
Tak lama Romi datang menghampiri Arin yang masih bersama Asisten rumah tangga.
"selamat pagi Nona? Tn Ardan meminta saya untuk menjemput Nona." Ucap Romi kepada Arin, Arin seketika mengerutkan dahinya.
"kemana?" Tanya Arin bingung.
"saya juga tidak tau Nona, Tn Ardan meminta saya untuk menjemput Nona." ucap Romi menjelaskan.
"baiklah aku akan ikut" ucap Arin seraya berjalan dan di ikuti Romi dari belakang, saat sampai di mobil Romi segera melajukan mobilnya menuju tempat yang di perintahkan Ardan kepada dirinya.
Di perusahaan I.C Group kini Romi dan Arin mereka berdua telah sampai di sana.
Arin menatap kagum gedung tinggi yang kini di hadapannya, seketika Arin tersadar kenapa Romi membawanya kemari.
"silahkan Nona!." Ucap Romi membuka pintu mobil bagian belakang, Arin segera turun dari sana.
"Rom.. kenapa kita kemari? siapa yang ingin kita temui?" Tanya Arin kepada Romi yang kini berada di hadapannya.
"eng.. nanti Nona akan tau sendiri, mari ikuti saya Nona." tukas Romi seraya berjalan terlebih dahulu.
Arin beranjak mengikuti Romi dari belakang, saat mereka hendak masuk kedalam kantor tersebut seketika banyak tatapan yang kini mengarah kepadanya.
"Eng...?" Arin seketika menundukan kepalanya.
"siapa gadis itu? Aku baru pertama kali ini melihat nya, apa dia karyawan baru?" Ucap karyawati di sana yang tengah membicarakan keberadaan Arin di perusahaan itu.
Kini mereka berdua telah sampai di sebuah Lift Romi membawa Arin menuju lantai 10.
Ting.... suara Lift terbuka.
mereka beranjak keluar dari dalam Lift tersebut dan menuju kesebuah ruangan.
"Rom kenapa kita kesini?" ucap Arin masih bingung dengan semua ini. Romi tak menjawab pertanyaan Arin dan masih terus berjalan di sebuah ruang.
tok... tok...
Romi mengetuk pintu ruangan tersebut dan seketika terdengar suara dari dalam sana memintanya untuk masuk.Romi meminta Arin untuk ikut masuk bersamanya.
Arin menatap seluruh ruangan itu tampak tertata rapi dan juga bersih. Namun seketika kini matanya teralihkan melihat seseorang yang tengah duduk menghadap ke jedela dan membelakangi dirinya.
"Tn saya sudah membawa Nona kemari." Ucap Romi kepada pria itu, Arin seketika bergumam dengan siapa pria yang saat ini di hadapannya.
tak lama pria itu memutar tempat duduknya dan kini beralih menatap gadis yang di hadapannya yaitu Arin.
Deg..
__ADS_1
Arin seketika membulatkan kedua bola matanya melihat apa yang kini di hadapannya yaitu Ardan.
"T tuan?" Ucap Arin kepada Ardan dengan sedikit kaget.
"hemm, Rom.. kau pergilah, jika orang itu sudah datang kemari segera kabari aku nanti!" Ucap Ardan kepada Romi.
"baik tuan" sahut Romi menundukan kepalanya dan berlalu pergi, Arin yang kini menatap kepergian Romi dan meninggalkan dirinya.
bersama pria itu seketika tubuhnya lemas memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"kenapa kau berdiam saja disana? Duduklah...aku tidak mau menggendongmu saat kaki mu mati rasa" ucap Ardan yang kini pokus kelayar laptop nya.
Arin berjalan menuju sofa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"mau kemana?" tanya Ardan seketika, Arin menghentikan langkahnya dan kini manatap Ardan.
"d duduk!" Ucap Arin sedikit gugup, Ardan mendongak kan kepalanya dan kini menatap Arin yang berdiri jauh di hadapannya.
"bukan duduk di situ, tapi... " ucap Ardan seraya menepuk pahanya, Arin mengalihkan pandangannya menatap kearah yang di tunjuk Ardan dan seketika berguman kaget.
"tidak.. tuan aku bisa duduk disini.."belum sempat Arin menyelesaikan perkataannya.
"saya tidak butuh penolakan, kemari atau saya paksa kamu." ucap Ardan sedikit mengancam.
BRUKkk...
Ardan menarik tubuh Arin dan kini duduk di pangkuannya, Arin tersentak kaget dan menatap wajah pria itu yang kini dihadapannya dengan jarak yang terbilang cukup dekat.
Ardan menyadari tatapan itu seketika mengalihkan pandangannya dan menatap Arin.
"tuan..?" belum sempat Arin berbicara seketika perkataannya di sela behitu saja.
"sudah ku katakan, jangan panggil aku dengan tuan.."ucap Ardan yang masih menatap wajah Arin yang kini sangat dekat dengan wajahnya.
Arin seketika menundukan kepalanya.
"m maaf tu... maksudku mas Ardan, apa mas Ardan tidak merasa lelah duduk seperti ini?" Ucap Arin gugup seraya mengigit bibir bawahnya.
Ardan tersenyum melihat tingkah Arin yang seperti itu.
"apa kau coba menggoda ku?" Ucap Ardan dengan senyum nakal, Arin seketika menatap wajah Ardan dan menyipitkan matanya seketika.
Deg....
Ardan seketika ******* bibir mungil itu, Arin membulatkan kedua bola matanya melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
Arin seketika memundurkan wajahnya namun percuma Ardan memegang kuat tengkuk.
"mmh, Mas Ardan?" Panggil Arin yang sudah habis kenapasan, Arin memukul dada bidang milik Ardan.
seketika..
Cklek...
srett..
suara pintu ruangan Ardan terbuka, Ardan dan Arin seketika melihat kearah datangnya seseorang.
"Kau?" panggil Ardan kepada orang itu. Arin seketika beranjak dari pangkuan Ardan dan kini berdiri di sampingnya dengan wajah yang sudah bersemu merah.
Arin ingin rasanya memaki peria yang satu ini.
"Ohh apa aku datang di waktu yang salah?" Ucap orang tersebut dengan senyum smrik dan kini beralih menatap kearah gadis yang berdiri di samping Ardan yaitu Arin yang masih dengan wajah tertunduk malu.
"ada perlu apa kau kemari hh?" Tanya Ardan dengan nada tak suka, Arin menatap kearah orang tersebut seraya mengingat sesuatu.
"sepertinya aku pernah lihat orang itu, tapi.. dimana?" Batin Arin yang masih mengingat ingat.
"apa gadis itu kekasihmu?" Tanya orang itu seraya memasuki ruangan Ardan.
"bukan urusan mu, jika kedatangan mu tidak kepentingan lebih baik kau pergi sekarang!!" Ucap Ardan yang sudah mulai sedikit emosi.
"hemm baiklah baiklah, aku datang kemari hanya ingin memberikan berkas ini kepadamu" ucap orang itu seraya menaruh berkas di meja Ardan.
dan kini menatap Arin yang masih berada di sana, orang itu segera berlalu namun sebelum dirinya benar benar pergi orang tersebut berbicara.
"gadis mu cantik.. bisahkah kau berbagi malamnya dengan ku Ardan?" Ardan seketika menatap tajam kearah orang itu.
"jaga bicara mu Fian, pergilah sebelum aku melemparmu keluar" ucap Ardan lagi.
"baiklah baiklah aku pergi sekarang" jawab orang itu yang ternyata Fian.
Arin yang mendengar nama Fian seketika dirinya teringat sesuatu.
"Fian? jadi dia CEO dari J.C Group itu?, lalu hubungannya dengan mas Ardan apa?" batin Arin yang kini mengetahui sosok Fian.
Fian berlalu pergi meninggalkan ruangan itu . Setelah kepergian Fian tak lama terdengar suara ketukanpintu ruangan Ardan.
"Masuk..."ucap Ardan kepada seseorang yang berada di luar, Romi segera masuk dan di ikuti seorang wanita muda kisaran 20 an terlihat wanita itu membawa beberapa asisten nya ikut bersamanya.
__ADS_1