Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Makan Malam


__ADS_3

siang telah berganti malam, kini Arin yang sudah selesai membersihkan tubuhnya.


beranjak keluar dari kamarnya dan menuju lantai bawah.


tak... tak...


suara langkah kaki yang menuruni anak tangga, Arin segera menuju dapur, namun saat dirinya sudah berada di ambang pintu.


terlihat di sana keluarga Azhendra tengah berkumpul menikmati makan malam, Arin mengurungkan niatnya dan beranjak ingin kembali.


namun sesuatu menghentikannya dengan cepat, Arin mendongak kan kepalanya.


dan terlihat tangan seseorang yang kini menyentuh pergelangan tangannya.


Arin beralih menatap orang itu dan terlihat Ardan yang berada di belakangnya.


"M Mas Ardan?" Ucap Arin pelan seraya menatap Ardan yang kini di hadapannya.


"kamu mau kemana?" Tanya Ardan yang masih memegang tangan Arin.


"eng..." Arin hanya diam dan kini beralih menatap jauh di kebelakang Ardan.


"jangan kembali kekamar, kita makan malam bersama" ujar Ardan yang kini menarik lembut tangan Arin.


"tapi..mas!" belum sempat Arin melanjutkan perkataanya, Ardan segera membawa Arin menuju ruang makan.


namun saat mereka telah berada disana, seketika semua mata menatap keberadaan Arin


dengan tatapan biasa biasa saja tanpa ada sedikit suara.


"Bibi... makan malam hari ini saya mau soto kari!" Ucap Aziah kepada Asistennya itu.


"baik Nyonya." Jawab Asisten ruma itu kepada majikannya.


"Ardan kamu mau makan apa nak?" Tanya Aziah kepada Ardan yang kini duduk di hadapannya.


"Arin saya mau kamu yang masak untuk saya." Ucap Ardan tanpa memperdulikan perkataan mamahnya.


Azia seketika menatap Arin seraya memicingkan matanya.


"Ardan... bukannya kamu suka soto" tukas Aziah lagi.


"tidak.. saya tidak mau makan soto, saya mau makan masakan Arin saja" ujar Ardan lagi.


Arin yang melihat perdebatan antara ibu dan anak itu hanya diam.


"mas Ardan, lebih baik mas makan masak..." belum sempat Arin melanjutkan perkataanya lagi.


"tidak.. jangan membantah saya sudah bilang saya mau kamu yang masak!" Tukas Ardan keras kepala.


Arin hanya membuang nafasnya berat dan kini beranjak untuk memasak sesuatu


seketika semua mata tertuju kepada Arin yang berlalu pergi menuju meja kompor seraya mengikat rambutnya tinggi.

__ADS_1


Liam yang kini berada disana seraya menatap Arin dan kini beralih menatap kearah Ardan.


Liam menatap Ardan yang kini memandang Arin dengan tatapan penuh kekaguman


"apa kakak menyukai gadis itu?" Batin Liam yang masih melihat kearah Ardan.


Trak..


Arin meletakan masakannya di atas meja dan di ikuti Asisten yang lainnya.


Aziah menatap kagum masakan itu, dilihatnya seperti menggiurkan dipikirannya.


tanpa basa basi Ardan yang sudah terlihat lapar, segera menyantap masakan itu


Tn hendrik dan begitu juga Istrinya kini saling pandang satu sama lain, mengingat kalau putranya yang satu ini tidak begitu menyukai masakan seperti itu


"kenapa kalian diam saja?" Ucap Ardan melihat kearah kedua orangtuanya.


"Arin, lebih baik kamu makan sekarang." Timpal Ardan kepada Arin yang kini duduk di sampingnya.


Arin menganggukan kepalanya dan kini mengambil makanan tersebut.


Aziah dan begitu juga Tn Hendrik segera mengambil makanan yang Arin masak seraya mencicipinya


Aziah kini kembali menatap putranya itu yang terlihat sedikit gemukan di pikirnya.


"Ardan kamu makan selama tinggal sama gadis itu?" Tanya Aziah seketika membuat semuanya menatap kearah Ardan.


"kenapa mah?" Tanya Ardan bingung.


"Ardan makan kok mah, Mamah kenapa tanya Ardan kaya gitu?" ucap Ardan seraya bertanya balik.


Aziah tidak menjawab perkataan Ardan melainkan memyantap makanan tersebut.


Ardan dan Arin begitu juga Fian dan Liam, kini menatap kearah kedua orang tuannya itu seraya menikmati makan malam


"Lapar apa Doyan sih Mah.. Pah?" tukas Ardan seketika kepada kedua orangtuannya.


"enak kan masakan istri Ardan" timpal Ardan lagi yang kini mengambil minuman Aziah dan suaminya hanya terdiam dan kini beralih menatap kearah Arin.


"Arin.. saya kekamar duluan, kalau kamu sudah selesai, segera kekamar." Ujar Ardan kepada Arin yang masih duduk di bangkunya.


Arin menganggukan kepalanya dan kini beralih menuju ruang dapur untuk mencuci sisa makanan mereka.


Fian, Liam dan juga Tn Hendrik kini mereka berlalu pergi menuju keruang mereka masing masing


namun tidak dengan Aziah kini menatap jauh arah dapur, Aziah beranjak menghampiri Arin yang lagi sibuk mencuci.


"Hei..kamu?" Panggil Aziah kepada Arin yang masih berada di sana, Arin seketika mengalihkan pandangannya menatap kearah ibu mertunya.


"i iya Mah?" Ucap Arin sedikit gugup, Aziah menatap jauh tatapan itu.


"apa yang kamu lakukan pada putra saya?" Tanya Aziah kepada Arin.

__ADS_1


Arin yang tidak mengerti arti dari perkataan ibu mertuannya hanya menatap diam saja.


"eng..maksud nya Mah?" tanya Arin balik yang tak mengerti dari ucapan itu


"eng.." belum sempat Aziah bersuara, tiba tiba seseorang memanggil.


"Arin? Kamu kenapa disana?" Panggil Ardan yang kini berada disana, menatap kearah kedua gadis itu.


"ee anu mas...Arin lagi cuci piring" sahut Arin sembari menatap sekilas Ibu mertuanya Ardan beranjak mendekati Arin yang masih berada disana.


"Mamah, kenapa Mamah disini?" Tanya Ardan kepada Mamahnya.


"tidak.. tidak apa apa!" Ucap Aziah kini berlalu pergi meninggalkan Ardan dan Arin disana.


"kamu udah selesai?" Tanya Ardan yang kini menatap gadis itu.


"hemm udah kok mas." Sahut Arin seraya menatap Ardan.


Ardan menganggukan kepalanya dan kini mereka berdua segera pergi dari sana.


****


Namun di sisi lain, di sebuah barr terlihat seorang pria yang begitu sangat marah.


ntah apa yang terjadi sampai sampai pria itu melempari sebotol minuman kearah anak buahnya


"breng***, apa yang harus aku lakukan? Ck jika semakin lambat, maka rencana ku akan sia sia!" ucap pria itu yang kini menatap tajam kearah luar Barr


"bagaimana bisa... aku ingin membuatnya terus menderita.." timpal peria itu.


seraya berpikir, saat dirinya memikirkan sesuatu seketika pria itu tersenyum penuh arti memikir kan apa yang kini di pikirannya,


"hh ada satu cara yang kini aku pikirkan, jika saat ini aku tidak bisa melukainya secara lansung, mungkin aku bisa melukai seseorang yang begitu berarti baginya!" gumam peria itu seraya merencanakan sesuatu dipikirannya,


"kau... kemarilah?" Panggil pria itu kepada anak buahnya.


anak buah pria itu seketika mendekat kearah pria itu dan seraya mendengarkan bisikan perintah dari tuannya.


Saat anak buah pria itu sudah mendapatkan perintah segera dirinya beranjak pergi melakukan sesuatu.


***


di sebuah kios terlihat seorang pria yang tengah duduk seraya memikirkan sesuatu.


tiba tiba...


saat dirinya tengah larut dalam keheningan, seketika seorang datang dan berbicara kepadanya


"ck.. sungguh menyedihkan sekali dirimu" seseorang kepada pria itu, pria itu seketika mengalihkan pandangan nya dan kini menatap keberadaan orang yang tengah berbicara kepadanya


"siapa kau?" Tanya pria itu kepada orang yang tengah berdiri di kegegelapan.


orang tersebut berjalan menghampiri pria itu dan kini terlihat wajah dari orang tersebut.

__ADS_1


"siapa kau tuan?" Tanya pria itu sedikit bingung dengan kehadiran orang itu secara tiba tiba.



__ADS_2