Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Mual Mual


__ADS_3

"yasudah yasudah..." ujar Ardan seraya berjalan menuju tempat penjual es Krim.


"mas Ardan mau?" Tanya Arin yang kini menatap seluruh boks yang berisikan es Krim.


"tidak.. saya tidak mau, kamu saja yang beli" ucap Ardan kepada Arin, Arin segera mengambil beberapa es crime chocolate Vanilla.


"kok dua?" Tanya Ardan yang kini melihat kearah tangan Arin yang terdapat dua es crime.


"Arin mau dua." tukas Arin seraya tersenyum kearah Ardan.


"huh...baiklah" sahut Ardan memberikan beberapa lembar uang kepada penjual es crime.


dan kini mereka segera kembali menuju mobil mereka, Ardan segera melajukan mobilnya menuju rumah.


Di dalam mobil Arin yang kini menikmati es Krimnya hingga tak tersisa sedikit pun.


Ardan terkesiap melihat Arin yang begitu cepat menghabiskan dua es crime sekaligus.


Di rumah, kini Ardan dan Arin segera keluar dari dalam mobil, dan beranjak menuju kamar mereka.


"jangan tidur di kamar tamu, kekamar saya sekarang!" Ucap Ardan seraya menaiki anak tangga.


"hemm" sahut Arin yang kini ikut menaiki anak tangga.


di dalam kamar Ardan segera merebahkan tubuhnya di atas kasur, dan seraya memejam kan kedua matanya.


***


derrt.. dertt...


sauar alarm.


pukul 06.00


Arin terbangun seraya mengerjapkan kedua matanya dan kini beranjak turun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


beberapa menit, kini Arin telah selesai membersihkan tubuhnya, Arin, segera menyiapkan pakaian Ardan dan meletakannya di sofa ujung.


dan berlalu pergi menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk dirinya dan juga Ardan.


"bi... mas Ardan biasanya sarapan apa ya?" Tanya Arin yang kini sudah berada di sana.


"oh.. Nyonya, ehmm biasa Tn Ardan cuma sarapan roti isi aja Nyonya." Jawab Bibi Yan kepada Arin


"mas Ardan gak pernah sarapan yang lain bi?" Tanya Arin lagi, Bibi menggelengkan kepalanya pertanda jawaban darinya.


"yasudah, saya masakin yang simpel saja kalau gitu bi" ucap Arin seraya berjalan menuju kompor dan sembari mengikat rambutnya, Arin menyiapkan beberapa bahan untuk dirinya masak,


trak.. trakk..


ssrek....


brushh..

__ADS_1


Bibi hanya menatap Arin yang masih memasak, dengan perasaan kagum dengan Nyonya nya itu.


"ternyata Nyonya bisa masak?" Ucap bibi yang masih setia berada di sana.


Arin melirik sekilas kearah bibi Yan, dan seraya tersenyum kearahnya.


Tak..


Arin meletakan makanan yang sudah dimasaknya itu di atas meja.


tap..tap..


namun dari jauh, terdengar suara langkah kaki yang berjalan menuruni anak tangga.


Arin mendongak kan wajahnya dan terlihat Ardan yang sudah bersiap siap untuk berangkat kekantor.


"mas Ardan sudah siap siap?" Tanya Arin kepada Ardan yang baru saja tiba di dapur.


"Hemm iya, hari ini saya ada meeting jadi saya harus segera kekantor" jawab Ardan dengan tangan satunya masih memasang sebuah jam di lengan kirinya.


Arin yang melihat Ardan sedikit kesusahan segera menghampiri dan memasangkan jam tangan tersebut kelengan Ardan.


Deg...


Ardan seketika tertegun dengan perhatian Arin kepadanya.


"sudah!!, mas Ardan sarapan dulu, setelah itu baru berangkat kerja, bukannya mas ada meeting kan pagi ini?" ucap Arin seraya menuju meja makan.


Ardan hanya menganggukan kepalanya dan segera menuju meja makan untuk sarapan.


Pukul 10.00


di ruang Meeting terlihat di sana sudah banyak orang yang hadir untuk pertemuan.


Ardan yang baru saja tiba di kantornya segera beranjak menuju ruang meeting.


"selamat pagi semuanya, maaf membuat kalian menunggu sedikit lama!" Ucap Ardan seraya duduk di bangku ujung menghadap sebuat layar yang berada di hadapannya.


"tidak masalah Tn Ardan, kami senang jika anda sudah hadir di rapat ini" ucap salah satu manager kepada Ardan.


Ardan hanya menganggukan kepalanya dan kini kembali pokus menatap layar proyektor di hadapannya.


***


Di sisi lain terlihat seseorang yang tengah berbicara dengan seorang pria.


orang tersebut seperti memberikan sebuah amplop coklat kepada pria itu.


entah apa yang orang itu katakan sehingga peria itu menerimanya dengan sebuah senyuman di wajahnya.


Di Rumah, Arin tampak sangat bosan seraya memainkan ponselnya, tak lama sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


Arin melihat nomor tersebut segera mengangkat panggilan tersebut.

__ADS_1


"hallo?" Ucap Arin kepada seseorang dari sebrang panggilan.


"hallo, Arin? Ini aku Fina!" Ucap orang tersebut yang ternyata Fina.


"Fina?" Ucap Arin yang kini mengubah posisinya menjadi duduk.


"Arin.. bagaimana kabarmu?,kau sudah lama tidak masuk kuliah?" Tanya Fina kepada Arin.


"Hemm.. ya, aku baik baik saja Fina, lalu bagaimana denganmu?" ucap Arin seraya bertanya balik kepada Fina.


"aku baik baik saja Arin, aku merindukanmu" sahut Fina dengan nada suara sedikit sedih.


"hemm bagaimana kalau besok kita keluar, di cafe tempat biasa!" Ujar Arin yang kini memberikan sebuah ide.


"hamm baiklah besok siang, okeh aku matikan dulu telponya, sampai bertemu besok Arin" ucap Fina seraya mematikan panggilan.


***


satu jam telah berlalu, kini terlihat Ardan yang sudah sedikit tidak konsen dengan meetingnya.


Romi yang juga berada di dalam sana yang menyadari tuannya seperti itu seketika menghampirinya.


"Tn, apa tuan baik baik saja?" Tanya Romi sedikit khawatir kepada Ardan,


"Rom? Apa meetingnya masih lama?" tanya Ardan yang sudah terlihat sangat bosan,


"hemm Tn mau saya hentikan meeting nya,tampak nya Tn terlihat tidak baik baik saja?" tanya Romi yang masih berada di sana.


"hemm baiklah, aku butuh istirahat, akhiri dulu meeting hari ini" ucap Ardan seraya bangkit dari tempat duduknya.


"baik Tn!" Romi segera berbicara kepada semua yang ada di ruangan itu dan saat dirinya sudah selesai Romi segera beranjak menghampiri Ardan yang masih berada di luar.


"sudah tuan" ucap Romi yang kini sudah berada disana, Ardan melangkahkan kakinya menuju ruangnya.


namun di pertengahan koridor Ardan merasa sedikit pusing, dan mual.


"Tuan...? Apa tuan baik baik saja? tampaknya Tuan sedang tidak sehat hari ini, Saya akan panggilkan dokter pribadi kalau begitu!" ucap Romi kepada Ardan dengan wajah sedikit khawatir.


"tidak perlu, saya hanya ingin beristirahat sebentar" sahut Ardan yang kini melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya.


di ruang kerjanya, Ardan segera menjatuhkan tubuhnya di atas bangku kerjanya seraya memijat pelan keningnya.


namun secara bersamaan dari luar terdengar suara ketukan pintu.


Ardan yang mendengar suara ketukan tersebut menyuruh orang itu segera masuk keruangnya.


dan terlihat seorang pria dengan membawa berkas di tangannya, yang ternyata sekretaris Yuan.


"Selamat sia..." belum sempat Yuan berbicara, seketika Ardan mengacungkan tangannya menyuruh Yuan untuk tetap berada di sana.


namun seketika Ardan mengalami mual mual dan bergegas munuju kamar kecil.


Yuan yang melihat Tn nya seperti itu hanya terdiam bingung apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1



__ADS_2