan, aku tidak bisa berbahasa ini!" gumam Sofia kepada Arin.
"eng..!" gumam Arin bingung.
"Kami pesan, menu utama dari cafe ini saja!" sambung Ardan menggunakan bahasa Prancis, yang merupakan bahasa kedua populer di Swiss.
"eng..!" spontan Arin dan Sofia menatap keberadaan kedua pria itu dan yang lainnya ternyata sudah tiba di sana.
"baik Tuan, apa ada sesuatu yang Tuan inginkan?" tanya pelayan itu lagi.
"tidak.. itu saja!" sahut Ardan lagi.
Pelayan itu menganggukan kepalanya dan bergegas meninggalkan meja mereka dan berlalu menuju dapur untuk menyiapkan pesanan tersebut.
Arin yang masih menatap tak percaya, dengan apa yang dirinya dengar, kini gadis itu bersuara.
"Mas Ardan tadi itu bahasa apa?" tanya Arin kepada Ardan.
"Prancis!" jawab Ardan.
"Mas Ardan bisa!" Sahut Arin tak percaya.
"Arin..! itu pasti!, bagi seorang pembisnis seperti kami, karena klien kami bukan hanya orang Tiongkok saja, tapi juga orang dari berbagai negara!" sambung Fian.
"Eh.. jadi Mas Fian juga bisa?" tanya Sofia.
"mmh.. tapi tidak sepasih Ardan yang sudah memiliki pengalaman dalam dunia bisnis luar negeri!" sahut Fian.
Arin yang mendengar perkataan Fian tentang Ardan, tampak di wajah gadis itu terlihat penuh rasa kagum akan sosok pria yang sudah berstatus suaminya itu.
"tidak juga!" sahut Ardan yang kini menatap Fian.
"oh ya!" sahut Fian.
"Mamah?" Panggil Arka yang kini mulai bersuara.
"iya!" sahut Arin.
Arka seketika mengacungkan tangannya meminta Arin untuk menggendong dirinya.
"sini!" ujar Arin, yang kini juga mengacungkan tanganya.
Yeni menghampiri Arin dan memberikan anak kecil itu kepadanya.
Tak lama pesanan mereka telah datang, Ardan melihat secangkir kopi di hadapan Arin dengan cepat dirinya mengambil kopi tersebut dan menukarkannya dengan secangkir teh.
Fian, Sofia begitu juga Romi dan Yeni terdiam bingung.
__ADS_1
"Kamu gak suka kopi kan!" ujar Ardan.
"terasa iri loh!" gumam Sofia ceplas ceplos.
Deg..
Spontan Fian menatap kearah Sofia yang berbicara seperti.
"ffth!" Arin seketika tertawa kecil.
"Kode cewek buat cowok tu!" sahut Adan
"eng.. !" gumam Sofia yang baru menyadari perkataannya.
Fian yang mendengar ejekan Ardan, seketika dirinya menatap diam Sofia.
"eng.. Nggak kok, Sofia asal ngomong aja barusan heheh!" sahut Sofia dengan senyum kikuk.
Mereka berenam kini menikmati sarapan mereka di sebuah cafe Guormet dan sesekali mengobrol satu sama lain.
...🌹🌹🌹...
Selang beberapa lama, mereka semua kini kembali melanjutkan jalan jalan mereka, kali ini mereka berencana menuju suatu tempat yaitu Laucerne Lake.
Laucerne Lake (Danau Luzern) merupakan danau keempat terbesar di Swiss, yang terdapat di Swiss bagian tengah.
Arin begitu juga yang lainnya kini mereka telah tiba di sana, Arin yang masih menggendong Arka dan kini berlalu menuju kebuah tepi danau, sembari melihat kearah kapal pesiar.
Saat mereka tengah asik menikmati pemandangan dari tepi Danau, tiba tiba mereka di kejutkan dengan Ardan yang tiba tiba merasa mual.
"Hoek..!"
"Mas Ardan?" panggil Arin yang kini menatap kearah Ardan.
Namun sama halnya Fian, Sofia dan begitu juga Romi dan Yeni masih menatap bingung Ardan.
"Apa ini efeck dari minum semalam Ardan?" tanya Fian denga sedikit tertawa.
"Entahlah.. tiba tiba perutku merasa mual saja!" sahut Ardan.
"Mas Ardan gak enak badan?, Mas Ardan sakit?" tanya Arin khawatir.
"tidak.. Mas baik baik saja, cuma mual aja!" jawab Ardan.
"Seberapa banyak kalian menghabiskan anggur semalaman?" tanya Sofia yang kini ikut bersuara.
"mmh.. kurasa Ardan menghabiskan satu setengah bot...!" belum sempat Fian melanjutkan perkataanya.
seketika Ardan menatap tajam Fian untuk tidak memberitahukan kalau dirinya kalah dalam permainan dan menghabiskan satu setengah botol anggur.
"apanya?" tanya Arin kepada Fian.
"hehe.. tidak.. aku tidak tau!" sahut Fian.
"kalian tidak mencoba berbohong kepada kami kan?" tanya Arin dengan mata penuh selidik.
"tidak!" jawab Ardan dan Fian bersamaan.
"baiklah..!" sahut Arin lagi dan kini berlalu pergi.
__ADS_1
pukul 12.33 Mereka kini kembali menikmati jalan jalan mereka dan kali ini mereka berada di salah satu tempat yang cukup terkenal di Swiss yaitu 'Bahnhofstrasse'
Yang merupakan pusat perbelanjaan yang dimana di sana memiliki store yang menjual barang mahal dan istimewah di dunia.
tidak salah jika banyak para turis kelas atas yang suka menghabiskan uang mereka hanya untuk membeli barang apa yang mereka inginkan di BAHNHOFSTRASSE.
Mereka yang kini menikmati suasana ramainya BAHNHOFSTRASSE, dan tak lupa membeli sesuatu yang mereka inginkan.
...🌹🌹🌹...
Di lain sisi Fian yang kini berjalan di samping Ardan yang dimana terlihat Ardan yang masih menahan sesuatu.
"apa kau baik baik saja?" tanya Fian kepada Ardan.
"aku butuh toilet!" jawab Ardan.
"ahh.. kau ingin...!" belum sempat Fian melanjutkan perkataanya seketika Ardan kembali bersuara.
"aku ingin muntah!" sahut Ardan lagi.
"Ah..baiklah..!" sahut Fian
srek..
Fian menarik Ardan dan berlalu membawa saudaranya itu pergi menuju ke sebuah toilet umum yang tak jauh dari sana.
sesampainya mereka berdua, Ardan bergegas masuk kedalam toilet dan memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutnya.
"tidak biasanya kau mabuk seperti ini Ardan!" ujar Fian dari luar toilet.
"huh.. aku juga tidak tau.. kenapa aku bisa semabuk ini!" ucap Ardan dan kini beranjak keluar dari dalam toilet itu.
"Apa kau sudah mendingan?" tanya Fian lagi.
"tidak biasanya kau seperti ini meski kau menghabiskan satu setengah botol anggur dalam semalam!" ujar Fian lagi.
"Ahh sudahlah.. aku lelah? aku ingin cepat cepat pulang!" sahut Ardan yang kini berlalu terlebih dahulu meninggalkan Fian.
"eh.. bukannya kita tidak memberi tau para gadis kalau kita pergi kesini!, bagaimana jika mereka mencari kita?" timpal Fian yang kini ingat akan Arin dan yang lainnya.
"kau benar!" sahut Ardan yang tiba tiba menghentikan langkahnya.
"telpon saja mereka!" pinta Ardan.
Fian menganggukan kepalanya dan kini mengambil ponselnya dan bergegas menelpon nomor Sofia.
"Halo Mas Fian sama Ardan dimana?" tanya Sofia yang kini sudah terhubung dalam panggilan.
"eng.. kami di dekat taman...!" jawab Fian yang kini memberi tahukan keberadaan mereka berdua di sana.
"baiklah..kami akan kesana!" sahut Sofia.
Fian kini mengakhiri panggilan tersebut dan menaruh kembali ponselnya.
"bagaimana?" tanya Ardan.
"mereka akan kesini!" sahut Fian.
...☘️☘️☘️...
__ADS_1
...𝐭𝐨 𝐛𝐞 𝐜𝐨𝐧𝐭𝐢𝐧𝐮𝐞...