Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)

Terpaksa Menikahi Bos Kejam (Forced To Marry A Cruel Boss)
Ngidam


__ADS_3

mereka segera masuk kedalam sana, menikmati suasan Mall di pagi hari.


Ardan membawa Arin menuju salah satu toko terkenal di sana, toko yang memiliki barang yang bahkan harganya setara dengan gaji seorang karyawan.


Arin lagi lagi dibuat melongoh oleh Ardan.


"Mas.. kenapa kita kesini?" Tanya Arin seketika.


"kenapa?" Tanya Ardan balik.


"mas taukan disini tu... "ucap Arin mengantungkan kaliamatnya.


"Mas Ardan tempat ini terlalu mahal.." sambung Arin lagi yang kini berbisik di telinga Ardan.


"terus kenapa?" Tanya Ardan lagi.


Arin seketika menatap jengkel Ardan, yang kini menatapnya dengan wajah terlihat bingung.


"sudahlah... kita kesini untuk bersenang senangkan..." ucap Ardan.


seraya menarik lembut tangan Arin dan membawanya masuk kedalam sana, Arin menatap kagum semua barang barang yang ada disana.


saat dirinya tengah asik menatap seluruh penjuru toko itu, seketika pandangan Arin kini beralih menatap salah satu baju yang begitu menarik dilihatnya.


Ardan yang dari tadi tengah menunggu pesanannya kini beralih menatap Arin yang berada dekat di sebuah lemari kaca dengan gaun yang indah didalamnya, Ardan menghampiri dimana Arin berada.


"apa yang kamu lihat?" Tanya Ardan yang kini berada tepat di belakang Arin.


"eng...tidak" ucap Arin.


seraya berlalu mendahului Ardan, tak lama seorang pramuniaga kini memberikan paperbag kepada Ardan.


setelah dirinya menerima paperbag itu Ardan kini berlalu pergi membawa Arin menuju tempat lain, Taman Mall yang terletak di bagian loby Ardan meminta Arin untuk menunggu nya sebentar disana.


"Saya mau ambil sesuatu sebentar, kamu tunggu disini nanti saya balik lagi" ucap Ardan kepada Arin.


Arin menganggukan kepalanya dan kini beralu duduk di sebuah bangku yang tak jauh dari patung pancur.


Ardan segera berlalu menuju suatu tempat untuk mengambil sesuatu yang tertinggal disana.


Arin yang masih menikmati suasana disana tiba tiba seseorang kini datang seraya memanggil namanya.


"ternyata kau Arin?" Ucap orang itu kepada Arin yang masih duduk disana.


Arin seketikah mengalihkan pandangannya menatap orang yang kini memanggilnya.


"ck.. kenapa harus bertemu sama nenek lampir disini" batin Arin.


seraya menatap jengkel keberadaan orang tersebut yang ternyata Jesika.


"ya.. memang ya dunia ini hanya selebar daun kelor, aku juga gak tau kenapa kita saling ketemu!" Ucap Arin kepada Jesika.


"ck.. gadis miskin seperti mu, ternyata memiliki humor yang begitu besar ya, untuk datang ke tempat seperti ini, menyedihkan." ujar Jesika seraya melipat tangannya di depan dada.


"hemm lalu... kenapa? bukan kah siapapun bisa datang kemari bukan" ucap Arin yang kini beranjak dari duduknya.


dan ingin pergi dari sana, namun seketika Jesika menahan tangan Arin dan ingin melayangkan pukulan kepadanya.


namun

__ADS_1


Bruk....


sesuatu menahannya, Jesika terkesiap mendapati pukulannya di tahan seseorang, Jesika mendongak kan kepalanya menatap kearah orang itu.


DEG.....


Jesika terkejut melihat kearah orang yang kini berada di hadapannya.


"eng... Tuan muda kedua...!" Ucap Jesika kepada orang itu yang ternyata Ardan yang baru saja tiba disana.


Ardan menatap tajam kearah Jesika, dengan tangan yang masih menahan pukulan itu.


"apa yang kau lakukan?" Tanya Ardan seketika, Jesika seketika takut menatap mata itu, dan tak bisa berbicara sepatah kata pun.


"Tn muda.. senang bertemu dengan anda disini, apa Tn muda kedua sedang memantau kinerja Mall ini Tn" ucap Jesika lembut dengan senyuman di wajahnya.


"pemantauan kerja?.... di Mall?" Batin Arin bingung mendengar perkataan Jesika.


"tidak... saya tidak sedang melakukan pengecekan hari ini, saya hanya membawa istri saya jalan jalan saja" ucap Ardan seketika membuat Jesika membulatkan kedua matanya mendengar perkataan itu.


"APA?" sahut Jesika meninggikan nada suaranya tanpa sadar.


Ardan hanya mengernyitkan kedua alisnya menatap heran gadis itu.


"baiklah kalau begitu kami permisi dulu!" Timpal Ardan yang kini berjalan menuju Arin seraya menarik lembut tangan itu.


dan membawanya pergi dari sana, Jesika hanya menatap kearah perginya kedua orang itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


seorang tuan muda dari keluarga besar Azhendra menikahi gadis yang tak mempunyai segala apapun.


"Bagaimana bisa.... gadis itu..ahh" ucap Jesika seraya mengatur nafasnya.


***


tampak kandungan Arin yang kini sudah mulai terlihat membesar, di sebuah kebun yang terletak di belakang rumah Arin kini tengah asik menatap jauh salah satu pohon yaitu pohon mangga.


"mas Ardan..?" Panggil Arin yang kini menghampiri Ardan yang ternyata juga berada disana.


"hemm, kenapa?" Tanya Ardan seketika.


"mas... Arin mau makan mangga." ujar Arin kepada Ardan seraya melingkarkan tangannya di pergelangan tangan Ardan.


Ardan kini membalas tatapan Arin kepadanya dengan maksud apa


"hemm lalu?" Tanya Ardan seraya menatap Arin.


"Mas Ardan ambilin ya" pinta Arin kepada Ardan.


Ardan seketika membulatkan kedua matanya, kini menatap kearah dimana pohon itu berada.


"kok saya.. suruh Romi saja gimana?" Ujar Ardan dengan wajah masih tak percaya mendengarkan permintaan Arin kepadanya.


"nggak.. maunya mas Ardan yang ambil." pinta Arin lagi seperti anak kecil.


"eng.. tapi itu tinggi Arin..bagaimana kalau saya jatoh" ucap Ardan lagi.


"kan mas Ardan yang jatuh, ya mas ya.." rayu Arin lagi.


"saya panggilin Romi dulu." ucap Ardan seraya berpikir.

__ADS_1


Ardan kini memanggil Romi yang masih melakukan tugasnya.


"iya tuan, apa tuan perlu sesuatu?" Tanya Romi seketika, baru saja tiba di sana.


"eng.. ajarin saya manjat" ucapnya kepada Romi.


seraya menunjuk kearah pohon mangga, Romi seketika memutar tubuhnya melihat kearah yang di tunjukan oleh tuannya.


"manjat pohon mangga itu tuan?" Tanya Romi tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"iya..!! kenapa? kamu tidak bisa?" tanya Ardan kepada Romi.


"ahh tidak.. tuan saya bisa" jawabnya seraya menuju pohon.


"mas Ardan mau ngapain?" Tanya Arin seketika.


"kamu lihat aja dulu." ucap Ardan kepada Arin yang masih menempel kepadanya.


Romi kini sudah bersiap siap untuk memanjat pohon mangga itu.


"panjat saja Romi.. saya tunggu kamu" teriak Ardan kepada Romi yang kini sudah di pertengahan.


"tuan.. emangnya tuan mau apa?" Tanya Romi dari atas pohon.


namun dari dalam rumah tampak Aziah dan begitu juga suaminya kini berjalan menuju halaman belakang, melihat kearah dimana Ardan dan Arin berada.


"apa yang mereka lakukan?" Tanya Tn Hendrik yang kini menatap jauh kearah pohon.


"oh.. bukankah itu Romi!!" Ucap Tn Hendrik lagi yang kini melihat keberadaan Romi yang masih berada di atas pohon.


"apa kamu sudah sampai Rom, jika sudah.. ambil satu buah mangga yang itu di sebelah kiri" ucap Ardan kepada Romi.


"yang ini tuan?" Tanya Romi seraya memegang buah mangga itu.


"hemm iya yang itu" jawab Ardan.


Romi seketika melempar buah itu kearah bawah dan menjatuhkannya di hadapan Ardan.


"masih ada lagi tuan?" Tanya Romi yang masih berada di atas pohon.


"tidak.. kau turun lah sekarang" pinta Ardan kepada Romi.


selang beberapa lama kini Romi sudah turun dari pohon dengan selamat.


"ini sayang" ucap Ardan seraya memberikan buah mangga itu kepada Arin, Arin menerima buah mangga itu dengan wajah masih tertegun.


"mas Ardan..bukannya Arin minta mas Ardan yang ambilin kok Romi" ujar Arin cemberu, seketika tau maksud Ardan memanggil Romi barusan.


"sama aja kan.. yang penting makan buah mangga" tukas Ardan seraya mencolek hidung Arin.


"loh.. mas Ardan?" Panggil Arin kepada Ardan yang kini sudah berlalu menuju teras rumah.


seraya tertawa melihat kearah Arin.


"Loh.. bukannya Tuan ingin belajar memanjat pohon tadi?" tukas Romi seketika yang ternyata sudah berada disana.


"mas Ardan bohongin kamu." jawab Arin.


Romi kini menatap kearah Ardan dengan tatapan tak percaya, kalau tuannya itu tengah mengerjainya.

__ADS_1


Arin seketika tersenyum melihat tingkah Romi yang dibohongi Ardan, namun dari teras rumah Aziah dan Tn Hendrik juga ikut tersenyum melihat tingkah mereka bertiga.



__ADS_2