
tak lama dari luar terlihat rombongan seseorang yang kini masuk kedalam ruangan itu.
seorang pria paruh baya dengan wajah blasteran dengan senyum yang terukir diwajahnya kini berjalan menuju dimana keluarga Azhendra berada.
dia adalah Tn Falen Mahesa, terlihat dari belakang terdapat banyak pria muda yang berumur kisaran 20 an.
dan terdapat beberapa orang wanita disana, Arin yang melihat kearah mereka kini wajahnya kembali cemas.
namun Arin berusaha menahan kecemasannya itu.
"apa kabar Tn Hendrik?" Sapa Tn Falen yang kini sudah berada disana.
"kau tidak perlu seformal itu kepada ku Falen!" Ucap Tn Hendrik seraya memeluk adik kandungnya itu.
"duduklah, kalian baru saja tiba" pinta Tn Hendrik lagi kepada mereka semua disana.
"ohh apa kabar kakak ipar, senang bertemu denganmu malam ini?" Ucap seorang wanita paruh baya yang kini memeluk tubuh Aziah.
"senang juga bertemu dengan mu Dina" ucap Aziah yang membalas pelukan itu.
"oh.. Kak Fian?" Panggil seseorang kepada Fian yang kini duduk di samping Ardan.
"hemm, apa kabarmu Wil?" gumam Fian seraya bertanya kepada orang itu yang ternyata Willian.
"kabar ku baik!" Jawabnya, kini Willi melihat kearah dimana Arin dan Ardan berada begitu juga dengan Liam.
Willi seketika menatap kagum gadis yang kini duduk di hadapannya.
Willi segera duduk di samping dimana Arin berada.
"Hai.. Nona? Siapa namamu? Aku baru pertama kali melihat mu?" tanya Willi yang kini menatap lekat wajah Arin yang berada di sampingnya seraya tersenyum.
Seketika semua mata tertuju kepada Arin menatap dirinya yang kini baru pertama kalinya mereka melihat seorang gadis dari keluarga Azhendra.
Arin yang mendapati tatapan itu hanya tertegun tak bisa birbicara sepatah kata.
"eng.." gumam Arin.
"Kak Fian, apa dia adik bungsu kalian? Atau istrimu kak?" Tanya Willi yang kini menatap kearah Fian.
Ardan yang mendengar perkataan Willi hanya menatapnya dengan tatapan dingin.
"eng..bukan, dia istrinya Ardan" sahut Fian.
yang menyadari tatapan Ardan seketika berubah menjadi dingin, namun secara bersamaan kini keluarga Mahesa, melihat kearah Ardan dengan perasaan tak percaya.
"sungguh?" Ucap Melvin tak percaya.
"adik sepupuh, kau sudah menikah?" Tanya Melvin kepada Ardan dengan tatapan tak percaya.
"hemm" jawab Ardan singkat seraya menyandarkan tubuhnya.
__ADS_1
Willian yang masih duduk di samping Arin kini wajahnya beralih menatap kearah Arin kembali.
"ck.. kenapa kau begitu menyukai kulkas itu?" ucapnya seketika kepada Arin.
"Eng.. kulkas?" Batin Arin tak mengerti maksud Willian.
saat mereka tengah mengobrol kini beberapa pelayan resort membawakan beberapa anggur kemeja mereka.
kini makan malam itu segera berlangsung dengan adanya obrolan, Willian yang dari tadi menyantap makanannya dan sesekali mencuri pandang kearah gadis yang kini duduk di sampingnya.
Ardan yang melihat Willian seperti itu seketika bersuara.
"apa yang kau lihat?" Tanya Ardan kepada Willi, Willi segera mengalihkan pandangannya menatap kearah Arin.
"oh.. aku melihat gadis cantik yang kini duduk di samping ku" jawab Willi yang ternyata sengaja membuat Ardan cemburu.
"berhenti memandangnya" sahut Ardan tak suka melihat cara Willi memandang Arin.
Willian hanya tersenyum dan kini menuangkan wine ke dalam gelas Arin, dan memintanya untuk meminumnya.
Arin tertegun menatap gelas itu, seraya berpikir
"kau tidak boleh meminumnya" sahut Ardan seketika dengan wajah yang masih terlihat dingin.
namun di bangku yang lain terlihat seorang gadis muda yang berumur kisaran 26 tahun itu.
menatap sedikit tak suka kepada Arin, dia adalah adik bungsu dari Melvin dan Willian, yang bernama Melinda.
"eng..Ardan? Kau mau minum anggur juga?" Tanya Melinda sedikit manja kepada Ardan.
"eng..bukan kah kakak menyukai...." belum sempat Melinda meneruskan kalimatnya, namun seketika Ardan menyela.
"tidak.. aku tidak suka" jawabnya lagi tanpa memalingkan wajahnya kearah Melinda.
Namum di sisi lain Willian yang masih berada disana kini meminta Arin untuk meminum wine yang telah di tuangkannya, Ardan yang melihat Willi sedikit memaksa, seketika.
***
Brak...
suara meja yang dipukul begitu keras, sontak semua mata kini melihat kearah Ardan, dengan wajah bingung.
"kau kenapa Ardan?" Tanya Willi, Ardan menatap tajam Willian, tanpa memperdulikan pertanyanya.
Liam dan Fian kini hanya saling pandang satu sama lain, mengetahui kalau Ardan tak menyukai tindakan Willian.
"kakak... sabar.." belum sempat Liam melanjutkan perkataannya seketika Ardan bersuara.
"sudah kukatakan jangan memintanya untuk minum" ucap Ardan yang kini mengambil gelas tersebut dari Willian.
"ai... tidak biasanya kau seperti ini Ardan" sahut Willian.
__ADS_1
"Willi? apa apaan kau ini?" Tegur Tn Falen kepada putranya itu.
"hemm baiklah" jawab Willi seraya meminum winenya.
Kini suasan kembali canggung diantara dua keluarga itu, Ardan kini kembali duduk.
dalam keadaan diam tanpa bersuara sedikitpun, Arin yang melihat Ardan seperti itu seraya menyentuh tangannya.
"mas?" Panggil Arin kepada Ardan, Ardan kini beralih menatap Arin dengan tangannya masih berada di genggaman gadis tu.
"hemm" jawab Ardan.
Arin seraya tersenyum mencoba menenangkan pikiran Ardan saat ini yang tengah berkecamuk.
"Aziah? Dia menantumu?" Tanya Dina yang kini melihat kearah Arin seraya tersenyum lembut.
"Iya Din, dia menantuku" jawab Aziah.
"dia sangat cantik, Ardan ternyata pandai memilih seorang istri" timpal Dina lagi.
Arin hanya tersenyum dengan perkataan Ny Dina tentang dirinya, namun Melinda menatap Arin dengan pandangan tak suka.
Melinda seketika teringat sesuatu yang dimana saat dirinya bersama seseorang.
𝐅𝐚𝐥𝐬𝐡𝐛𝐚𝐜𝐤
Beberapa tahun silam, Di sebuah Bandara Internasional tampak seorang gadis dengan wajah cantik blasteran, Dia adalah Melinda Mahesa.
gadis yang kini berumur 23 tahun, Melinda yang baru saja tiba di Kota A hendak ingin menemui seseorang.
Melinda beranjak menuju suatu tempat yaitu sebuah Gedung Resort yang terletak di pertengahan antara Kota A dan B.
saat dirinya sudah sampai disana Melinda bergegas menuju suatu ruang 𝐕𝐈𝐏 yang sudah di pesannya untuk makan malam bersama seseorang.
tampak dalam ruangan itu terlihat seorang peria mudah yang berumur kisaran 22 tahun duduk di sana sembari menikmati secangkir Wine di hadapannya.
Melinda yang sudah hadir di sana tersenyum lepas melihat sosok pria yang kini dirindukannya sudah berada disana, Melinda berlari kecil menghampiri pria itu dan seketika.
Bruk...
Melinda memeluk pundak pria itu seraya tersenyum, pria itu sontak kaget dan spontan berdiri dari tempat duduknya dan menghadap kearah wanita yang kini berada di hadapannya.
"apa yang kau lakukan?" Tanya Pria itu kepada Melinda, Bruk... Melindak memeluk erat tubuh itu.
"Ardan.. aku merindukan mu" ucap Melinda yang masih memeluk tubuh pria itu yang ternyata Ardan.
"Linda.. ada apa denganmu?" Tanya Ardan bingun dengan sikap Melinda kepadanya.
Ardan spontan melepas pelukan itu dari tubuhnya dan kini menatap lekat mata itu.
"Ardan, maaf jika aku membuat mu menunggu lama" ujar Melinda.
__ADS_1
yang kini duduk di salah satu tempat duduk yang berada di samping tempat duduk Ardan.
Melinda menarik lembut tangan Ardan dan memintanya duduk disana.