Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Kabur Lagi Kabur Lagi


__ADS_3

sesampainya di dalam kamar, Arin segera menutup pintu kamarnya dan beranjak menuju kearah jendela, sembari menatap kearah luat jendela kamar melihat apakah ada penjaga diluar sana.


" hh lagi lagi aku harus kabur seperti ini " gunam Arin, yang kini mengambil tas miliknya dan segera keluar dari kamar itu melalui jendela.


Brak..


Arin menloncat dan mendarat dengan sempurnah, kini dirinya melangkah meninggalkan halaman vila itu sembari mengendap ngendap untuk memastikan dirinya tidak ketahuan.


Saat dirinya sudah memastikan situasi yang tepat untuk kabur Arin segera berlari menuju gerbang, dan seketika.


srek..


Brukk...


Arin terdiam kaget merasakan sesuatu yang kini tengah menahan dirinya, Arin yang mendapati dirinya kini tengah di tahan seseorang, seketika tak sanggup untuk membalikan tubuhnya melainkan hanya diam mematung di sana.


" mau coba kabur lagi? " Ucap orang itu yang kini mencoba memegang kerah baju gadis itu seperti anak kucing.


Arin yang mengenali sura tersebut seketika membalikan tubuhnya menghadap pria itu yang kini tengah berbicara kepadanya.


Arin menatap heran keberadaan Ardan yang tiba tiba berada disana.


" eng..." Arin terdiam tidak berani berbicara saat dirinya sudah tertangkap basah oleh pria itu.


" kenapa? Apa kau mau kabur lagi hh? " ujar Ardan yang masih menatap tajam kearah Arin, Arin seketika memohon kepada Ardan


" tuan aku mohon, lepaskan Aku, aku janji akan mengganti semua uang anda tuan, tapi aku mohon lepaskan aku saat ini! " ucap Arin yang kini bersimpuh di tanah, Ardan hanya menatap paku gadis itu.


" ck.. bagaimana caramu menggati semua uang ku hh, bahkan dengan tubuhmu pun itu belum cukup untuk menggatinya " ucap Ardan yang kini memegang dagu Arin.


" bagaimanapun caranya, aku akan menggantinya tuan, setelah aku berhasil, tuan harus lepaskan aku " sahut Arin menahan sakit di dagunya yang kini di cengkam kuat oleh Ardan.


" ck.. bagaimana kalau hari ini, berikan uang itu kepadaku, bagaimana pun caranya " ucap Ardan sembari berlalu pergi meninggalkan Arin yang masih terduduk diam disana.


Arin segera beranjak pergi dengan terburu buru dan berlari keluar dari halaman Villa itu dan menuju jalan tol untuk mencari taxi.


tak lama tampak dari kejahuan sebuah taxi kini berhenti di hadapan gadis itu dan membawa Arin melaju menelusuri kota tersebut meninggalkan vila itu,


tak lama taxi yang Arin tumpangi kini berhenti di sebuah persimpangan dan menurunkan Arin disana, Arin segera beranjak melangkah menuju kearah ajalan itu.


tak lama terlihat rumah kecil sederhana Arin segera menuju kearah rumah itu, rumah yang sangat dia rindukan Arin terduduk lemas dan seketika pengelihatannya buram.


BRUK..


Arin terjatuh pingsan di tanah.


Cklek...


srett....

__ADS_1


seketika suara pintu terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari dalam rumah itu dengan mata menatap sosok yang tergeletak di atas tanah.


Deg...


Sontak wanita itu terkejut melihat apa yang ada di hadapannya, dan segera menghampiri sosok tersebut.


"Arin..?? Ya tuhan " ucap wanita itu yang ternayata Bibi San yang kini melihat Arin yang jatuh pingsan di sana.


Bibi San segera membopong tubuh itu dan membawanya masuk kedalam rumah, Selang beberapa lama Arin kini telah sadar, dan di tatapnya seluruh isi ruangan itu.


" Arin? " panggil Bibi San yang kini melihat Arin sudah siuman, Arin mengalihkan pandangannya menatap kearah orang yang begitu dia rindukan.


" bibi? hiks.. hiks.." ucap Arin dalam isak tangis melihat Bibi San yang begitu dirinya rindukan.


bibi San seketika memeluk tubuh itu dan mencoba menenangkannya.


" sudahlah.. kau sekarang baik baik saja disini " ucap Bibi yang masih keadaan memeluk Arin.


" tidak.. bibi, tuan itu akan mencari Arin lagi, sebelum Arin berhasil mengembalikan Uangnya " ucap Arin kepada Bibi San, bibi San seketika teringat, atas ucapan Roy waktu itu.


" bibi, apa yang harus Arin lakukan, hiks hiks.. " ucap Arin yang masih menangis dalam pelukan.


pukul 20.00


Arin terbangun dari tidurnya, dilihat nya hari sudah larut malam.


tap.. tap..


namun secara bersamaan hujan turun malam itu bersama petir yang menggelagar.


Arin tidak mengiharukan dirinya yang kini sudah basah kuyup akibat derasnya hujan, namun saat dirinya hendak menyebarang jalan tiba tiba sebuah mobil melaju kencang kearahnya.


srittr.....


seketika mobil itu berhenti secara tiba tiba, Arin yang kini melihat kearah mobil itu seketika dirinya merasa pusing dan terjatuh pingsan di sana.


" eh.. " gumam seseorang dari dalam mobil itu, dan kini beranjak keluar dari dalam mobilnya dan bergegas menghampiri Arin yang jatuh pingsan.


" Nona... ? Hei? " Ucap seorang pria yang kini mencoba membangunkan Arin yang masih tergeletak di jalan.


Pria itu seketika menggendong tubuh Arin dan membawanya masuk kemobil miliknya, Pria itu segera melajukan mobilnya, dengan membawa Arin bersamanya.


tak lama di sebuah kamar, yang begitu tampak asing, Arin yang baru tersadar dari pingsan kini menatap seluruh ruangan tersebut yang tampak begitu asing di pikirannya, Arin menatap kesana kemari untuk memastikan apakah ada seseorang disana.


" kau sudah bangun Nona? " tanya seseorang kepada Arin yang baru sadar dari pingsannya.


Arin yang menyadari seseorang tengah berbicara kepadanya da kini beralih melihat kearah orang tersebut.


" siapa kau tuan? " tanya Arin kepada orang itu. Pria itu seketika beranjak menghampiri Arin dan kini tersenyum kearah gadis itu.

__ADS_1


terlihat seorang pria memiliki wajah blasteran dengan tinggi kisaran 182, dengan senyum manis terukir di pipihnya.


"siapa nama mu Nona?" Tanya pria itu seketika membuyarkan lamunan Arin yang masih menatapnya.


" mm.. namaku Arin tuan!! " sahut Arin yang kini menundukkan kepalanya.


" baiklah, kau istirahatlah terlebih dahulu, jika kau butuh sesuatu kau tinggal panggil saja anak buahku itu " ujar pria itu sembari menunjuk kearah anak buahnya yang bernama Zian.


Arin melihat kearah anak buah pria itu dan tampak Zian tersenyum lembut kearah Arin yang masih berada di atas tempat tidur.


" terimakasih tuan " ucap Arin kepada pria itu.


pria tersebut seketika menganggukan kepala, dan kini bergegas pergi meninggalkan Arin sendirian disana.


" nona? Apa ada sesuatu yang kau inginkan? " Tanya Zian kepada Arin yang masih duduk di tempat tidurnya.


" eng... aku haus " ucap Arin kepada Zian, Zian segera mengambilkan air putih untuk Arin.


Tak lama Zian kembali membawakan segelas air putih untuk Arin dan segera memberikannya.


" terimakasih tuan " ucap Arin kepada Zian.


" tidak perlu memaggilku seperti itu Nona, panggil saja aku Zian " ucap Zian dengan senyuman di wajahnya.


" hemm baiklah Zian " ucap Arin tersenyum lembut.


" Hemm kenapa aku bisa berada disini? " Tanya Arin yang kini menatap jauh kearah depan.


Zian kini mengalihkan pandangannya kearah Arin dan berkata kepada gadis itu tentang apa yang terjadi.


" Nona, tadi kamu pinsang saat dijalan, karena itu tuan Liam membawamu kemari" ucap Zian menjelaskan.


Arin seketika menganggukan kepalanya seakan akan mengerti.


" jadi orang tadi itu Liam? " gumam Arin mengulang perkataan Zian.


" hmm iya Nona " jawab Zian lagi.


" Zian.. kau tidak perlu memanggil ku seperti itu, panggil saja aku dengan namaku saja, Arin! " Ucap Arin yang kini melihat kearah Zian,


" baiklah " sahut Zian lagi.


***


Disisi lain terlihat Ardan yang kini tengah duduk diruang pribadinya sembari memainkan sebuah pisau kecil di tangannya.


Srek.. Brukk...


Seketika pisau itu di lemparkan kesebuah papan yang berada cukup jauh di hadapannya.

__ADS_1


saat dirinya tengah larut dalam keheningan tiba tiba Romi datang memberitahukan sesuatu kepada Ardan, pria itu.


...***...


__ADS_2