
"apa kau baik baik saja?" tanya Arka.
Bela menganggukan kepalanya pertanda jawaban darinya.
"maaf kan aku kak, aku tidak sengaja mengagetkan mu!" ucap Alya bersalah.
"ck.. lain kali jangan begitu, minta maaf kepadanya!" Pinta Arka.
"eng.. tidak perlu aku baik baik saja lagian itu bukan air keras, cuma.. wine!" ucap Bela kepada Alya.
"bagaimana jika kau meminum Wine juga..!" minta Alya.
Arka seketika menatap tajam adiknya itu yang berbicara sembarangan.
"apa yang kau katakan? sini berikan kepadaku!" ucap Arka mengambik Wine tersebut.
"ya kakak aku membawakannya untuk dia!" ucap Alya.
"kau bodoh.. bagaimana bisa dia minum yang beginian!" ucap Arka.
"Kak tidak biasanya kau seperti ini? ada apa dengan mu apa kau menyukainya?" Tanya Alya ceplas ceplos.
"huks.. huks.." Arka seketika tersedak mendengar penuturan adiknya itu.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan!" ucap Arka kesal.
Bela yang masih berada di sana, melihat perdebatan kedua adik kakak itu yang tidak ada henti hentinya.
"ehem..!" dehem Bela membuyarkan perdebatan adik dan kakak itu.
Arka dan Alya seketika menatap kearah Bela yang dimana terlihat gadis itu menatap bingung keduanya itu.
Arka seketika mengubah sikapnya menjadi cool dan kini meminta adiknya itu untuk pergi dari sana.
"baiklah.. aku akan pergi tapi... sebelum aku pergi kau harus meminum satu botol wine!" pinta Alya.
"apa kau gila?" Ujar Arka.
"ck.. ternyata Papah tidak akan pernah kalah soal dalam minum ya!" ucap Alya.
"sini berikan kepadaku!" tukas Arka mengambil satu botol Wine dan kini meminumnya.
Bela sontak kaget melihat Arka yang meneguk Wine itu, namun tidak dengan Alya yang kini tersenyum melihat kakaknya itu yang meneguk habis wine tersebut.
trak..
"huks huks...sudah!" ucap Arka sembari meletakan botol wine kosong di atas meja.
Bela dan Alya seketika menatap kearah pria itu tampak terlihat wajah Arka yang sudah memerah akibat terlalu banyak minum wine tersebut hingga habis.
"kak Arka kau baik baik saja kan?" tanya Alya sedikit khawatir kepada kakaknya itu.
"mmh" sahut Arka dengan wajah sudah terlihat mabuk.
__ADS_1
brukk
Arka seketika ambruk di atas meja, sontak Bela dan Alya kini saling pandang satu sama lain.
"eng.. Nona bisakah kau membantu aku membawa kakak ku!" pinta Alya yang kini beranjak menghampiri Arka dan membopong tubuh kakak laki lakinya itu.
"iya." sahut Bela.
Bela beranjak dan kini ikut membopong tubuh Arka dan membawanya menuju mobil Arka.
Bela dan Alya kini berjalan sembari membopong tubuh besar Arka membawa pria itu menuju kembali ke mobilnya.
"ah dia benar benar payah... aku hanya mengujinya dia malah meminum sebenarnya." ucap Alya sembari mendengus kesal.
"tampaknya kalian sangat dekat!" ucap Bela kepada Alya.
Sontak Alya kini menatap sekilas kearah Bela yang berbicara kepadanya.
"Hehe.. kau salah, kami berdua suka ribut dirumah, bahkan Mamah sama Papah bilang kalau kami seperti anak kecil yang baru berusia 5 tahun" ucap Alya kepada Bela.
"eng..tapi kalian tidak tampak seperti itu." gumam Bela kini menatap sekilas Alya.
"iya.. ada kalanya kami suka tidak akur." ucap Alya lagi.
Alya seketika menatap Bela yang kini berjalan di sampingnya, Alya menatap Bela dan kini bersuara.
"apa hubungan mu dengan kak Arka?" tanya Alya kepada Bela.
"eng.. saya hanya sekretaris pribadi pak Arka saja Nona!" jawab Bela.
Selang beberapa lama mereka bertiga kini telah sampai di sebuah mobil milik Arka, Fikram yang kini melihat Tuan mudanya seperti itu, spontan dirinya beranjak menghampiri ketiganya dan mengambil alih tubuh Arka.
"Nona Alya? apa yang terjadi kepada Tuan Arka?"tanya Fikram.
"ya biasa habis minum langsung mabuk!" ujar Alya.
Fikram kini menatap kearah Arka yang dimana terlihat Tuan mudanya itu sudah mabuk berat, dengan segera dirinya membawa masuk Arka ke mobil mereka dan meminta Bela untuk ikut masuk bersama.
"Nona Alya saya permisi dulu!" ucap Bela kepada Alya.
"oh iya, sampai jumpa kembali.. kakak cantik!" ucap Alya tersenyum yang dimana gadis itu sangat menyukai sosok Bela.
Bela menganggukan senyum dan kini berlalu mengikuti Fikram menuju mobil mereka.
Namun di lain sisi Alya yang masih berada di sana kini tampak gadis itu menatap senyum kepergian Bela.
"aku harap bisa memiliki kakak ipar seperti itu.. bukan seperti ratu drama!" ucap Alya mengingat sosok Tasya.
Alya yang kini ingin beranjak pergi meninggalkan parkiran itu seketika dirinya di kejutkan dengan suara handphonenya yang tiba tiba berdering.
Alya sontak mengambil handphone nya dan kini terlihat nama sang Mamah tertera di sana.
"Mamah?" ucap Alya melihat nama itu.
__ADS_1
trut..
"Halo Mah?" ucap Alya yang kini tersambung dalam panggilan.
"Al... kamu dimana?" tanya Mamah kepada Alya.
"di hotel tempat pertemuan Direktur Mah!" jawab Alya.
"Kamu masih disana sayang? eng.. bagaimana dengan kakak mu Arka? apa kalian bertemu di sana?" tanya Mamah kepada Alya.
"kami bertemu kok Mah, apa Mamah tau.. kak Arka bawa seorang gadis cantik ikut bersama nya malam ini!" ucap Alya kepada Mamahnya.
"eng.. seorang gadis? Apa itu Tasya?" tanya Mamah kepada Alya.
"apa Mamah menyukai Tasya si ratu drama?" tanya Alya dengan wajah terlihat tak suka.
"jika kakak mu bahagia dengan apa yang dia pilih, Mamah akan juga bahagia!" ucap Mamah kepada Alya.
"huh.. terserah Mamah saja kalau begitu, Alya matikan dulu ya Mah bye Mamah muach..!" ucap Alya sembari mematikan ponselnya.
Namun di lain sisi di sebuah rumah megah terlihat seorang wanita paruh baya, Arin yang kini baru saja menelpon putri nya seketika dirinya menatap bingung handphone nya yang dimana Alya tiba tiba mematikan panggilannya begitu saja.
"apa dia marah kepada ku?" Gumam Arin.
Namun saat wanita itu tengah menatap layar handphone nya seketika seorang pria kini datang mengejutkan nya.
"apa yang kamu lihat?" tanya pria itu seketika.
Arin tersentak kaget dan kini menatap kearah pria itu yang tiba tiba berada di belakangnya.
"Pah.. ngapain sih ngagetin aja!" ucap Arin kepada pria itu yang ternyata Ardan.
"kamu habis menelpon siapa Mah?" tanya Ardan.
"Alya, Mamah habis nelpon Alya!" jawab Arin kepada Ardan.
"oh.. begitu!" sahut Ardan.
"Pah?" panggil Arin kepada suaminya itu.
"mmh kenapa Mah?" tanya Ardan.
"Pah.. Papah tau siapa pacar Arka?" tanya Arin kepada Ardan.
"Tasya." jawab Ardan sembari berpikir.
Arin seketika terdiam dan kini teringat kembali akan perkataan putrinya barusan tentang sosok gadis yang di bawa Arka, namun di lain sisi Ardan yang masih berada di sana menatap bingung istrinya itu yang tiba tiba berdiam saja.
"kamu kenapa Mah? mikirin apa?" tanya Ardan.
"mmh gak ada kok Pah.. sudah Mamah mau kekamar sekarang!" ucap Arin yang kini berlalu pergi meninggalkan Ardan di sana yang masih menatap bingung istrinya itu.
Ardan beranjak mengikuti Arin yang kini menuju lantai atas yang dimana kamar mereka berada.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...𝚝𝚘 𝚋𝚎 𝚌𝚘𝚗𝚝𝚒𝚗𝚞𝚎...