
Ardan yang melihat Arin masih kebingungan, seketika pria itu mencoba menjelaskan kepada Arin yang masih memandang dirinya.
" kamu datang bersama saya, maka dari itu malam ini kamu menjadi wanita saya " ucap Ardan menjelaskan.
Arin yang kini mengerti maksud pria itu seketika dirinyamenerima uluran tangan pria itu kepadanya, Ardan segera membawa Arin pergi masuk menuju kedalam Hotel tersebut.
Namun saat mereka sudah tiba di dalam sana, alih alih sorotan para tamu undangan kini menatap keberadaan mereka berdua di sana.
" siapa dia? "
" lihat gadis itu dia cantik "
" mereka terlihat sangat serasi "
Arin yang mendengar perkataan demi perkataan yang terlontarkan dari para tamu yang terus terusan menghantam telinganya, dan kini mencoba untuk bersikap biasa biasa saja.
" oh bukan kah itu CEO terbesar di kota sebelah, coba lihat gadis yang berada di sampingnya itu, apa dia kekasihnya? " Ucap para pria yang ternyata juga memperhatikan mereka berdua.
" selamat datang tuan Ardan, senang bertemu dengan anda malam ini? " ucap seseorang kepada Ardan sembari mengulurkan tangannya.
Ardan tersenyum dan menerima jabat tangan dari orang itu kepadanya.
" senang bertemu dengan anda tuan Salim!! " ucap Ardan.
" mmh siapa gadis yang bersama anda ini tuan?, apa dia sekretaris anda? " Tanya tuan Salim sembari menatap kearah Arin yang kini berada di samping Ardan.
Ardan hanya tersenyum, dan kini melihat kearah Arin yang berdiri di sampingnyam
" hallo Nona, siapa namamu? " Tanya tuan Salim kepada Arin.
" saya Arin tuan! " jawab Arin sembari tersenyum kearah pria itu.
" baiklah saya permisi dulu tuan Ardan. " Ucap tuan Salim sembari berlalu pergi,Ardan menganggukan kepalanya begitu juga dengan Arin.
" tuan saya permisi kekamar kecil sebentar!.." ujar Arin kepada Ardan.
" pergilah " jawab Ardan dan kini beralih mengambil segelas Wine.
Arin segera berlalu menuju kamar kecil, untuk merapikan pakaiannya, namun saat dirinya sudah selesai Arin segera beranjak keluar dari dalam sana, namun saat dirinya sudah berada di luar, tiba tiba seseorang memanggil dirinya.
Arin seketika mengalihkan pandangannya menatap kearah orang tersebut.
" oh.. ternyata kita bertemu lagi ya, Arin? "ucap orang itu kepada Arin.
Arin yang kini mengenali sosok tersebut, seketika menatap cuek kearah gadis itu.
" hemm ya " ucap Arin cuek.
__ADS_1
" eng.. tunggu bagaimana bisa, gadis seperti dirimu berada disini? apa kau punya teman atau... seorang pria tua hah yang berada di dekat mu " ucap gadis itu yang ternyata Jesika.
" lalu, jika aku punya teman atau seseorang di sampingku, apa masalah mu? " ujar Arin yang hendak berlalu pergi meninggalkan Jesika.
Jesika yang melihat Arin begitu berani melawannya, seketika memanggil beberapa orang suruhannya yang ternyata juga ikut hadir malam itu.
" Buat dia merasakan apa yang pantas dia rasakan malam ini " tukas Jesika kepada orang suruhannya.
" kau tenang saja, meski kita berada di tempat seperti ini, kau tidak perlu cemas, kita akan melakukannya " sahut orang suruhan itu yang kini beranjak menghampiri keberadaan Arin.
Di balkon, tampak terlihat Arin yang kini tengah berada di luar sana sembari menikmati suasana angin malam yang terasa damai di benaknya, namun tiba tiba dari arah lain seorang kini menghampiri keberadaan gadis itu disana.
" hai Nona, kenapa kau berdiam sendirian disini? mau aku temani Nona? " tanya pria itu kepada Arin yang kini tampak sedikit takut dengan kehadiran pria itu.
" eng.. tidak tuan, anda tidak perlu menemani saya " ucap Arin sedikit takut.
" sudahlah, kau tidak perlu takut, mari ikut bersamaku " ucap pria itu lagi sembari memegang tangan Arin begitu saja, Arin segera menepis tangan pria itu yang mencoba memegang tangannya.
Arin bergegas untuk pergi dari sana namun dengan cepat pria itu menarik Arin menjahui kerumunan, sembari menutup mulut gadis itu untuk berdiam diri, Arin memberontak, namun percuma tenaga pria itu cukup kuat untuk menahan tubuhnya.
Tak lama di sebuah kamar pria itu membawa Arin di salah satu kamar hotel dan kini melempar tubuh gadis itu di atas tempat tidur dengan tatapan penuh arti, Arin berteriak meminta tolong, namun tidak ada satu pun orang yang mendengar teriakannya.
" hh, Nona kau itu sangat cantik, bagaimana kalau kau menemaniku malam ini ? " ucap pria itu yang kini tersenyum smrik kearah Arin.
namun alih alih, seketika pria itu membuka jas miliknya yang barusan dikenakannya, sembari melangkah menghampiri keberadaan Arin di sana.
" berhenti disana jangan mendekat, atau aku akan melaporkan mu " ucap Arin sembari memundurkan tubuhnya, Arin dengan cepat beranjak dari tempat tidur dan berlari menuju pintu kamar itu.
dan berusaha membuka paksa baju yang di kenakan Arin, Arin menangis dan berusaha memberontak.
" ck.. Nona, kita nikmati saja malam ini " ucap pria itu dengan wajah yang kini terpaut dekat dan mencoba untuk melakukan sesuatu kepada gadis itu,
namun dari arah pintu luar kamar itu seketika seseorang mendobrak masuk kedalam sana.
BRAK...
suara pintu yang di buka paksa dari luar.
" Ck.. siapa kau bren.... " belum sempat pria itu melanjutkan perkataanya.
BRUKk
tiba tiba satu tendangan tepat di tubuh pria itu, dan membuatnya terjatuh keras kelantai.
" apa yang kau lakukan brengsek..berani beraninya kau menyentuhnya " ucap seseorang yang kini berjalan menghampiri pria itu yang terjatuh kelantai.
kerk..
__ADS_1
" argh...akh.." pekik pria itu, kesakitan menahan rasa sakit do tangannya.
" ck.." Ardan menginjak tangan pria itu tanpa ampun.
" akh.. tuan tolong lepaskan " pinta pria itu dengan memohon.
" jika kau berani melakukannya lagi, jangan harap tanganmu ini akan selamat " ucap Ardan, yang kini beranjak menuju Arin yang kini masih dalam keadaan Shock atas keajadian barusan.
Ardan menatap kearah gadis itu sekolah dan segera membawa Arin pergi dari sana, dan menuju pulang.
di Villa.
Ardan membawa Arin menuju kamar miliknya, dan di letakannya gadis itu di atas tempat tidur.
" Bersihkan dirimu, aku tidak mau ada bekas yang tersisa dari pria itu " ucap Ardan yang kini berlalu pergi meninggalkan Arin.
Arin menatap bingung perkataan Ardan, bahwa dirinya harus membersihkan tubuhnya, Arin segera beranjak memuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
saat dirinya sudah selesai membersihkan tubuhnya dan beranjak keluar dari kamar mandi, Arin yang baru saja tiba di luar kamar mandi dengan mata menatap sosok pria yang kini berada di dalam kamar itu, yang tak lain Ardan yang ternyata tengah menunggu dirinya.
Ardan menatap seluruh tubuh gadis itu dan kini beranjak menghampiri Arin dan seketika menggendong tubuh itu dan melemparnya di atas kasur, Ardan mendekatkan tubuhnya dan seketika terjadilah sesuatu diantara mereka berdua.
pukul 06.00
Arin terbangun dari tidurnya, dan dilihatnya tubuhnya tanpa sehelai benang, Arin kini beralih menatap kearah pria yang tengah tidur di sampingnya.
Arin mendengus kesal dan kini beranjak bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, saat dirinya sudah selesai.
Arin kini berjalan meninggalkan kamar dan menuju ruang tamu, Arin beranjak pergi meninggalkan Villa itu tanpa ketahuan oleh anak buah Ardan.
Arin berjalan menjauh menuju jalan tol, tak lama sebuah taxi melintas, Arin segera memberhentikan taxi tersebut dan meminta sopir itu untuk mengantarnya pergi kesuatu tempat.
Di sebuah toko yang sudah terlihat usang, Arin segera turun dari taxi, dan berjalan menuju jalan kecil disana.
untuk menemui seseorang, namun saat dirinya hendak memasuki sebuah kios.
namun tiba tiba dirinya seketika menghentikan langkahnya saat mendengar sebuah suara, Arin mendongakkan kepalanya terlihat dua orang tengah berbicara.
Arin mendengarkan percakapan antara kedua orang itu dan seketika mengeluarkan arimatanya.
" Hiks... hiks.." tangis Arin pecah.
Arin segera pergi dari sana, namun saat dirinya hendak melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut seketika sosok pria yang kini berada tepat di hadapannya.
"Arin?" Panggil orang itu kepada Arin yang berada disana, Arin segera melangkah kan kakinya meninggalakan orang tersebut namun dengan cepat pria tersebut menghentikan langkah gadis itu.
" Arin, tunggu! kapan kamu datang? Aku merindukanmu! " Ucap orang itu ternyata Roy.
__ADS_1
Arin mendorong tubuh Roy menjauh dan kini beralih menatap wajah pria itu dengan tatapan yang tajam.
...***...