
Selang beberapa lama mereka berdua kini telah tiba di sebuah Market, Ardan segera sebanajak keluar dari dalam mobilnya dan diikuti Arin dari belakang pria itu.
mereka segera beranjak masuk kedalam market, namun sesampainya di sana Arin menatap keseluruh penjuru isi market tersebut dan sembari mencari sesuatu.
" kita kesan saja " ujar Ardan yang kini berjalan terlebih dahulu.
Arin mengangguk kan kepalanya, dan berjalan mengikuti pria itu, tak lama di sebuah tempat dimana semua terdapat bahan bahan keperluan rumah yang Arin butuhkan.
" carilah apa yang ingin kamu butuhkan, saya tunggu, cepetan. " ucap Ardan kepada Arin yang kini mereka telah berada di sana.
" ck.. dia kira apaan, belanja secepat itu " gerutu Arin yang kini mengambil sebuah troli dan memasukan beberapa barang keperluan untuk di vila.
saat beberapa jam, Arin yang sudah selesai membeli sesuatu yang dirinya butuhkan dan kini beranjak membawa trolli itu bersamanya dan bergegas kekasir untuk membayar barang belanjaannya itu.
di Meja kasir, Arin yang kini sudah berada disana, namun tanpa dirinya sadari tampak di sekitar gadis itu yang dimana kini dirinya menjadi pusat perhatian para pengunjung lainnya Arin yang baru menyadari hal tersebut seketika menatap heran kepada mereka semua.
" wah bukannya itu CEO dari perusahan I.C group bukan, lalu siapa gadis itu, apa dia istri dari bos besar perusahaan itu? " gumam mereka berbisik melihat kearah Ardan dan juga Arin.
Arin yang mengetahui dirinya tengah di bicarakan seketika mengalihkan pandangannya kearah Ardan yang tengah sibuk memainkan ponselnya, dan tidak memperdulikan situasi yang ada disana.
" huh.. menyebalkan sekali dia, ck lagi lagi kenapa mereka menatap ku seperti itu. " gerutu Arin sedikit kesal.
Arin yang sudah selesai membayar barang belanjaanya dan segera berjalan mendahului Ardan yang masih menunggunya disana.
Ardan menatap sekilas perginya Arin yang begitu saja tanpa memperdulikan dirinya yang masih berada disana.
" Cepat sekali jalan mu? " Ucap Ardan yang baru saja tiba di parkiran.
" bukan Arin yang kecepatan, tapi Mas Ardan yang kelamaan " sahut Arin kini yang telah masuk kedalam mobil.
Ardan seketika mengerutkan alisnya, menatap bingung gadis itu yang berbicara seperti itu.
" ada apa dengan dia? " gumam Ardan pelan, dan kini masuk kedalam mobil, Ardan segera melajukan mobilnya menuju Villa.
selang beberapa lama kini mereka berdua telah sampai, Arin beranjak keluar dari mobil dan menuju masuk kedalam Villa, tanpa memperdulikan Ardan yang masih berada disana.
" issh begitu menyebalkan saat pergi dengannya " gumam Arin kesal.
tap.. tap..
terdengar suara langkah kaki yang berjalan munuju arah dapur, Arin mengalihkan pandangannya dan terlihat Ardan yang batu saja tiba.
__ADS_1
Ardan menatap Arin dengan tatapan bingung, Arin yang mengetahui tatapan tersebut hanya diam dan tak memperdulikannya.
Arin segera mengabil bahan bahan yang ia beli dan segera mencucinya, Arin memotong bahan bahan itu dan segera memasaknya.
namun dari jauh ada sepasang mata yang mengamati dirinya yang tengah sibuk memasak.
Ardan memperhatikan gerak gerik Arin yang sedang memasak, menatap gadis itu dari ujung kepala hingga kaki, yang hanya menggunakan baju kaos dengan celana pendek dengan rambut yang di kuncir tinggi.
Ardan seketika terpesona, dengan apa yang dirinya lihat, namun dengan cepat dirinya mengalihkan pandangannya dan menepis semua yang ada di pikirannya saat ini.
trak...
" sudah selesai, mas Ardan sudah makan? " Tanya Arin kepada Ardan yang kini masih menatap dirinya.
Ardan tersadar dan segera mengalihkan pandangannya kearah masakan yang telah di sajikan di atas meja.
" mas Ardan kenapa sih? " Ucap Arin bingung.
" eng.. tidak kenapa " ucap Ardan menyela.
" kalau begitu lebih baik mas Ardan makan dulu, Arin sudah lapar " ucap Arin segera duduk di sala satu tempat duduk dan begitu juga dengan Ardan.
" gadis ini ternyata bisa memasak juga! " ucap Ardan dalam batinnya, Arin yang sedari tadi menikmati makan malamnya seketika menglihkan pandangannya kearah pria itu, dengan wajah yang termenung.
" mas Ardan.. kenapa? " ujar Arin seketika membuyarkan lamunan pria itu, Ardan reflek menglihkan pandangannya menatap kearah Arin.
" Mas Ardan tidak suka? apa masakan Arin tidak enak? nanti Arin bikinin lagi kalau ma.." belum sempat Arin melanjutkan perkataanya, seketika pria itu bersuara.
" tidak perlu, saya sudah selesai.. " ucap Ardan beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Arin yang masih menatap bingung pria itu.
" kenapa harus bertemu pria seperti itu, apa yang pernah aku lakukan di kehidupan ku sebelumnya sampai sampai aku harus terjebak di sini ck " gumam Arin.
Arin segera beranjak membersihkan bekas makanan itu, dan kini memcucinya, saat dirinya sudah selesai Arin segera kembali kekamarnya untuk beristirahat.
Brukk..
Arin merebahkan tubuhnya di atas kasur, dan di pandang nya langit langit kamarnya, Arin menatap jauh pikirannya saat ini, bagaimana cara dirinya bisa lepas dari pria seperti Ardan dan pulang kerumahnya.
namun tanpa sadar airmata Arin terjatuh seketika, dirinya menangis dalam diam di sepanjang malam, meretapi nasibnya yang sudah tidak berguna lagi.
bahkan saat ini dirinya sudah ternodai oleh laki laki itu. Seketika Arin tertidur karena lelah akibat menangis.
__ADS_1
Pagi sudah, kini Arin mengerjapkan kedua bola matanya dan menatap samar pantulan cahaya matahari yang kini sudah hampir separuh menampakan diri.
Arin beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Saat dirinya sudah selesai Arin segera menuju keluar kamar namun tiba tiba langkahnya terhenti mendapati sosok asing yang kini berada di hadapannya, sembari menatap bingung keberadaannya saat ini.
" siapa kamu? kenapa kamu berani beraninya berada disini? " tanya orang itu kepada Arin yang kini berada disana.
Arin sontak tertegun menatap diam dengan wajah yang sedikit takut melihat seorang wanita yang kini berada di hadapannya dengan pandangan tak suka.
" eng.. saya.. saya asisten mas Ardan Nona. " Jawab Arin berbohong, gadis itu menatap Arin dari ujung kepala hingga kaki.
" owh pantas saja, penampilan mu sepeti pembantu " ucap gadis itu dan kini melangkah maju kearah Arin, Arin sontak memundurkan tubuhnya.
" bukannya Ardan tidak pernah memperkerjakan seseorang untuk menjadi pelayan rumah ini! " Ucap gadis itu lagi.
" atau jangan jangan...! hh sudahlah buatkan aku teh sekarang! " Ucap gadis itu kepada Arin sembari berlalu meninggalkan gadis itu disana yang masih diam mematung.
Arin segera beranjak pergi kedapur untuk membuatkan secangkir teh untuk gadis itu.
Di ruang tamu terlihat seorang gadis yang tengah duduk sembari memainkan handphone miliknya, gadis itu tak lain ialah Nadia, yang ternyata datang ke Villa pagi ini, saat Ardan sudah pergi ke perusahaan nya.
entah apa tujuan Nadia berkunjung ke Villa. Arin yang sudah tiba disana dan segera meletakan teh tersebut di meja di hadapan Nadia duduk.
" ini teh nya Nona? " Ucap Arin yang kini ingin beranjak pergi dari sana, namun seketika Nadia bersuara dan segera menghentikannya.
" tunggu dulu, apa begini caramu memperlakukan tamu hh, kau tau siapa aku? " Ucap Nadia yang kini mengalihkan pandangannya melihat kearah Arin yang kini menatapnya.
" maaf Nona, saya tidak tau anda siapa? " Ucap Arin lembut.
" heh aku ini adalah kekasihnya Ardan, jika Ardan sampai tau, kalau asistennya ini melakukan kesalahan, maka siap siaplah untuk keluar dari sini " ucap Nadia mengancam.
Arin seketika tertegun mendengar perkataan gadis itu kepadanya dan kini mengangguk kepalanya seakan akan mengerti apa yang di sampaikan kepadanya.
" baiklah Nona, saya permisi terlebih dahulu " ucap Arin kepada Nadia.
" pergilah " sahut Nadia kepadaArin.
Arin segera pergi dari sana dan menuju kembali kekamarnya.
...~~~~...
__ADS_1