Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Rencana Licik Seseorang


__ADS_3

"ck... membantumu, jangan coba coba untuk membohongi ku Roy, belum puas soal pukulan dari anak buah ku!" Ujar pria itu kepada orang tersebut yang ternyata Roy.


"tidak aku tidak akan berbohong kepadamu, jika kau bisa membantuku?" Sahut Roy dengan yakin.


"apa..? Apa yang ingin kau lakukan? Jika aku membantumu."tanya pria itu kepada Roy.


"kau akan mendapatkan nya, jika kau bisa membantuku membawa kekasihku kembali kepadaku." Jawab Roy kepada pria itu.


"ck.. kau pikir siapa dirimu Roy, gadis yang sudah kau jual kepada peria lain, mana mungkin akan bisa kau dapatkan kembali!" Ucap pria itu seraya menggelengkan kepalanya dan tersenyum remeh kepada Roy.


"jika kau mau uang itu, bagaimanapun caranya peria itu pasti akan memberika uang itu kepadamu!" Timpal Roy lagi.


pria itu seketika menatap Roy dan kini berlalu pergi meninggalkannya sendirian disana dan diikuti oleh anak buahnya.


***


Di ruang Ardan terlihat Denny yang masih berada disana bermaksud mebahas proposal L.C Group dan beberapa data dokumen selama masa L.C Group bekerja.


"Ardan, isn't I.C Group bigger and more profitable than the L.C Group project, why are you trying so hard to monitor the company's performance? (Ardan, bukankah I.C Group lebih besar dan lebih menguntungkan daripada proyek L.C Group, mengapa Anda berusaha keras untuk memantau kinerja perusahaan itu?)"ucap Denny kepada Ardan.


Ardan tak menyahuti perkataan Denny melainkan menatap jauh kedepan seolah olah tengah memikirkan sesuatu.


"Ardan? do you have a problem?" Tanya Denny yang kini membuyarkan lamunan Ardan.


"eng.. no.. I'm just tired, okay about the proposal, you bring it first, and after that I will sign it, after it's finished you give me a copy (tidak.. saya hanya lelah, oke tentang proposal, Anda membawanya dulu, dan setelah itu saya akan menandatanganinya, setelah selesai Anda memberi saya salinannya)" ucap Ardan yang kini melihat kearah Denny.


"fine, then I will go home first" sahut Denny seraya beranjak dari tempat duduknya.


"hemm Okeh" sahut Ardan yang kini juga beranjak dari tempat duduknya.


Di dalam kamar.


Arin kini merebahkan tubuhnya diatas kasur dan seraya memainkan ponselnya.


"ck... bosan sekali seperti ini"gumam Arin yang kini mengubah posisinya menjadi duduk.


Cklek...


sret...


suara pintu di buka, Arin mendongak kan wajahnya menatap kearah pintu, terlihat Ardan yang baru saja masuk dan kini tengah bersiap siap.

__ADS_1


"mas Ardan mau kekantor?" Tanya Arin sembari menatap Ardan yang kini sibuk membereskan berkas berkasnya.


"hemm iya, ada urusan sebentar di kantor" ucap Ardan kepada Arin, Arin segera turun dari kasur dan menuju ruang ganti.


Ardan yang tadi hanya sibuk melihat berkas berkasnya, kini menatap Arin yang berlalu menuju kamar ganti.


tak lama Arin kini kembali membawa beberapa baju kemeja Ardan, dan juga jas miliknya.


Arin meletakan pakaian tersebut di atas sofa yang berada di ujung tempat tidur, lalu Arin menyiapkan dasi dan juga sepatu Ardan.


Ardan hanya menatap gerak gerik Arin yang mondar mandir kesana kemari.


"sudah Arin siapkan, mas tidak perlu kesana kemari untuk cari pakaian!" Ucap Arin yang kini duduk di atas Sofa.


Ardan hanya menatap pakaian itu, dan kini beralih menatap Arin.


"kenapa mas Ardan natap Arin seperti itu?" Tanya Arin penasaran akan tatapan Ardan kepadanya.


"aneh saja, dengan umurmu yang masih kecil, kau bahkan bisa memasak atau menyiapkan seperti ini" tukas Ardan yang kini bersuara.


"ini masalah kecil, semua orang pasti bisa masak atau nyiapin yang ginian mas" sahut Arin yang kini menatap intens Ardan.


"kalau Arin boleh tau, umur mas Ardan berapa?" Tanya Arin kepada Ardan.


"pantas aja mas bilang aku kecil, mas Ardan aja yang terlalu ketuaan" timpal Arin, Ardan seketika mengerutkan alis nya dan kini beralih menatap Arin.


"emang 25 tahun itu ketuaan, nggak lah.. kamu aja yang ngerasa saya tua" sahut Ardan yang kini sibuk memasang dasinya.


Arin yang melihat Ardan sedikit kesusahan, berinisiatif membantunya Arin segera mengambil alih dasi itu dan kini memasangkannya ke leher Ardan.


Ardan terkesiap mendapati Arin yang kini berdiri dekat di hapannya, bahkan nafasnya bisa terasa.


Ardan seketika membungkuk kan sedikit tubuhnya agar Arin bisa memasangkan dasi itu tanpa harus bersusah paya.


"sudah beres" ucap Arin yang sudah selesai memasangkan dasi.


"hemm" ucap Ardan, yang kini mengubah posisinya kembali berdiri tegap, sebelum Ardan beranjak pergi, seketika Arin bersuara.


"mas Ardan? boleh Arin keluar sebentar, Arin bosan mas kalau dirumah terus!" Ucap Arin sedikit gugup.


"kalau kamu, coba...."belum sempat Ardan melanjutkan perkataannya namun tiba tiba Arin menyela.

__ADS_1


"kabur.. Arin tidak kabur mas, kalaupun mau, Arin juga mau kabur sejauh jauh mungkin biar tidak pulang kesini lagi!" Tukas Arin yang sudah terlihat kesal.


"sama Romi kalau kamu keluar" sahut Ardan lagi.


"loh.. bukannya Romi harus ikut mas Ardan kekantor?" Sahut Arin menyela.


"saya akan pergi sama agus" jawab Ardan yang kini beranjak pergi. Arin hanya menatap kepergian Ardan dan tidak bisa berbicara sepatah katapun.


***


Di sisi lain, terlihat, seorang yang tengah duduk di sebuah ruangan yang begitu besar, seraya memainkan ponselnya.


"Don kemarilah?" Panggil pria itu kepada anak buahnya yang bernama Dony.


Dony segera menghampiri pria itu dan seraya membungkuk hormat.


"bagaimana? Apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan?" tanya pria itu kepada Dony.


Dony kini menatap kearah tuannya itu dan seketika bersuara.


"sudah tuan, saya sudah melakukannya, dan saya juga telah mengirim beberapa orang seperti yang tuan perintahkan." Jawab Dony kepada Pria itu.


"bagus.. baiklah, kita tidak perlu memulainya dengan cara yang terburu buru, kita akan memulai semua ini perlahan demi perlahan" ucap pria itu yang kini tersenyum penuh arti.


"aku ingin sekali melihat dirinya menderita" timpal pria itu lagi yang kini beranjak dari tempat duduk nya dan berlalu pergi meninggalkan Dony sendirian disana.


***


Di sebuah taman belakang, Arin yang kini tengah duduk seraya menikmati sejuknya angin.


kini rasa bosan nya sudah sedikit terbayarkan, Arin menatap jauh kedepan dan seketika pikirannya kini teringat akan sosok bibi San.


Arin seketika kembali murung, dan berpikir bagaimana caranya dia bisa menemui bibi San, akan kah dirinya membawa Romi bersamanya.


jika Romi ikut bersamanya mungkin suasana disana akan terlihat sedikit berbeda.


Arin membuang napasnya dengan berat, dan kini dirinya beranjak kembali masuk kedalam rumah.


dan seraya menuju dalam kamar, namu saat dirinya tengah menaiki anak tangga.


tiba tiba dirinya di kejutkan dengan sebuah suara yang memanggilnya.

__ADS_1



__ADS_2