Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Hadiah Terindah


__ADS_3

Beberapa jam di perjalanan menuju Villa, tampak mereka yang kini sudah tiba di perkarangan Villa itu, Ardan yang masih berada di dalam mobilnya dan beranjak turun dari dalam mobil dan bergegas masuk kedalam Villa dan diikuti oleh Fian dan Romi yang kini membawa barang belanjaan mereka.


Namun saat pria itu tengah membuka pintu Villa tersebut, sontak mereka di buat terkejut akan suasan dalam Villa itu tiba tiba sunyi tanpa penghuni sama sekali.


"Tunggu mereka semua kemana?" tanya Ardan bingung.


"mungkin mereka di lantai atas saat ini!" ujar Fian yang juga terlihat bingung.


Mereka bertiga beranjak masuk kedalam Villa dan sembari memanggil nama gadis gadis itu di sana.


"ck.. mungkin mereka sengaja membuat kita pergi berjam jam seperti tadi dan sekarang apa yang mereka berdua rencanakan malam malam begini!" ujar Ardan yang kini berdiri di tengah tengah ruangan menatap seluruh penjuru dalam Villa itu.


"SAYANG?" teriak Ardan menggema di Villa itu.


trek..


Deg..


"oi..!" gumam Ardan seketika bingung dengan lampu yang tiba tiba padam sendirinya.


"ck.. apa mati lampu saat saat jam begini?" tanya Ardan kepada Fian.


Namun tidak ada sahutan dari Fian, Ardan seketika meraih ponselnya dan kini menyalakan flash dan menatap bingung Fian yang tiba tiba menghilang.


"ya apa apaan dia?" gumam Ardan.


"Romi?" panggil Ardan yang kini mencari Romi yang tiba tiba juga tidak ada di sana.


"kemana mereka berdua?" tanya Ardan pada dirinya sendiri.


Ardan terdiam bingung yang masih berdiri di tengah tengah loby Villa itu sembari membuang nafasnya dengan berat.


...🌹🌹🌹...


Namun saat dirinya hendak menaiki anak tangga, seketika Ardan di kejutkan dengan lampu yang tiba tiba menyala dan seketika.


"Happy birth day Mas Ardan?" ucap Arin tiba tiba dari arah belakang Ardan.


Ardan yang mendengar ucapan tersebut spontan pria itu menatap kebelakang yang dimana terlihat Arin yang kini membawa sebuah kue di tangannya.


Ardan menatap paku Arin yang dimana gadis itu tersenyum kearahnya dan seketika dirinya beranjak menghampiri gadis itu yang masih berdiri di sana.


"Kamu tau dari mana Mas ulang tahun?" tanya Ardan yang pasalnya dirinya tidak pernah memberitahukan tanggal lahirnya pada gadis itu.


"eng.. dari siapa ya!" Ucap Arin pura pura tidak tau.


Ardan seketika tersenyum melihat Arin seperti itu.


"Tiup lilin dulu dong Mas Ardan!" pinta Arin.


Ardan meniup lilin lilin itu dan saat semua lilinya sudah mati seketika dari arah lain terdengar suara nyanyian lagu selamat ulang tahun.


Ardan dan Arin spontan menatap kearah dimana Mamah, Papah begitu juga Nenek dan yang lainnya kini tiba di sana.


"Kapan Mamah, Papah sama Nenek kemari?" tanya Ardan bingung.


"Selamat ulang tahun ya Kak, yang udah tua!" ucap Liam yang juga hadir disana.


"Setua apa diriku yang baru 26 tahun!" ucap Ardan.

__ADS_1


Kini Mamah dan yang lainnya memberikan ucapan kepada Ardan dan tidak lupa mereka juga memberikan hadiah kepada pria itu.


Namun saat yang lainnya sudah memberikan hadiah, seketika Sofia bersuara.


"ehem.. bukannya kita sudah memberikan kado untuk Kak Ardan, lalu... Arin kapan kau akan memberikan hadiah mu?" ucap Sofia sembari bertanya kepada Arin.


Arin yang mendengar perkataan Sofia seketika gadis itu menatap tajam kearah Sofia, Sontak semua mata kini menatap Arin yang terlihat gugup.


"eng.. !" gumam Arin bingung.


"kakak ipar, hadiah apa yang ingin kau berikan kepada kakak?" tanya Liam.


Arin seketika menelan ludahnya dengan kasar dan kini menatap Ardan yang ternyata pria itu tengah menatap dirinya.


"itu..!" belum sempat Arin melanjutkan perkataannya seketika Ardan kembali merasakan mual di perutnya.


"hoek..!"


Sontak semua mata kini tertuju kepada Ardan yang seperti itu.


"Ahen? kau kenapa?" tanya Nenek kepada Ardan.


"tidak kenapa Nenek." jawab Ardan.


"kau sakit nak?" tanya Aziah sedikit kahwatir.


"Mas Ardan tidak apa apa?" tanya Arin kepada Ardan.


"tidak.. Mas baik baik aja!" jawab Ardan.


"oh.. kakak ipar apa hadiah mu, boleh aku melihatnya jika kau tidak mau memberitahu kakak!" timpal Liam mengingatkan.


Arin dan yang lainnya kini menatap kearah Fian yang dimana terlihat pria itu memegang sebuah kota kecil berwarna hitam.


Arin yang menyadari kotak itu, dengan cepat dirinya mengambil alih dan membawanya pergi menuju teras Villa.


Arin yang belum siap memberitahukan hal itu, tampak gadis itu yang kini sudah berada di teras dengan mata menatap paku kearah kotak tersebut.


Ardan yang melihat bingung Arin yang seperti itu, seketika pria itu menghampiri keberadaan Arin yang berada di sana.


Srek..


Ardan memeluk tubuh Arin dari belakang, sontak Arin terkejut mendapati Ardan yang tiba tiba memeluknya.


"apa yang kamu sembunyikan? apa Mas boleh melihatnya?" tanya Ardan.


Arin membalikan tubuhnya yang kini menatap Ardan yang berdiri tepat di hadapanya.


"eng.. sebanarnya ini bukan hal yang berharga kok Mas!" ujar Arin tersenyum canggung semabari memberikan kotak tersebut kepada Ardan.


"apa ini? apa Mas boleh buka?" tanya Ardan.


"terserah Mas Ardan, tapi Arin harap Mas tidak marah." ucap Arin.


Ardan seketika mengerutkan alisnya menatap bingung Arin yang berbicara seperti itu, Ardan kini membuka kotak tersebut dan terlihat sebuah test hasil kehamilan di dalam kotak tersebut.


Ardan menatap bingung dan kini mengambil hasil test tersebut dan melihatnya, Ardan seketika menatap diam benda itu yang dimana terlihat dua garis.


Ardan seketika tersenyum dan kini mengalihkan pandangannya menatap kearah Arin yang dimana terlihat gadis itu sedikit gugup.

__ADS_1


"Kamu hamil lagi sayang?" tanya Ardan dengan senyuman.


"eng.. !" gumam Arin sembari menganggukan kepalanya.


"Hadiah yang indah!" gumam Ardan dengan mata yang masih menatap kearah benda tersebut.


Namun dari arah pintu yang dimana Liam tengah menguping, seketika pria itu bersuara mendengar penuturan Ardan.


"Apa, Arin hamil lagi?" ucap Liam sedikit meninggikan nada bicaranya.


Sontak semua mata kini menatap kearah dimana ketiganya itu berada dan kini berjalan menghampiri.


Bruk... satu pelukan kini mendarat di tubuh Arin.


Arin yang melihat Ardan memeluknya spontan dirinya membalas pelukan tersebut.


"pantas dari tadi Mas mual terus ternyata kamu yang hamil!" ucap Ardan.


"heheh...!" gumam Arin tersenyum.


🌹🌹🌹


"Nak? kamu hamil lagi?" tanya Mamah kepada Arin yamg kini sudah berada di sana.


Arin menganggukan kepalanya pertanda jawaban darinya.


Mamah seketika memeluk tubuh Ardan menciumi wajah gadis itu dengan lembut, begitu juga Nenek yang kini memberikan sebuah hadiah natal untuk Arin berupa kalung berlian.


Namun saat mereka tengah larut dalam suasana seketika suara kembang api kini terdengar di sana, terlihat Liam dan Fian yang dimana kedua pria itu yang ternyata menghidupkan kembang api tersebut.


"Selamat Natal and Happy New Years!" teriak Liam dan Fian dari arah bawah.


sriit... torr trak..


suara kembang api di atas langit.


Mereka semua seketika tertawa pecah melihat tingkah konyol Liam dan Fian yang seperti anak kecil menurut mereka.


"Mas Arka mana?" tanya Arin.


"sama Yeni tu!" jawab Ardan dengan mata menatap kearah anak kecil yang bersama dengan Yeni.


Arin tersenyum dan kini menyandarkan kepalanya di dada pria itu.


Cuph..


"Mas Ardan?" Panggil Arin tiba tiba.


"iya?" sahut Ardan menatap kearah Arin yang masih menyandarkan kepalanya di dada pria itu.


"I love you!" ucap Arin.


"Love you too istriku tersayang!" Balas Ardan.


Arin seketika tertawa dan begitu juga Ardan, kini mereka semua menikmati malam natal itu bersama sama dan tanpa menyia nyia kan moment malam itu selamanya.


...🎄🎄🎄...


...𝐄𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠...

__ADS_1


__ADS_2