
"hemm katakan kepadaku apa yang ingin kau tanyakan kepadaku?" tanya Sofia kepada Arin.
"begini, aku tidak tau mau berbicara bagaimana, tapi... kenapa kau lakukan ini? kenapa kau tidak mencoba untuk meminta tanggung jawab kepada kakak Fian?" tanya Arin kepada Sofia.
Sofia seketika menatap Arin dengan sedikit tak suka.
"Nona, jadi kedatangan mu hanya untuk membahas hal ini? ck.. aku tidak akan mau!" ucap Sofia sedikit kesal.
"eng.. Sofia, apa yang kau katakan..?" tanya Arin bingung.
"hem.. aku tidak akan meminta pria itu untuk bertanggung jawab kepadaku!" sahut Sofia lagi.
"lagian pria itu juga tidak akan mau menerima anak ini!" Timpal Sofia lagi.
"ahh.. bukannya aku ingin ikut campur, kau tau dari mana soal kak Fian tidak mau menerima anak itu?" ucap Arin.
"bahkan apa kau tau? saat malam itu dia bahkan mencarimu dan dia pulang dalam kedaan kondisi mabuk berat saat itu! Dia bahkan mengatakan dirinya bahwa dia pria pecun****!" timpal Arin.
Sofia seketika tertegun mendengar perkataan Arin kepadanya, memang waktu saat kejadian itu Sofia tidak lagi menampakan dirinya dan kembali bekerja di I.C Group.
Saat Sofia mengetahui dirinya sudah hamil 4 bulan, Sofia malah pergi meninggalkan kota A dan berlalih menuju kota D.
Memang Sofia tidak mengetahui kejadian Fian yang selama ini mencarinya.
"Aku tidak tau, aku bahkan tidak peduli jika pria itu mencariku!" ucap Sofia.
"apa kau mau membesarkan anak itu sendirian? apa kau tidak berpikir suatu saat jika anak itu mencari ayah nya?" sahut Arin.
"hh.. ck.. kau tidak tau betapa sulitnya hidupku!" ucap Sofia lagi.
"Ya aku memang tidak tau berapa sulitnya hidupmu, aku bahkan tidak tau betapa menderitanya dirimu!, tapi aku pernah merasakan hal lebih dari mu!" ucap Arin lagi.
Sofia spontan menatap kearah Arin yang kini menatap sendu wajah nya seraya mengingat kejadian dirinya selalu menjadi pelampiasan kemarahan Ardan.
"bukan kah Tn Ardan mencintai mu?" ucap Sofia yang masih menatap Arin.
"hah.." gumam Arin tersenyum kecut.
"aku menikah karena terpaksa atas apa yang telah di perbuat oleh kekasihku selama ini, aku menerima semuanya meski aku ingin melaporkan semua itu!" ucap Arin yang kini menatap jauh kedepan.
"kenapa kau tidak melaporkan semua kejadian itu?" tanya Sofia.
__ADS_1
"hh.. aku bisa saja melaporkan, tapi apa mereka akan percaya dengan perkataan ku, bahkan bukti saja aku tak punya, bahkan saat itu aku ingin mati saja dan mengakhiri hidupku tapi aku pikir itu hal bodoh!" ujar Arin menjelaskan.
"aku pikir saat aku hamil pria itu tidak akan mau menerima anak ini, tapi aku salah.. malah semuanya berubah saat itu!" timpal Arin lagi menceritakan.
"bahkan sekarang aku lebih bisa menerima kenyataan itu!" ucap Arin lagi.
"eng.. apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?" tanya Sofia kepada Arin.
Arin tersenyum kecut dan kini kembali larut dalam masa lalunya.
"rumit tuk ku jelaskan!" ucap Arin.
"pikirkan baik baik tindakan mu ini, jika kau sudah memikirkannya kau temui aku nanti Soreh." timpal Arin kepada Sofia.
"eng.. !" gumam Sofia seraya berpikir sejenak.
"Baiklah.. aku pergi sekarang, maaf telah mengganggu hari mu!" ucap Arin yang kini beranjak dari tempat duduknya seraya berjalan menuju luar toko.
Yuan menatap sekilas keberadaan Sofia dan kini ikut keluar dari toko itu dan di susul Romi.
Sofia menatap diam kepergian mereka bertiga dari hadapannya.
Di luar toko Arin bergegas melangkah kan kakinya menuju kembali kemobilnya seraya melihat kesebuah jam tangan yang kini menunjukan pukul 13.00.
Arin yang kini sudah tiba di sana, dan seraya menatap kearah Romi dan Yuan yang kini juga tiba disana.
"Nyonya, kenapa Nyonya tidak meminta Sofia untuk ikut saja?" tanya Romi kepada Arin.
"tidak.. jika aku memaksa dia untuk ikut, percuma.. itu akan berakhir sia sia!" ucap Arin.
Romi dan Yuan menganggukan kepalanya seakan akan mengerti perkataan Arin barusan.
"aah sudahlah.. kita pulang sekarang, jangan sampai mas Ardan pulang lebih dahulu sebelum kita, aku tidak mau.. Pria itu menghukum ku dan membuatku tidak bisa berjalan nantinya!" ucap Arin ceplas ceplos.
Romi dan Yuan yang mendengar perkataan majikannya itu seketika tertawa diam, Arin yang menyadari perkataanya barusan seketika wajah gadis itu menapakan sedikit merah akibat perkataannya tadi.
Arin yang melihat Yuan dan Romi yang masih tertawa pelan seketika dirinya menatap tajam kedua bawahannya itu.
"ehem... mau sampai kapan kalian berdua berdiam disana?" ucap Arin yang kini menatap tajam kearah Yuan dan Romi.
"eng.. aah iya Nyonya... iya!" ucap mereka berdua yang kini berhamburan menuju masuk kedalam mobil mereka.
__ADS_1
Romi bergegas melajukan mobilnya dan diikuti Yuan yang kini melajukan mobil miliknya meninggalkan kota D dan kembali menuju kota A.
***
Selang beberapa jam di perjalanan Arin yang kini tiba di kota A, seketika gadis itu meminta Romi untuk berhenti di salah satu restoran Baberque.
"Rom, antar saya ke restoran Baberque ya!" Pinta Arin kepada Romi.
"baik Nyonya!" jawab Romi dan kini melajukan mobilnya menuju kesebuah restoran Baberque.
Di depan Restoran Arin yang kini sudah tiba di sana beranjak keluar dari mobil itu dan seraya melangkahkan kakinya menuju kedalam restoran itu.
Namun saat dirinya hendak masuk kerestoran tersebut seketika seseorang memanggil dirinya.
"hai Nona?" panggil seseorang kepada Arin.
Arin spontan menatap keberadaan seseorang yang kini memanggil dirinya.
"eng..!" gumam Arin yang kini menatap bingung orang itu.
"Hai Nona? kita bertemu lagi ya?" ucap seorang pria yang kini tersenyum kearah Arin dan seraya menghampiri keberadaan gadis itu.
"Siapa kau?" tanya Arin bingung.
"eng.. kau tidak mengenaliku Nona?" ucap pria itu kepada Arin.
"ah... " gumam Arin yang tidak bisa berbicara sepata kata.
"huh.. aku harap kau mengenaliku, tapi ternyata sebaliknya, bahkan kita sudah 3 kali bertemu!" ucap pria itu kepada Arin.
Arin terdiam bingung seraya memikirkan perkataan pria itu kepadanya.
"tuan mungkin kau salah orang, aku bahkan tidak mengenalimu sebelumnya!" ucap Arin lagi.
"Mmh.. aah aku pernah harap kau mengingat malam itu Nona, tapi sepertinya kau memang tidak mengingat ku?, kemarin kita juga bertemu disini, kau bersama teman mu!" ucap pria itu lagi.
Deg...
Arin seketika teringat akan sosok pria yang kemarin duduk di hadapannya.
"ah.. kau pria yang tiba tiba duduk di meja ku waktu itu kan?, tapi apa kita pernah ketemu sebelum nya Tuan?" tanya Arin bingung.
__ADS_1